<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256</id><updated>2011-12-18T17:15:42.809+07:00</updated><category term='SMU'/><category term='bayar'/><category term='sedekah'/><category term='islam'/><category term='sekolah'/><category term='lunas'/><category term='hipnoterapi'/><category term='psikologi'/><category term='ujian'/><category term='Unas'/><category term='ilmiah'/><category term='problem solving'/><category term='masalah'/><category term='setiyo purwanto'/><category term='cara'/><category term='hutang'/><category term='skripsi'/><category term='shalat center'/><category term='khusyu'/><category term='shalat'/><category term='siswa'/><category term='abstrak'/><category term='jurnal. ilmiah'/><category term='penelitian'/><category term='psikologi islam'/><category term='tegas'/><category term='abu sangkan'/><category term='hipnotis'/><category term='halaqoh'/><title type='text'>Psikologi Islam, Transpersonal dan Psikologi Kesehatan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-2037378342408852147</id><published>2011-07-19T05:11:00.002+07:00</published><updated>2011-07-19T05:35:06.195+07:00</updated><title type='text'>suplemen MK PSi ISlam: shalat dan isra miraj</title><content type='html'>ARTIKEL INI DIMUAT DI HARIAN REPUBLIKA 30 JUNI 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah momen profetik penting dari kenabian Rasul Muhammad SAW yang dikenal dengan Isra’ Mi’raj akan kita peringati bersama. Perayaan ini akan selalu saja membawa makna sangat vital terkait dengan inti keimanan umat Islam, karena peristiwa ini nyaris selalu diidentikkan dengan ritus ibadah paling fundamental dalam dien al-Islam, yakni shalat.&lt;br /&gt;Pada peristiwa inilah perintah untuk menegakkan shalat disampaikan oleh Tuhan secara langsung kepada utusan-Nya. Peristiwa ini menjadi sangat strategis dan vital, karena tak semua bentuk peribadahan diturunkan dengan cara yang serupa ini. Shalat menduduki peringkat wujud peribadatan terpenting, di posisi kedua setelah kesaksian (asy-syahadat) dalam lima rukun atau pilar dari ke-Islam-an seorang muslim sejati.&lt;br /&gt;Makna sampingan yang tak kalah penting adalah sifat dari berlangsungnya momen ini. Isra’ Mi’raj merupakan fenomena transendental spiritualistik dalam tataran yang sangat tinggi. Dalam kacamata rasional, diperjalankannya seorang manusia dari sebuah kota Makkah (Masjidil Haram) ke kota Darussalam atau Jerusalem (Masjidl Aqsha) dalam tempo semalam dengan teknologi medium transportasi apapun pada saat itu, adalah kemustahilan. Kemustahilan ini semakin menjadi-jadi, ketika perjalanan itu berlanjut menuju langit ketujuh (sidratul muntaha).&lt;br /&gt;Dalam alam manusia yang terperangkap dalam paham rasionalisme dan empirisisme ekstrem, peristiwa ini hanya menjadi cacian dan lelucon saja. Peristiwa ini, dipandang hanya bualan dan khayalan belaka, bagi mereka yang memahami bahwa hidup hanya berdimensi materi belaka. Karena itulah, peristiwa ini juga sekaligus menjadi medium ujian keimanan bagi kaum muslim di masa peristiwa itu berlangsung. Pada masa Nabi Muhammad SAW hidup, peristiwa ini menimbulkan heboh yang menggemparkan di jazirah Arabia. Sejumlah pemeluk Islam awal bahkan tanpa ragu menafikan kebenaran peristiwa ini. Sejumlah pemeluk Islam awal ini pun murtad karena terpicu peristiwa yang dinilai tidak rasional, tidak empiris, dan imajiner atau khayalan belaka.&lt;br /&gt;Pada peristiwa ini tertegaskan pula bahwa sifat agama senantiasa melampaui sifat-sifat material. Keimanan dan keyakinan dengan hati (spiritual) menjadi instrumen penting. Keberadaan kaum murtadin yang muncul setelah peritiwa ini, menandakan bahwa keimanan yang berdimensi spiritualistic dan transendental merupakan komponen penting dalam memahami suatu eksistensi agama. Sosok sahabat nabi, Abu Bakar Ash-Shidiq, dalam hal ini telah meneladankan contoh kualitas keimanan transendental yang sempurna. Abu Bakar selalu menyatakan, tak ada kebohongan dari Nabi Muhammad SAW, termasuk dalam peristiwa ini.&lt;br /&gt;Meneladani sifat dan sikap Abu Bakar dalam memandang suprarasionalitas dan dimensi supranaturalitas peristiwa Isra’ Mi’raj adalah bentuk wujud keimanan yang selayaknya juga dimiliki oleh kaum muslimin. Karena, peneguhan imanlah, yang menjadi target utama dari peristiwa ini. Iman itu pulalah yang menjadi isu utama dari turunnya perintah shalat yang turun atau disampaikan oleh Tuhan melalui peristiwa ini.&lt;br /&gt;Esensi Shalat&lt;br /&gt;Shalat yang diturunkan melalui peristiwa ini adalah media revolusioner yang diciptakan oleh Tuhan dengan banyak hikmah dan manfaat bagi kaum muslimin. Shalat adalah satu-satunya wahana peribadahan yang memungkinkan seorang hamba berkoneksi dengan Tuhannya secara langsung (divine connectedness). Dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an, karya mujahid besar dunia Islam asal Mesir, Sayyid Quthb, shalat dijelaskan sebagai ash-shilatun wal liqa’un baina abdi wa rabbi. Shalat adalah koneksi (ash-shilatun) dan perjumpaan (al-liqa’un) antara hamba dan Tuhannya. Metode ibadah yang sejenis ini adalah sejenis bentuk ibadah yang sangat revolusioner, karena memungkinkan seorang manusia berkoneksi secara langsung dengan Rabb-nya. Ini tentu adalah suatu revolusi spiritual besar yang pernah terjadi dalam sejarah agama-agama dunia, karena Islam tidak pernah mengenal adanya parokialisme atau sistem kependetaan. Shalat yang diturunkan melalui peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi revolusi terfenomenal dalam pola hubungan antara tuhan dan manusia.&lt;br /&gt;Ibadah shalat dalam makna hakiki adalah terjadinya atau berlangsungnya suatu komunikasi intens antara hamba dan Tuhannya. Lantaran atas utama dan tingginya posisi shalat, maka bisa dipahami bila proses turunnya perintah inipun melalui cara yang luar biasa istimewa, yakni melalui petriswa isra’ (perjalanan) dan mi’raj (penaikan) kepada Tuhan, Tuhan Alam Semesta.&lt;br /&gt;Kedudukan istimewa shalat juga karena muatan dalam bentuk ibadah ini yang merangkum dimensi fisik/eksoteris dan spiritual/esoteris. Dalam shalat, tentu ada dimensi eksoteris yang meliputi tata cara gerak tubuh dan bacaan. Namun, yang tak kalah penting adalah bahwa ada dimensi esoteris dalam shalat yang meliputi makna bacaan, makna gerakan, afirmasi bacaan, afirmasi gerakan, manifestasi penyembahan, serta kesyukuran. Pelaksanaan shalat dengan paradigma yang merangkum dimensi eksoteris dan esoteris tentu akan menjadi bentuk shalat yang sempurna. Kesempurnaan shalat ini akan menghindarkan kaum muslim dari tindak tercela, keji, dan destruktif serta akan mengantarkan kaum muslim menjadi pribadi yang mulia dan terpuji sebagaimana tujuan dari shalat itu sendiri.&lt;br /&gt;Up-grade Shalat&lt;br /&gt;Melihat keistimewaan dan begitu utamanya kedudukan shalat dalam Islam —sedangkan fungsi profetis Rasulullah Muhammad SAW adalah untuk memperbaiki akhlak atau karakter— logis dan mudah dipahami (understandable) bila sebenarnya shalat memegang peran menentukan dalam membentuk karakter umat Islam secara kolektif. Siapapaun orang yang berakal sehat dan berhati jernih pasti akan selalu mempertanyakan tentang esensi peribadatan shalat yang dalam khitah atau cetak birunya memiliki peluang mengantar seorang muslim pada perilaku mulia dan terpuji serta mencegahkan diri dari tindak keji dan jahat, namun potret masyarakat muslim justru menampilkan karakteristik yang sebaliknya.&lt;br /&gt;Fenomena dan potret buruk karakter ini bila dikaitkan dengan praktik shalat, terjadi karena makna ibadah yang tereduksi hanya pada dimensi syariah (syariah minded). Shalat yang reduksif seperti ini bisa dipahami bila tidak memberikan efek psikologis dan behavioral kepada pelakunya. Bila shalat sejenis ini dijalankan, tidak akan mampu memberikan pengaruh positif dan perbaikan karakter atau akhlak. Individu muslim yang masih getol berbuat koruptif, bisa dipastikan pemahaman dan praktik shalatnya masih reduktif: belum melangkah lebih maju pada kedalaman dimensi eksoterik shalat.&lt;br /&gt;Karena itulah, sebuah kritik mesti ditujukan kepada perilaku sosial dalam bentuk ibadah yang serba eksoteris ini. Kaum muslim sudah semestinya untuk sesegera mungkin meng-up-grade menuju pemahaman yang lebih esoteris dalam tata cara ibadah shalatnya. Al-Qur’an menegaskan bahwa salah satu indikator keimanan seorang muslim adalah bila seorang muslim itu dalam praktik shalatnya khusyuk (Q.S. Al-Mukminun; 1-2). Shalat secara khusyuk ini hanya bisa dilakukan bila seseorang memahami dua ranah dalam shalat, dari ranah syariah (esoteris) sampai hakikah (esoteris).&lt;br /&gt;Kini, demi peningkatan karakter kaum muslimin, maka pemahaman ranah esoteris sudah seharusnya mulai diperdalam dan diperhatikan. Aspek esoteris ini mampu merangkum hingga pada makna (meaningfulness) afirmatif bacaan, gerakan tubuh, hingga makna simbolis dari shalat sebagai manifestasi kesyukuran dan penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dengan pemahaman holistik pada seluruh dimensi dalam ibadah shalat, niscaya pembangunan karakter yang mulia akan lebih mudah terbentuk dalam masyarakat muslim secara luas. Karena ibadah shalat memang, sejak dari khiththah dilahirkannya, adalah untuk menciptakan manusia yang berkarakter. Atau lebih tepatnya, karakter mulia (akhlaqul karimah) yang saat ini sungguh sangat langka di dalam kehidupan bermasyarakat kita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-2037378342408852147?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/2037378342408852147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=2037378342408852147&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/2037378342408852147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/2037378342408852147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2011/07/suplemen-mk-psi-islam-shalat-dan-isra.html' title='suplemen MK PSi ISlam: shalat dan isra miraj'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-2077842976648401756</id><published>2011-02-16T22:37:00.000+07:00</published><updated>2011-02-16T22:38:27.809+07:00</updated><title type='text'>7 manfaat Blog</title><content type='html'>7 MANFAAT BLOG BAGI PENULIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seri Artikel Blogging &amp; Publishing&lt;br /&gt;Saya ingin menekankan kembali betapa media blog ini punya banyak manfaat bagi penulis, atau siapa saja yang sedang belajar menulis. Bagi saya, blog sebenarnya punya karakteristik yang hampir sama dengan website biasa seperti Pembelajar.com atau beragam website lainnya. Bedanya hanya sedikit, yaitu pada kemudahan pembuatannya, pengelolaannya, template yang tersedia, serta sifat gratisan namun dengan menu-menu pendukung yang berlimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik, dari pengamatan saya, ada sejumlah manfaat blog bagi penulis atau siapa pun yang sedang mengembangkan kemampuan menulisnya. Berikut di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, blog menjadi sarana publikasi tulisan yang termudah sekaligus strategis. Kita sudah pada tahu, salah satu masalah utama yang dialami kebanyakan penulis-terlebih lagi penulis pemula-adalah soal wadah publikasi. Media massa umum seperti koran, tabloid, majalah, jurnal, sering kali terbatas ruangnya dan mematok standar kualitas tulisan tertentu. Setiap hari, ribuan tulisan masuk ke meja redaksi berbagai media massa, tapi hanya sedikit saja yang bisa dimuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, selain sejumlah website yang menerima kontribusi tulisan dari luar, blog bisa jadi solusi bagi tulisan-tulisan yang tidak tertampung itu. Manakala tulisan ditampilkan di blog, aslinya tulisan itu sudah punya “nyawa” dan mendatangkan pengaruh. Hanya tulisan yang dipublikasikan saja yang punya nyawa dan pengaruh kepada pembacanya. Blog bisa menjadi alat untuk menghidupkan tulisan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa strategisnya memublikasikan tulisan di blog?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai strategisnya sedikit berbeda dengan media offline macam surat kabar. Tulisan yang dimuat di surat kabar belum tentu bisa diakses melalui internet, kalau surat kabar tersebut tidak online. Tulisan di blog jelas online, dan pada tingkatan tertentu, tulisan tersebut mudah diakses melalui search engine. Jejak di search engine inilah yang punya nilai startegis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tulisan di blog mudah sekali dikomentari dan feedback ini banyak manfaatnya. Asal menu komentar tidak ditutup, maka siapa pun yang membaca tulisan kita bisa berkomentar apa saja di sana. Memang, untuk blog yang aktif serta sering dikunjungi, komentar mudah sekali didapat dan jumlahnya bisa banyak sekali. Sementara, blog yang kurang aktif, jarang ditaut (di-link), dan jarang dikunjungi biasanya juga tidak banyak komentarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang belum sepenuhnya aware dengan peran komentar atau feedback tulisan ini. Bagi penulis, komentar atas tulisan sungguh merupakan alat uji bagi tulisan itu sendiri. Positif atau negatif komentarnya, itu semua bisa menjadi bahan perbaikan tulisan atau bagian dari proses pembelajaran penulisnya. Bahkan, banyak sekali ide-ide baru yang bisa dielaborasi dan dieksplorasi dari lalu lintas komentar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, blog bisa menjadi alat penumbuh kebiasaan dan keteraturan menulis. Bagaimanapun, setelah punya blog biasanya kita akan terdorong untuk terus mengisinya dengan berbagai bentuk tulisan. Terlebih bila tulisan-tulisan kita mendapatkan sambutan atau aneka komentar dari para pengunjung. Ini akan memotivasi kita untuk rajin mem-posting tulisan. Bagi mereka yang sedang belajar menulis, komentar atau tanggapan blogger (penulis blog) lain ini akan sangat besar artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk para blogger yang sudah memiliki jaringan luas serta setiap tulisannnya dinantikan, pastilah ada semacam dorongan untuk terus mengisi blog-nya. Tulisan-tulisan terbaru para blogger yang sudah cukup bergaung namanya atau terkenal biasanya juga selalu dinantikan. Bila mereka mulai mengendor atau jarang meng-update blog, pasti ada keluhan dari para pengunjung setia. Jika ini keterusan, pengunjung bisa menurun dan akan kurang menguntungkan si blogger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, menulis di blog secara rutin juga berdampak pada kemampuan kita dalam menuangkan gagasan. Makin sering menulis di blog, rasanya akan semakin mudah pula mengeluarkan ide-ide dalam bentuk tulisan. Ini sama persis dengan kegiatan menulis diari sehari-hari. Semakin sering kita mengisi diari, semakin mudah dan lancar pula kita menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, blog bisa menjadi ajang ekspresi yang bebas hambatan sama sekali. Ini memungkinkan tulisan-tulisan yang dalam kacamata umum mungkin dianggap kurang pantas, terlalu absurd, atau melanggar aturan-aturan tertentu, di blog malah mendapatkan saluran seluas-luasnya. Blog bisa menjadi saluran gagasan-gagasan alternatif, bahkan yang paling ekstrim sekalipun. Ini yang tidak mungkin diwadahi oleh media konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat blog yang bisa diisi oleh siapa pun, dengan jenis tulisan apa pun, serta dengan segala tingkatan kemampuan menulis, membuatnya menjadi ajang ekspresi intelektual yang sangat konstruktif. Sumirnya batas-batas tersebut (karena penulis sendirilah yang menetapkan batasannya) bisa merangsang blogger menuliskan apa saja serta menambahkan keberanian dalam berekspresi. Nah, sisi keberanian berekspresi inilah yang bisa mendongkrak kemampuan menulis seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, blog adalah tempat kita untuk menabung tulisan. Satu demi satu kita isi blogblog kita akan penuh juga. Bagus sekali bila mayoritas tulisan yang kita tampilkan di blog adalah karya sendiri. Terlebih bila blog dengan beragam tulisan, maka lama kelamaan memang kita jadikan sebagai sarana untuk berlatih menulis dan menampung tulisan-tulisan karya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saatnya nanti, tulisan-tulisan di blog bisa kita oleh menjadi karya lainnya, buku misalnya. Kalau tulisan sudah terkumpul dan temanya memiliki benang merah tertentu, serta dari sisi kualitas memang memenuhi syarat untuk dibukukan, mengapa tidak dibukukan? Potensi inilah yang tampaknya belum banyak dilirik oleh para blogger. Saya termasuk yang sedang mendorong-dorong para blogger supaya ngeh dengan potensi blog untuk dibukukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, blog bisa berfungsi sebagai media personal branding. Blog bisa menjadi ajang unjuk ide, pikiran, karya, tulisan, serta pencitraan. Lima tahun yang lalu mungkin Anda tidak mengenal siapa itu Enda Nasution, Priyadi, Fatih Syuhud, Jennie S. Bev, dan para blogger kenamaan saat ini. Kalaupun sudah mengenalnya, mungkin hanya sayup-sayup belaka. Tapi, berkat kiprah mereka di dunia maya melalui blog, mereka kini dikenal menjadi orang-orang beken di dunia blog Tanah Air. Itu artinya, mereka berhasil membangun merek diri melalui blog. Tinggal pemanfaatan ekuitas mereknya saja akan seperti apa nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog bisa membuat seorang penulis yang “bukan siapa-siapa” menjadi penulis yang bisa “dikenal oleh siapa saja”. Interkoneksi antara blog dengan mesin pencari dan kebutuhan akan data oleh pengguna internet, ternyata telah menciptakan situasi kesalingterhubungan alias saling kenal. Terpaut dengan segala aktivitas maya lainnya, maka situasi itulah yang akhirnya bisa memupuk brand seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber &lt;br /&gt;http://teenageworld.wordpress.com/2008/03/14/manfaat-blog-bagi-dunia-pendidikan/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-2077842976648401756?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/2077842976648401756/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=2077842976648401756&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/2077842976648401756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/2077842976648401756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2011/02/7-manfaat-blog.html' title='7 manfaat Blog'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-1111165447350210456</id><published>2010-04-22T12:15:00.001+07:00</published><updated>2010-04-22T13:06:16.605+07:00</updated><title type='text'>PENGARUH PELATIHAN KEPERCAYAAN DIRI  MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS TERHADAP  KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS X MENGHADAPI UJIAN SEMESTER (5)</title><content type='html'>BAB V&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Kesimpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan data yang diperoleh dan hasil analisis data penelitian serta  pembahasan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Perbedaan nilai rata-rata atau mean antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol tidak signifikan karena p &gt; 0,05 atau dapat diartikan tidak ada perbedaan nilai rata-rata kepercayaan diri kelompok eksperimen  dengan kelompok kontrol. &lt;br /&gt;2. Ada perbedaan nilai rata-rata antara pre test dengan post test pada kelompok kontrol yang signifikan namun bila dilihat dari rata-rata antara skor pre test dengan skor post test dapat diartikan setelah perlakuan pada kelompok kontrol mengalami penurunan kepercayaan diri. &lt;br /&gt;3. Ada perbedaan nilai rata-rata antara pre test dengan post test pada kelompok eksperimen yang sangat signifikan namun bila dilihat dari rata-rata antara skor pre test dengan skor post test dapat diartikan subyek pada kelompok eksperimen mengalami kenaikan skor kepercayaan diri setelah adanya perlakuan. Artinya mendukung hipotesis yang diajukan untuk diterima&lt;br /&gt;4. Ada perbedaan nilai rata-rata post test antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol  yang sangat signifikan, dimana kelompok eksperimen mempunyai nilai rata-rata yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol.&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis  berpengaruh kepercayaan diri siswa kelas X dalam menghadapi ujian semester.  Oleh karena itu disarankan:&lt;br /&gt;1. Kepada siswa kelas X SMA Negeri I karanganyar&lt;br /&gt;Berdasarkan data penelitian yang diperoleh, dapat diketahui bahwa pelatihan kepercayaan dir menggnakan metode hipnosis dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa, sehingga diharapkan siswa-siswi mau mengikuti pelatihan kepercayaan diri menggunakan  metode hipnosis tersebut untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi ujian semester.&lt;br /&gt;2. Bagi Pendidik (kepala sekolah ataupun guru)&lt;br /&gt;Kegiatan pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis ini telah terbukti dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi ujian semester. Oleh karena itu kepala sekolah ataupn guru ataupun lembaga pendidikan sebagai pihak yang memiliki peranana penting bagi kelancaran siswa dalam menghadapi ujian semester salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan (melalui pendekatan sumber daya manusia dengan menggunakan) metode pelatihan, salah satunya adalah pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hypnosis.&lt;br /&gt;3. Bagi Masyarakat&lt;br /&gt;Kegiatan pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis ini telah terbukti dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi ujian semester oleh karena itu bagi masyarakat umum diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran tentang usaha-usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia salah satunya terhadap kepercayaan diri dengan menggunakan metode hipnosis.&lt;br /&gt;4. Bagi peneliti selanjutnya&lt;br /&gt;Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema ini, diharapkan dapat mengungkap lebih dalam lagi mengenai penyebab kepercayaan diri yang dialami subyek penelitian, dan memperhatikan kontrol terhadap variabel penelitian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-1111165447350210456?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/1111165447350210456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=1111165447350210456&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/1111165447350210456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/1111165447350210456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2010/04/pengaruh-pelatihan-kepercayaan-diri_8777.html' title='PENGARUH PELATIHAN KEPERCAYAAN DIRI  MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS TERHADAP  KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS X MENGHADAPI UJIAN SEMESTER (5)'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-753390916679977482</id><published>2010-04-22T12:11:00.001+07:00</published><updated>2010-04-22T12:15:24.776+07:00</updated><title type='text'>PENGARUH PELATIHAN KEPERCAYAAN DIRI  MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS TERHADAP  KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS X MENGHADAPI UJIAN SEMESTER (4)</title><content type='html'>BAB IV&lt;br /&gt;LAPORAN PENELITIAN&lt;br /&gt;Bayu W&lt;br /&gt;Setiyo Purwanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Persiapan Penelitian&lt;br /&gt;Tahap persiapan penelitian merupakan tahap yang dilakukan sebelum pelaksanaan penelitian, adapun tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Orientasi kancah penelitian&lt;br /&gt;Salah satu tahap yang harus dilalui sebelum penelitian dilaksanakan adalah perlunya memahami kancah atau tempat penelitian dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkenaan dengan jalannya penelitian. Pada penelitan ini sekolah yang menjadi tempat penelitian, yaitu Sekolah Menengah Atas Negeri I Karanganyar, yang bertempat di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten karanganyar, Jawa Tengah. Sedangkan subjek penelitian yang digunakan adalah kelas X. Alasan penulis memilih sekolah tersebut karena sekolah ini adalah sekolah yang pertama kali di Karanganyar yang mempunyai standar internasional yang baru dilaksanakan pada tahun ajaran 2009. Dengan demikian peneliti berharap untuk mendapatkan subjek siswa di SMA N I Karangayar. Orientasi awal dilakukan pada awal bulan November 2009, dengan menanyakan kepada pihak sekolah tentang prosedur yang harus dilalui untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut.&lt;br /&gt;Pada sekolah ini siswa kelas X adalah siswa yang baru pertama kali diberikan kurikulum dengan sekolah bertaraf internasional (SBI). Dimana siswa tersebut tidak mengetahui jenis soal ujian semester pada sekolah yang bertaraf internasional, sehingga dapat mempengaruhi kepercayaan diri siswa dalam menghadapi ujian semester. Sekolah ini mempunyai visi “ Berbasis Teknologi, Unggul dalam Prestasi, Luhur dalam Budi Pekerti dan Berwawasan Internasional”. Misi sekolah menengah atas negeri satu karanganyar ini adalah :&lt;br /&gt;1. Menyelenggarakan pelayanan sekolah yang berbasis Teknologi Informasi&lt;br /&gt;2.  Meningkatkan prestasi akademik dan non akademik sesuai dengan bakat, minat dan potensi siswa sesuai dengan tuntutan era globalisasi&lt;br /&gt;3.  Membentuk karakter siswa beriman, bertaqwa, berbudi luhur sesuai dengan agama dan nilai-nilai budaya daerah&lt;br /&gt;4. Mewujudkan rasa kebersamaan, kerukunan, kekeluargaan yang harmonis serta saling menghormati intern dan antar warga sekolah dengan masyarakat.&lt;br /&gt;5. Menjalin hubungan dengan sekolah bertaraf internasional dalam negeri maupun luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Persiapan pengumpulan data&lt;br /&gt;Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kepercayaan diri. Skala kepercayaan diri digunakan sebagai pengumpulan data sebelum perlakuan diberikan (pre-test) dan setelah perlakuan diberikan (post-test).&lt;br /&gt;a. Skala Kepercayaan Diri&lt;br /&gt;Skala yang digunakan dalam penelitian ini disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Anthony (1992) yaitu rasa aman, ambisi normal, yakin akan kemampuan diri, mandiri, tidak mementingkan diri sendiri atau toleransi, dan optimis. Terdiri dari 25 aitem favorable dan 25 aitem non favorable.&lt;br /&gt;Skala yang diberikan pada subjek penelitian ini menggunakan skala Likert yang telah dimodifikasi menjadi empat alternatif jawaban. Modifikasi skala Likert meniadakan kategori jawaban yang di tengah, berdasarkan tiga alasan. Pertama, kategori undecided itu mempunyai arti ganda, bisa diartikan belum mempunyai jawaban atau keputusan, bisa juga diartikan netral yaitu setuju pun tidak, tidak setuju pun tidak, atau ragu-ragu. Kategori jawaban arti ganda (multi interpretable) ini tentu tidak diharapkan dalam suatu instrument. Kedua, tersedianya yang di tengah ini menimbulkan kecenderungan jawaban, ke tengah (central tendency effect) terutama bagi mereka yang ragu-ragu atas kecenderungan jawaban, ke arah setuju ataukah tidak setuju. Ketiga, maksud kategori SS-S-TS-STS adalah terutama untuk melihat kecenderungan pendapat responden, ke arah setuju atau tidak setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tabel 2&lt;br /&gt;Blue Print Skala Kepercayaan Diri&lt;br /&gt;Sebelum Uji Coba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Nomor Aitem Jumlah&lt;br /&gt; Favorable Unfavorable &lt;br /&gt;Perasaan aman 2, 5, 31, 45 13, 22, 29, 35 8&lt;br /&gt;Ambisi normal 1, 21, 23, 32 6, 26, 36, 46 8&lt;br /&gt;Yakin akan kemampuan diri 7,18, 33, 34, 38 17, 24, 30, 40, 50 10&lt;br /&gt;Mandiri 16, 25, 27, 44 3, 8, 43, 47  8&lt;br /&gt;Toleransi 10, 11, 28, 42 14, 20, 48, 49 8&lt;br /&gt;Optimis 9, 19, 37, 39 4, 12, 15, 41  8&lt;br /&gt;Jumlah 25 25 50&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pelaksanaan uji coba&lt;br /&gt;Setelah angket tersusun dan telah ditentukan skoringnya selanjutnya dikonsultasikan kepada dosen pembimbing, kemudian berdasarkan izin dari dosen pembimbing dan kepala sekolah  maka uji coba dilaksanakan pada tanggal 23 November 2009 dengan subjek yang berjumlah 47 orang dari dua kelas yaitu kelas X2 dan X3. Uji coba angket digunakan untuk mendapatkan data yang digunakan untuk menguji validitas dan reliabilitas aitem pada angket kepercayaan diri. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling yaitu masing-masing kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk dijadikan sampel penelitian, oleh karena itu digunakan cara pengundian, dengan terlebih dahulu mengidentifikasi kelas-kelas untuk didaftar sebagai anggota populasi yang kemudian menulisnya di kertas lalu dikocok kemudian diambil dua kertas. Adapun kelas yang terpilih untuk menjadi subjek untuk uji coba (try out) adalah kelas X2 dan X3. alat pengumpul data menggunakan angket kepercayaan diri. Dari 50 angket yang disebar dapat terkumpul 47 angket, 3 angket yang lain tidak diisi oleh siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pelaksanaan Skoring&lt;br /&gt;Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah memberikan skor untuk keperluan analisis data. skor untuk masing-masing skala bergerak dari satu sampai empat dengan memperhatikan sifat aitem favorable (mendukung) dan unfavorable (tidak mendukng). Skor tertinggi dari masing-masing  aitem adalah empat, sedangkan nialai tererndah adalah satu, kemudian skor yang diperoleh masing-masing subjek penelitian ini dipakai dalam perhitungan validitas dan reliabilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Perhitungan Validitas dan Reliabilitas&lt;br /&gt;Perhitungan mengenai validitas dan reliabilitas alat ukur yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan program SPSS (Statistical Product and Sevice Solution) for windows versi 15.&lt;br /&gt;Parameter indeks daya beda item, yang diperoleh melalui korelasi antar skor masing-masing item dengan skor total, sehingga dapat ditentukan item-item yang layak dan yang tidak layak untuk dimasukkan dalam skala penelitian. Seleksi  atau dasar pengambilan keputusan aitem yang valid dengan cara membandingkan nilai r hitung dengan nilai r tabel pada taraf signifikansi 5%. Hadi (2000) membatasi aitem yang memiliki indeks korelasi diatas 0,20 dianggap sahih (memuaskan) dan item-item dibawah 0,20 dianggap gugur (tidak memuaskan). Dalam penelitian ini peneliti membatasi bahwa item-item dianggap memuaskan bila rxy lebih dari 0,294. nilai tersebut diperoleh dengan cara, df= jumlah kasus/subjek yang digunakan untuk uji coba dengan jumlah 47 dikurangi 2 = 45 dan tingkat signifikansi sebesar 5%, sehingga r tabel yang diperoleh adalah 0,294. Jika nilai corrected item-total correlation pada hasil analisis positif dan lebih tinggi dari 0,294 maka item dinyatakan valid, sebaliknya jika nilai corrected item-total correlation pada hasil analisis negatif dan lebih kecil dari 0,294 maka item dinyatakan tidak valid.&lt;br /&gt;Dari uji validitas angket atau skala kepercayaan diri menunjukkan dari 50 item yang diuji cobakan terdapat 35 item yang valid dan 15 item yang dinyatakan gugur yaitu item nomer 1, 9, 13, 14, 19, 25, 33, 35, 36, 38, 40, 41, 42, 43, 47. Item yang valid mempunyai koefisien validitas (corrected item-total correlation) bergerak dari 0,339-0,764 dengan koefisien reliabilitas alat ukur (alpha) sebesar 0,911. susunanitem angket kepercayaan diri yang valid dan gugur dapat dilihat pada tabel 3.&lt;br /&gt;TABEL 3&lt;br /&gt;Nomer Item Angket Kepercayaan Diri&lt;br /&gt;Yang Valid dan Gugur&lt;br /&gt;Aspek Nomor Aitem Jumlah&lt;br /&gt; Valid  Gugur  &lt;br /&gt;Perasaan aman 2, 5, 22, 29, 31, 45 13, 35 8&lt;br /&gt;Ambisi normal 6, 21, 23, 26, 32, 46 1, 36 8&lt;br /&gt;Yakin akan kemampuan diri 7, 17, 18, 24, 30, 34, 50 33, 38, 50 10&lt;br /&gt;Mandiri 3, 8, 16, 27, 44 25, 43, 47  8&lt;br /&gt;Toleransi 10, 11, 20, 28, 48, 49  14, 42 8&lt;br /&gt;Optimis 4, 12, 15, 37, 39 9, 19, 41  8&lt;br /&gt;Jumlah 35 15 50&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Penyususnan Angket Setelah Uji Coba&lt;br /&gt;Setelah diadakan try out angket kepercayaan diri, dari 50 item diperoleh 35 item yang berkorelasi signifikan dan 15 item yang dinyatakan tidak berkorelasi signifikan, maka item-item yang dianggap tidak memenuhi syarat tidak digunakan atau dibuang.&lt;br /&gt;Langkah selanjutnya adalah penyusunan angket baru berdasarkan item-item yang memenuhi syarat dan telah diketahi tingkat reliabilitasnya. Adapun susunan angket baru tersebut adalah seperti pada tabel 4 berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4&lt;br /&gt;Blue Print Skala Kepercayaan Diri&lt;br /&gt;Setelah Uji Coba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Nomor Aitem Jumlah&lt;br /&gt; Favorable Unfavorable &lt;br /&gt;Perasaan aman 1(2), 4(5), 25(31), 31(45) 17(22), 23(29) 6&lt;br /&gt;Ambisi normal 16(21),18(23), 26(32) 5 (6), 20(26), 32(46) 6&lt;br /&gt;Yakin akan kemampuan diri 6(7), 14(18), 27(34) 13(17), 19(24), 24(30), 35(50) 7&lt;br /&gt;Mandiri 12(16), 21(27), 30(44) 2(3), 7(8) 5&lt;br /&gt;Toleransi 8(10), 9(11), 22(28) 15(20), 33(48), 34(49) 6&lt;br /&gt;Optimis 28(37), 29(39) 3(4), 10(12), 11(15)  5&lt;br /&gt;Jumlah 18 17 35&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;Nomer item dalam tanda kurung adalah nomer item sebelum uji coba&lt;br /&gt;Nomer item tanpa tanda kurung adalah nomer item untuk penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pelaksanaan Penelitian&lt;br /&gt;1. Penentuan Subjek Penelitian&lt;br /&gt;Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA N I Karanganyar. Dalam penelitian ini masing-masing kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk dijadikan sampel penelitian, oleh karena itu digunakan cara pengundian, dengan terlebih dahulu mengidentifikasi kelas-kelas untuk didaftar sebagai anggota populasi dan kemudian mengundinya atau biasa disebut cluster random sampling.&lt;br /&gt;Adapun proses penentuan subjek adalah sebagai berikut : jumlah kelas secara keselruhan pada kelas X ada 9 kelas mulai kelas X1 hingga X9, namun kelas X2 dan X3 sudah digunakan sebagai subjek uji coba sehingga masih tersisa tujuh kelas. Sisa kelas dari uji coba itu diundi untuk mengambil dua kelas dimana salah satu kelas akan menjadi kelompok eksperimen dan kelas yang lain menadi kelompok kontrol, dari hasil pengundian kelas yang terpilih sebagai kelompok eksperimen adalah kelas X5, sedangkan yang menjadi kelompok kontrol adalah kelas X4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pelaksanaan Pelatihan&lt;br /&gt;a. Kelompok Eksperimen&lt;br /&gt;Pelaksanaan pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis dilaksanakan di ruang kelas X5 Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri I Karanganyar pada tanggal 30 November 2009. Pelaksanaan dimulai mulai pukul 08.00 WIB-12.40 WIB.  Pertama, peneliti memperkenalkan  diri dan memberikan ice breaking berupa permainan konsentrasi selama kurang lebih 30 menit. Ice breaking diberikan agar mencairkan suasana dan menjalin keakraban antara peserta dengan peneliti. Selanjutnya, peserta diberikan lembar persetujuan untuk mengikuti proses penelitian dan pelatihan untuk diisi. Setelah itu peserta mengisi daftar riwayat kesehatan yang berfungsi untuk mengetahui kesehatan siswa agar jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama proses pelatihan, peneliti dapat menanggulanginya lebih cepat.&lt;br /&gt;Partisipan penelitian kelompok eksperimen berjumlah 34 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Adapun nama-nama partisipan dapat dilihat pada lampiran K.&lt;br /&gt; Mulai pukul 08.30 WIB sampai pukul 09.00 WIB siswa mengisi angket kepercayaan diri yang digunakan sebagai data awal penelitian (pre-test). Setelah peserta mengisi angket kepercayaan diri untuk pre-test, peneliti mengenalkan trainer  pelatihan dan kegiatan berikutnya dipandu oleh trainer. Trainer dalam pelatihan ini adalah Hendri Harjanto, CH,CI, NLP. Beliau adalah seorang hipnoterapis asal Yogyakarta berlisensi dari Indonesian Board of Hipnoterapi (IBH) dan paraktisi NLP. Trainer menjelaskan mengenai hipnosis terlebih dahulu yang  disebut juga teknik pre induksi  agar peserta tidak merasa takut ketika dihipnosis dan melakukan uji sugestibilitas dahulu menggunakan teknik Arm Rising and falling test. Teknik Arm Rising and falling test adalah teknik uji sugetibiltas dalam hipnosis, dimana subjek duduk sambil memejamkan mata dengan kedua tangan kedepan lalu siswa diminta untuk membayangkan atau mengimajinasikan bahwa di tangan kanan diikatkan seratus balon gas yang menarik tangan kanannya ke atas dan di tangan kiri di berikan beban batu bata seberat 100 kilogram yang menekan tangan kirinya kebawah. Test atau uji sugestibilitas ini digunakan untuk mengetahui apakah mereka sugestif atau tidak. Dari hasil observasi seluruh peserta merupakan orang yang sugestif yang ditunjukkan dengan gerakan tangan seluruh subjek tangan kanan ke atas dan tangan kiri ke bawah sehingga sangat membantu terahadap proses hipnosis. Setelah dilakukan uji sugestibilitas, trainer melanjutkan kedalam proses induksi menggunakan teknik relaksasi atau kelelahan pada sistem syaraf. Teknik ini dalah teknik yang digunakan untuk membuat subjek menjadi tidur hipnotik dengan cara subyek diminta untuk berimajinasi dan merasakan  bahwa seluruh tubuh subyek terasa lelah dan subyek diminta untuk merilekskan seluruh otot-otot tubuh subyek mulai dari kepala sampai ke ujung kaki setelah itu subyek diminta untuk tidur. Proses selanjutnya adalah deepening. Proses ini berfungsi untuk membawa subyek untuk tidur lebih dalam sehingga subyek masuk dalam kondisi alpha atau theta. Setelah itu masuk dalam proses sugesti dimana subyek diberikan avirmasi atau kata-kata sugesti yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam menghadapi ujian semester dan diberikan anchor  atau kunci dimana subyek ketika menggenggam ibu jari tangan kirinya maka subyek akan merasa percaya diri. Selanjutnya pada tahap akhir subyek dibangunkan atau proses awakening dari tidur hipnosisnya. &lt;br /&gt;Setelah proses awakening dilakukan trainer dan peneliti mengevaluasi apakah anchor  yang diberikan sudah berpengaruh atau belum, dengan cara subyek diminta untuk menggenggam ibu jari tangan kirinya, lalu subyek yang tidak merasakan kepercayaan dirinya bertambah ketika menggenggam ibu jari tangan kirinya diminta tunjuk tangan. Dari hasil observasi seluruh subyek merasakan kepercayaan dirinya meningkat setelah menggenggam ibu jari tangan kirinya yang ditunjukkan bahwa tidak ada subyek yang tunjuk tangan. Setelah evaluasi dilakukan pada pukul 12.15 WIB subyek diminta untuk mengisi angket kepercayaan diri yang digunakan sebaagai data pembanding (post-test).&lt;br /&gt;b. Kelompok Kontrol&lt;br /&gt;Kelompok kontrol adalah kelompok pembanding untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan setelah diberikan perlakuan pada kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol ini diberikan placebo ata percobaan bias dengan cara sharing with alumni. Namun sebelum diberikan perlakuan plasebo subyek mengisi angket kepercayaan diri, setelah diberikan perlakuan plasebo tersebut subyek mengisi lagi angket kepercayaan diri. Pada kegiatan sharing ini subyek diberikan cerita mengenai perjalanan hidup bapak Hendri Harjanto, SE, CH, CI, NLP dalam merintis usaha roti bakar kuah dan cara merintis Event Organizer yang beliau miliki. Kegiatan dimulai pukul 13.00 WIB – 14.00 WIB. &lt;br /&gt;Pengambilan data pada kelompok kontrol dilaksanakan di ruang kelas X4 SMA Negeri I Karanganyar. Ruangan yang digunakan memakai kursi dan meja agar partisipan lebih santai dalam mendengar dan menyimak. Kegiatan ini berpartisipan penelitian kelompok kontrol berjumlah 33 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan. Adapun nama-nama partisipan dapat dilihat pada lampiran K.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Pelaksanaan Pengumpulan pada kelompok eksperimen data berupa skala kepercayaan diri dilaksanakan pada tanggal 30 Desember 2009 sebelum pelaksanaan pelatihan kepercayaan diri dilaksanakan yang digunakan sebagai data awal (pre test) yang diawali dengan cara menjelaskan bagaimana cara mengisi angket dan pengajuan pertanyaan kepada peneliti. Pada hari yang sama setelah dilaksanakan pelatihan maka diberikan lagi skala kepercayaan diri  yang digunakan sebagai data pembanding (post test). Pelatihan ini menggunakan metode hipnosis yang mempunyai lima tahapan berturut-turut yaitu pre-induction, induction, deepening, sugestion, dan awakening. Adapun  jadwal pelatihan yang telah dilakukan dapat dilihat sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 5&lt;br /&gt;Jadwal Pelatihan Kepercayaan Diri Menggunakan Metode Hipnosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI/TANGGAL JAM MATERI PEMANDU&lt;br /&gt;Senin,&lt;br /&gt;30 November 2009     08.00-09.00 Ice breaking, pengisian lembar persetujuan dan  Daftar Riwayat Kesehatan serta pengisian angket (pre test) Peneliti&lt;br /&gt; 09.00-10.00 Pre induksi / uji sugetibilitas Trainer&lt;br /&gt; 10.00-10.30 Induksi  Trainer&lt;br /&gt; 10.30-11.00 deepening Trainer &lt;br /&gt; 11.00-11.55 sugesti Trainer&lt;br /&gt; 11.55-12.10 Awakening Trainer &lt;br /&gt; 12.10-12.40 Post test I dan penutupan Peneliti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  kelompok kontrol, pengumpulan data berupa skala kepercayaan diri dilakukan pada tanggal 30 November 2009 berikut data awal (pre-test) dan data pembanding (post-test). Adapun jadwal kegiatan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 6&lt;br /&gt;Susunan Acara Kelompok Kontrol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari, Tanggal Waktu Materi Pemandu&lt;br /&gt;Senin,&lt;br /&gt;30 November 2009 13.00 – 13.05 Pembukaan Peneliti&lt;br /&gt; 13.05 – 13.20 Pre Test Peneliti&lt;br /&gt; 13.20 – 13.40 Sharing Trainer&lt;br /&gt; 13.40- 14.00 Post test dan Pentup Peneliti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Analisis Data dan Interpretasi&lt;br /&gt;Sebelum analisis dilaksanakan, terlebih dahulu dilaksanakan uji asumsi yang meliputi uji normalitas, homogenitas dan uji hipotesis menggunakan uji-t (t-test). Uji asumsi ini dilakukan dengan bantuan program SPSS Versi 15 for windows program. &lt;br /&gt;1.  Uji Asumsi&lt;br /&gt;a. Uji Normalitas&lt;br /&gt;Melalui uji normalitas sebaran dapat diketahui normal atau tidaknya penyebaran dari data variabel penelitian. Hasil uji normalitas sebaran dari variabel kepercayaan diri memiliki sebaran yang normal dengan nilai Kolmogorof Smirnof (KS-Z = 0,833); p = 0,492 pada pre-test dan (KS-Z = 0,811); p = 0,526 pada post-test  untuk kelompok eksperimen  dan (KS-Z= 0,797); p = 0,550 pada pre-test dan (KS-Z=0,806); p = 0,534 pada post-test untuk kelompok kontrol yang berarti pada masing-masing kelompok sebarannya normal. Dikatakan sebaran data normal apabila p &gt; 0,05 yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara frekuensi observasi (fo) dengan frekuensi hipotetik (fh) yang berarti variabel penelitian memenuhi distribusi normal.&lt;br /&gt;b. Uji Homogenitas &lt;br /&gt; Uji Homogenitas Varians dilakukan untuk melihat apakah sampel yang dipakai dalam penelitian ini mempunyai kesamaan sifat atau ciri-ciri yang sama dengan populasinya. Berdasarkan hasil uji homogenitas varians dengan mengguanakan Lavene Statistic yang diambil dari data post test kelompok eksperimen dan post test kelompok kontrol diperoleh hasil untuk variabel kepercayaan diri mempnuyai nilai dari uji F Lavene Statistik  0,526 dengan signifikansi atau nilai p = 0,471. Bedasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sampel yang digunakan bersifat homogen karena nilai p lebih dari 0,05 (p&gt;0,05).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Uji T (T-test)&lt;br /&gt;a.  Hipotesis dalam penelitian ini yaitu ”Ada pengaruh pelatihan kepercayaan diri menggnakan metode hipnosis terhadap kepercayaan diri siswa menghadapi ujian semester”. &lt;br /&gt;b.  Adapun kaidah menerima hipotesis apabila:&lt;br /&gt;1. Tidak ada perbedaan nilai rata-rata pre test antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen&lt;br /&gt;2. Tidak ada perbedaan nilai rata-rata antara skor pre test dan post test pada kelompok kontrol atau nilai rata-rata post test lebih rendah daripada skor pre test.&lt;br /&gt;3. Ada perbedaan nilai rata-rata pre test dan post test pada kelompok eksperimen, dimana nilai rata-rata post test lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata pre test&lt;br /&gt;4. Ada perbedaan nilai rata-rata antara skor post test kelompok eksperimen dengan skor post test pada kelompok kontrol, diamana nilai rata-rata post test kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata post test pada kelompok kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Uji Hipotesis&lt;br /&gt;1. Uji T pada skor pre test kelompok eksperimen dengan kelompok pre test kelompk kontrol&lt;br /&gt;• nilai t hitung = 0,350&lt;br /&gt;• mean kelompok eksperimen = 84,53&lt;br /&gt;• mean kelompok kontrol = 83,64&lt;br /&gt;• nilai p = 0,728&lt;br /&gt;• dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan nilai rerata pre test antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol tidak signifikan karena p &gt; 0,05 atau dapat diartikan tidak ada perbedaan nilai rata-rata kepercayaan diri kelompok eksperimen  dengan kelompok kontrol. Artinya mendukung hipotesis yang diajukan untuk diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Uji  T pada skor pre test dengan post test pada kelompk kontrol&lt;br /&gt;• nilai t hitung = 0,350&lt;br /&gt;• mean pre test = 83,64, mean post test = 83,00&lt;br /&gt;• nilai p = 0,000&lt;br /&gt;• dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan nilai rerata yang sangat signifikan antara skor pre test dengan post test pada kelompok kontrol namun bila dilihat dari rata-rata antara skor pre test dengan skor post test dapat diartikan setelah perlakuan pada kelompok kontrol mengalami penurunan kepercayaan diri. Artinya mendukng hipotesis yang diajukan untuk diterima.&lt;br /&gt;3. Uji T pada skor pre test dengan post test pada kelompok eksperimen&lt;br /&gt;• nilai t hitung = -12,046&lt;br /&gt;• mean pre test = 84,53, mean post test = 105,88&lt;br /&gt;• nilai p = 0,000&lt;br /&gt;• dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan nilai rerata yang sangat signifikan skor antara pre test dengan post test pada kelompok eksperimen namun bila dilihat dari rata-rata antara skor pre test dengan skor post test dapat diartikan subyek pada kelompok eksperimen mengalami kenaikan skor kepercayaan diri setelah adanya perlakuan. Artinya mendukung hipotesis yang diajukan untuk diterima.&lt;br /&gt;4. Uji T pada skor pada post test kelompok eksperimen dengan skor post test pada kelompok kontrol&lt;br /&gt;• mean kelompok eksperimen = 105,88&lt;br /&gt;• mean kelompok kontrol = 83,00&lt;br /&gt;• nilai p = 0,000&lt;br /&gt;• dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang sangat signifikan nilai rata-rata post test antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol  , dimana kelompok eksperimen mempunyai nilai rata-rata yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Artinya mendukung hipotesis yang diajukan untuk diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berdasarkan hal diatas keempat kaidah yang diajukan mendukung hipotesis yang diajukan untuk diterima artinya bahwa ada pengaruh pelatihan kepercayaan diri menggnakan metode hipnosis terhadap kepercayaan diri siswa menghadapi ujian semester”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pembahasan&lt;br /&gt;Hasil uji hipotesis  menunjukkan bahwa keempat kaidah yang diajukan mendukung hipotesis yang diajukan diterima yaitu tidak ada perbedaan nilai rata-rata pre test antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen, tidak ada perbedaan nilai rata-rata antara skor pre test dan post test pada kelompok kontrol atau nilai rata-rata post test lebih rendah daripada skor pre test, ada perbedaan nilai rata-rata pre test dan post test pada kelompok eksperimen dimana nilai rata-rata post test lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata pre test, ada perbedaan nilai rata-rata antara skor post test kelompok eksperimen dengan skor post test pada kelompok kontrol diamana nilai rata-rata post test kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata post test pada kelompok kontrol.&lt;br /&gt;Berdasarkan data diatas maka penelitian ini sesuai dengan tujuan dari penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui adanya pengaruh pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis terhadap kepercayaan diri siswa kelas X dalam menghadapi ujian semester. Serta sesuai dengan hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis terhadap kepercayaan diri siswa kelas X dalam menghadapi ujian semester yang artinya subyek setelah mengalami pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis mengalami peningkatan kepercayaan diri dibanding sebelum mengikuti pelatihan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa ada pengaruh pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis terhadap kepercayaan diri siswa kelas X dalam menghadapi ujian semester bisa diterima. Karena perubahan rerata kepercayaan diri pada subyek lebih disebabkan karena adanya pelatihan kepercayaan diri menggunakana metode hipnosis. &lt;br /&gt;Wills (dalam Retno, 2007) pelatihan adalah pemindahan pengetahuan dan keterampilan yang terukur dan yang telah ditentukan sebelumnya, oleh karena itu pelatihan harus memiliki tujuan  dan metode yang jelas untuk menguji apakah pengetahuan dan keterampilan yang diberikan sudah dapat dikuasai. Sedangkan menurut True Love (1995) menyatakan bahwa pelatihan merupakan salah satu bentuk usaha untuk mengajarkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang berhubungan dengan tugas tertentu. Elliot (2009), yang menyatakan bahwa hipnosis dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan konsentrasi dan meningkatkan kepercayaan diri. Jadi pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis akan membawa perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya peraasaan dan reaksi lebih percaya diri terhadap kemampuannya. &lt;br /&gt;Dalam pelatihan tersebut subjek diberikan pemahaman dengan cara memberikan sugesti tentang konsep diri, harga diri serta pentingnya kepercayaan diri, dan membawa pengalaman subyek ketika subyek pernah mengalami rasa percaya diri dan memperkuatnya menggunakan teknik anchor. Dengan pemahaman tentang konsep diri dan adanya penerimaan diri tersebut individu akan menjadi lebih percaya diri (Franken, dalam Muniroh 2004). Sharon M. Valente, RN, CS, PhD, FAAN (2003), bahwa hipnosis dapat memperbaiki self-esteem, kecemasan dan meningkatkan kepercayaan diri&lt;br /&gt;Menurut teori behaviorisme pengondisian klasik dari Ivan Petrovich Pavlov (1849 – 1936) dan pengondisian operan dari Burrhus Frederick Skinner (1904 – 1990) membantu dalam proses induksi (proses mengantar klien sampai pada tidur hipnotik) dan sugesti posthipnotik (sugesti yang diberikan selama trans). Berdasarkan penelitian Ivan P Pavlov menjelaskan sugesti, otosugesti,  dan daya sugesti (suggestibility) dalam hipnosis. Setiap kata yang disugestikan adalah stimulus. Dengan memberikan stimulus itu berulang kali, maka refleks terkondisikan akan muncul. Sedangkan Skinner menyatakan bahwa memberi penguatan yang baik akan menimbulkan respon positif yang nantinya akan bermanfaat dalam mengubah perilaku, mislnya contoh verbal yang biasa digunakan dalam hipnosis adalah ucapan “bagus” ketika klien mengikuti sugesti (dalam Kahija, 2007). Sehingga setelah subyek mendapatkan pelatihan dan diberikan sugesti maka subyek akan mengalami peningkatan kepercayaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Kelemahan Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian yang telah peneliti lakukan ini terbukti memiliki pengaruh terhadap kepercayaan diri, akan tetapi penelitian ini juga tidak lepas dari kekurangan atau kelemahan. Beberapa kelemahan tersebut antara lain dari segi penyelengaraan, , metode dan materi serta variabel lain yang bisa mempengaruhi hasil penelitian.&lt;br /&gt;Dari segi penyelenggaraan, pelatihan dilaksanakan hanya satu kali pertemuan. Materi pelatihan diberikan secara keseluruhan dalam waktu yang sangat singkat sehingga peserta merasa kesulitan untuk menyerap dan menerapkan materi yang telah didapatkan dalam pelatihan. Alangkah baiknya bila pelatihan tidak hanya satu kali pertemuan namun beberapa kali pertemuan dengan diberi jarak beberapa hari setiap pertemuannya. Dengan cara ini peserta pelatihan dapat menerapkan dalam kehidupan sehari hari yang kemudian diungkapkan hasilnya pada pertemuan berikutnya. Selain itu tempat duduk yang kurang nyaman membuat subyek merasa kurang nyaman yang mempengaruhi proses hipnosis, alangkah lebih baik menggunakan kursi yang empuk atau dengan cara tidur berlaskan matras sehingga subyek merasa lebih nyaman dan proses hipnosis berjalan lebih baik serta subyek dapat mengalami trance yang lebih dalam..&lt;br /&gt;Sedangkan variabel lain yang bisa mempengaruhi hasil penelitian seharusnya peneliti lebih banyak mempertimbangkan antara lain lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, budaya, serta pengalaman-pengalaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-753390916679977482?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/753390916679977482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=753390916679977482&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/753390916679977482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/753390916679977482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2010/04/pengaruh-pelatihan-kepercayaan-diri_6736.html' title='PENGARUH PELATIHAN KEPERCAYAAN DIRI  MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS TERHADAP  KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS X MENGHADAPI UJIAN SEMESTER (4)'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-6788822207141981994</id><published>2010-04-22T12:08:00.001+07:00</published><updated>2010-04-22T12:11:45.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ujian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hipnoterapi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='siswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>PENGARUH PELATIHAN KEPERCAYAAN DIRI  MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS TERHADAP  KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS X MENGHADAPI UJIAN SEMESTER (3)</title><content type='html'>BAB III&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;Peneliti Bayu W dan Setiyo Purwanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Identifikasi Variabel Penelitian&lt;br /&gt;Variabel variabel penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Variabel bebas : Pelatihan Kepercayaan Diri Menggunakan Metode Hipnosis&lt;br /&gt;2. Variabel Tergantung :  Kepercayaan Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Definisi Operasional Variabel&lt;br /&gt;Definisi opersional adalah penegasan konstruk dan variabel yang digunakan dengan cara tertentu untuk mengukurnya sehingga dapat menghindari salah pengertian dan penafsiran yang berbeda beda. (Muniroh, 2004)&lt;br /&gt;Definisi operasional dari variabel variabel penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;1. Pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis &lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis adalah salah satu bentuk usaha untuk mengajarkan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang berhubungan dengan tugas tertentu, kali ini berkenaan dengan kepercayaan diri yang menggunakan metode hipnosis yang bertujuan unuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam menghadapi ujian semseter.&lt;br /&gt;2. Kepercayaan Diri&lt;br /&gt;Kepercayaan diri adalah keyakinan individu dan kemampuan diri sendiri dalam hubungannya dengan orang lain, optimis dalam menghadapi permasalahan dan dapat mengatasinya dengan solusi yang tepat serta dapat bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya, berpikiran positif sehingga mampu menghadapi suatu masalah dengan tenang. Untuk mengungkap kepercayaan diri digunakan skala kepercayan diri yang meliputi aspek aspek keyakinan akan kemampuan diri, optimisme, obyektif, bertanggung jawab serta rasional dan realistis serta rasa aman, ambisi normal, mandiri, tidak mementingkan diri sendiri atau toleransi. Semakin tinggi skor yang diperoleh menunjukkan semakin tinggi pula kepercayaan diri. Sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh menunjukkan semakin rendah pula kepercayaan diri.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;C. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling&lt;br /&gt;1. Populasi&lt;br /&gt;Populasi adalah keseluruhan individu yang diselidiki, dimana memiliki paling sedikit satu sifat atau ciri yang sama untuk siapa kenyataan yang diperoleh dari subyek akan digeneralisasikan (Hadi, 1995). Generalisasi disini maksudnya adalah mengangkat kesimpulan sebagai sesuatu yang berlaku bagi populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA N I Karanganyar.&lt;br /&gt;2. Sampel&lt;br /&gt;Sampel adalah sebagian individu dari anggota populasi yang menjadi obyek penelitian atau yang diselidiki (Hadi, 1995) dengan demikian sampel merupakan bagian dari populasi yang diambil umtuk penelitian. Wakil atau sampel inilah yang dikenai perilaku untuk diambil kesimpulan terhadap populasi, sehingga kesimpulan yang obyektif dapat dicapai apabila diperoleh sampel yang representatif, yaitu sampel yang benar-benar mencerminkan populasi  (Suryabrata, 1990). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan sampel yaitu dua kelas X SMA N I Karanganyar yang nantinya salah satu kelas menjadi kelompok eksperimen dan kelas lain menjadi  kelompok kontrol&lt;br /&gt;3. Teknik Sampling&lt;br /&gt;Sampling adalah teknik atau cara untuk menentukan dan memilih sampel penelitian. Dalam penelitian ini masing-masing kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk dijadikan sampel penelitian, oleh karena itu digunakan cara pengundian, dengan terlebih dahulu mengidentifikasi kelas-kelas untuk didaftar sebagai anggota populasi dan kemudian mengundinya atau biasa disebut cluster random sampling. Cluster  random sampling dianggap ekonomis kerena obeservasi-observasi yang dilakukan terhadap cluster atau grup-grup sampel adalah mudah dan lebih ekonomis daripada terhadap sejumlah individu yang sama tetapi tempatnya berpencar tetapi tempatnya berpencar-pencar (Hadi,1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Metode dan Alat Pengumpul Data&lt;br /&gt;Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan alat ukur skala psikologi. Penggunaan skala pada penelitian ini didasarkan atas karekteristik skala sebagai alat ukur yang dikemukakan oleh Azwar (2008), yaitu:&lt;br /&gt;a. Stimulusnya berupa pernyataan atau pertanyaan yang tidak langsung mengungkapkan atribut yang hendak diukur melainkan indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan.&lt;br /&gt;b. Atribut psikologis diungkap secara tidak langsung lewat indikator-indikator yang diterjemahkan dalam bentuk aitem-aitem.&lt;br /&gt;c. Respon subyek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah”. Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sungguh-sungguh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Skala Kepercayaan Diri&lt;br /&gt;Skala yang digunakan dalam penelitian ini disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Anthony (1992) yaitu rasa aman, ambisi normal, yakin akan kemampuan diri, mandiri, tidak mementingkan diri sendiri atau toleransi, dan optimis. Terdiri dari 25 aitem favorable dan 25 aitem non favorable.&lt;br /&gt;Skala yang diberikan pada subjek penelitian ini menggunakan skala Likert yang telah dimodifikasi menjadi empat alternatif jawaban. Modifikasi skala Likert meniadakan kategori jawaban yang di tengah, berdasarkan tiga alasan. Pertama, kategori undecided itu mempunyai arti ganda, bisa diartikan belum mempunyai jawaban atau keputusan, bisa juga diartikan netral yaitu setuju pun tidak, tidak setuju pun tidak, atau ragu-ragu. Kategori jawaban arti ganda (multi interpretable) ini tentu tidak diharapkan dalam suatu instrument. Kedua, tersedianya yang di tengah ini menimbulkan kecenderungan jawaban, ke tengah (central tendency effect) terutama bagi mereka yang ragu-ragu atas kecenderungan jawaban, ke arah setuju ataukah tidak setuju. Ketiga, maksud kategori SS-S-TS-STS adalah terutama untuk melihat kecenderungan pendapat responden, ke arah setuju atau tidak setuju. Jika disediakan kategori jawaban itu akan menghilangkan banyak data penelitian sehingga mengurangi banyaknya informasi yang dapat dijaring dari responden (Hadi, 1993).&lt;br /&gt; Tabel 1&lt;br /&gt;Blue Print Skala Kepercayaan Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Nomor Aitem Jumlah&lt;br /&gt; Favorable Unfavorable &lt;br /&gt;Perasaan aman 2, 5, 31, 45 13, 22, 29, 35 8&lt;br /&gt;Ambisi normal 1, 21, 23, 32 6, 26, 36, 46 8&lt;br /&gt;Yakin akan kemampuan diri 7,18, 33, 34, 38 17, 24, 30, 40, 50 10&lt;br /&gt;Mandiri 16, 25, 27, 44 3, 8, 43, 47  8&lt;br /&gt;Toleransi 10, 11, 28, 42 14, 20, 48, 49 8&lt;br /&gt;Optimis 9, 19, 37, 39 4, 12, 15, 41  8&lt;br /&gt;Jumlah 25 25 50&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Validitas dan Reliabilitas&lt;br /&gt;1. Validitas &lt;br /&gt;  Suatu eksperimen dianggap valid jika variabel perlakuan benar-benar mempengaruhi perilaku yang diamati (variabel terikat) dan akibat-akibat yang terjadi pada variabel tersebut bukan karena variabel lain. Eksperimen tersebut juga dikatakan valid jika hasil suatu eksperimen itu dapat digeneralisasikan pada populasi lainnya yang berbeda subjek, tempat dan ekologinya (Latipun, 2006).&lt;br /&gt;  Sedangkan suatu tes dikatakan valid jika alat ukur tes itu mampu mengukur apa yang seharusnya diukur atau ukuran seberapa cermat alat ukur melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2007). Menurut Hadi (2004) prinsip validitas mengandung dua unsur yang tidak dapat dipisahkan yaitu kejituan dan ketelitian. Kejituan yaitu seberapa jauh pengukuran dapat mengungkap dengan jitu gejala gejala atau bagian-bagian yang diukur,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Reliabilitas&lt;br /&gt;  Azwar (2007) mengemukakan bahwa pada prinsipnya suatu alat ukur dikatakan reliabel bila alat tersebut menunjukkan sejauhmana pengukuran itu dapat memberikan hasil yang relatif sama bila dilakukan pengukuran kembali terhadap subjek yang sama. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan Suryabrata (1994) bahwa reliabilitas alat ukur merupakan keajegan pengukuran, sekiranya alat tersebut digunakan oleh orang yang sama pada waktu yang berbeda.  Teknik yang digunakan untuk mengukur reliabilitas skala dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS 15 for Windows Parameter Indeks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Rancangan Eksperimen&lt;br /&gt;Rancangan eksperimen dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Eksperimen   (Pre-test Post-test Untreated Control Group Design) yaitu subjek dibagi menjadi dua kelompok secara random (Kardiyanto, 2006). Kelompok pertama disebut kelompok eksperimen yang diberi perlakuan berupa pemberian pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis yang telah dipersiapkan oleh peneliti. Kelompok kedua disebut kelompok kontrol yang diberikan pelatihan yang tidak ada pengaruhnya terhadap kepercayaan diri. Kemudian dilakukan pengamatan atau pengukuran. Efek perlakuan dapat diketahui dari perbedaan hasil  pengukuran antar dua kelompok.&lt;br /&gt;Secara bagan rancangan eksperimen tersebut adalah, sebagai berikut :  &lt;br /&gt;Rancangan Eksperimen&lt;br /&gt;Y1     X     Y2  →  KE&lt;br /&gt;                     R =&lt;br /&gt;Y1    -X     Y2  →  KK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan : &lt;br /&gt;R   = Random Assigment&lt;br /&gt;X  = Perlakuan (Pelatihan Kepercayaan Diri Menggunakan Metode Hipnosis)&lt;br /&gt;-X = Tanpa Perlakuan / diberikan plasebo (percobaan bias)&lt;br /&gt;Y1 = Pengukuran sebelum diberikan perlakuan &lt;br /&gt;Y2  = Pengukuran setelah diberikan perlakuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Rencana Pelaksanaan Eksperimen&lt;br /&gt;Renacana pelaksanaan eksperimen ini akan dilaksanakan 3 hari sebelum ujian semester I atau sebelum hari juma’t tanggal 4 Desember 2009, yaitu pada hari selasa, tanggal 1 Desember 2009. Pada eksperimen ini terdiri dari beberapa tahapan/proses. Untuk memperlancar proses penelitian ini peneliti tidak memberikan perlakuan secara langsung, namun dibantu oleh hipnoterapis lain. Hal ini dimaksudkan agar peneliti terhindar dari bias yang dapat mencemari hasil penelitian. Trainer dalam eksperimen ini adalah Bapak Hendri Harjanto, SE, CH, CI, NLP. Beliau adalah seorang hipnoterapis bercertified dari Indonesian Board of Hipnoterapist (IBH) dan pakar Neuro Linguistik Program (NLP).&lt;br /&gt;Secara garis besar prosedur pelatihan ini dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan.&lt;br /&gt;1. Tahap persiapan. Tahap ini merupakan tahap yang berisi persiapan yang dilakukan sebelum penelitian dilaksanakan. Langkah-langkah dalam tahap ini adalah (i) orientasi kancah penelitian, (ii) persiapan penyusunan alat penentuan subjek penelitian, (iii) Penyusunan skala penelitian (skala kepercayaan diri), (iv) dan penyusunan modul pelaksanaan pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis..&lt;br /&gt;Pada bagian ini berisi langkah-langkah yang ditempuh selama proses penelitian. Adapun langkahnya adalah (a) penentuan subjek penelitian dengan melihat daftar peringkat siswa dan siswi Sekolah Menengah Atas Negeri 1, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, (b) diskusi dengan Wakil Kepala Sekolah, (c) meminta perijinan untuk siswa dan siswi mengikuti kegiatan dan perijinan dari sekolah, (d) tahap pelaksanaan penelitian. Pada bagian ini berisi langka-langkah yang ditempuh selama proses penelitian. Adapun langkahnya adalah (i). Pembentukan rapport kepada subjek penelitian, (ii). Pembagian subjek penelitian menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.&lt;br /&gt;2. Tahap Pelaksanaan&lt;br /&gt;a. Prosedur pelaksanaan pada kelompok eksperimen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kelompok eksperimen, pelatihan dimulai pada pukul 07.00-12.00 WIB. Pertama, peneliti memperkenalkan  diri dan memberikan ice breaking berupa permainan konsentrasi selama kurang lebih 30 menit. Ice breaking diberikan agar mencairkan suasana dan menjalin keakraban antara peserta dengan peneliti. Selanjutnya, peserta diberikan lembar persetujuan untuk mengikuti proses penelitian dan pelatihan untuk diisi. Setelah itu peserta mengisi daftar riwayat kesehatan yang berfungsi untuk mengetahui kesehatan siswa agar jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama proses pelatihan, peneliti dapat menanggulanginya lebih cepat.&lt;br /&gt;Mulai pukul 08.30 WIB sampai pukul 09.00 WIB siswa mengisi angket kepercayaan diri yang digunakan sebagai data awal penelitian (pre-test). Setelah peserta mengisi angket kepercayaan diri untuk pre-test, peneliti mengenalkan trainer  pelatihan dan kegiatan berikutnya dipandu oleh trainer. Trainer dalam pelatihan ini adalah Hendri Harjanto, CH,CI, NLP. Beliau adalah seorang hipnoterapis asal Yogyakarta berlisensi dari Indonesian Board of Hipnoterapi (IBH) dan paraktisi NLP. Trainer menjelaskan mengenai hipnosis terlebih dahulu yang  disebut juga teknik pre induksi  agar peserta tidak merasa takut ketika dihipnosis dan melakukan uji sugestibilitas dahulu menggunakan teknik Arm Rising and falling test. Teknik Arm Rising and falling test adalah teknik uji sugetibiltas dalam hipnosis, dimana subjek duduk sambil memejamkan mata dengan kedua tangan kedepan lalu siswa diminta untuk membayangkan atau mengimajinasikan bahwa di tangan kanan diikatkan seratus balon gas yang menarik tangan kanannya ke atas dan di tangan kiri di berikan beban batu bata seberat 100 kilogram yang menekan tangan kirinya kebawah. Test atau uji sugestibilitas ini digunakan untuk mengetahui apakah mereka sugestif atau tidak. Setelah dilakukan uji sugestibilitas, trainer melanjutkan kedalam proses induksi menggunakan teknik relaksasi atau kelelahan pada sistem syaraf. Teknik ini dalah teknik yang digunakan untuk membuat subjek menjadi tidur hipnotik dengan cara subyek diminta untuk berimajinasi dan merasakan  bahwa seluruh tubuh subyek terasa lelah dan subyek diminta untuk merilekskan seluruh otot-otot tubuh subyek mulai dari kepala sampai ke ujung kaki setelah itu subyek diminta untuk tidur. Proses selanjutnya adalah deepening. Proses ini berfungsi untuk membawa subyek untuk tidur lebih dalam sehingga subyek masuk dalam kondisi alpha atau theta. Setelah itu masuk dalam proses sugesti dimana subyek diberikan avirmasi atau kata-kata sugesti yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam menghadapi ujian semester dan diberikan anchor  atau kunci dimana subyek ketika menggenggam ibu jari tangan kirinya maka subyek akan merasa percaya diri. Selanjutnya pada tahap akhir subyek dibangunkan atau proses awakening dari tidur hipnosisnya. &lt;br /&gt;Setelah proses awakening dilakukan trainer dan peneliti mengevaluasi apakah anchor  yang diberikan sudah berpengaruh atau belum, dengan cara subyek diminta untuk menggenggam ibu jari tangan kirinya, lalu subyek yang tidak merasakan kepercayaan dirinya bertambah ketika menggenggam ibu jari tangan kirinya diminta tunjuk tangan. Setelah evaluasi dilakukan subyek diminta untuk mengisi angket kepercayaan diri yang digunakan sebaagai data pembanding (post-test).&lt;br /&gt;b. Prosedur pelaksanaan pada kelompok kontrol&lt;br /&gt;Kelompok kontrol adalah kelompok pembanding untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan setelah diberikan perlakuan pada kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol ini diberikan placebo ata percobaan bias dengan cara sharing with alumni. Namun sebelum diberikan perlakuan plasebo subyek mengisi angket kepercayaan diri, setelah diberikan perlakuan plasebo tersebut subyek mengisi lagi angket kepercayaan diri. Pada kegiatan sharing ini subyek diberikan cerita mengenai perjalanan hidup bapak Hendri Harjanto, SE, CH, CI, NLP dalam merintis usaha roti bakar kuah dan cara merintis Event Organizer yang beliau miliki. Kegiatan dimulai pukul 13.00 WIB – 14.00 WIB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Metode Analisis Data&lt;br /&gt;Metode analisis data yang digunakan adalah metode statistik. Statistik merupakan cara cara ilmiah yang disiapkan untuk mengumpulkan, menyusun, menyajikan dan menganalisis data penelitian yang berwujud angka angka (Hadi, 1992)&lt;br /&gt;Menurut Hadi (1992) statistik mempunyai tiga macam ciri pokok yaitu:&lt;br /&gt;1. Statistik bekerja dengan angka angka, artinya angka tersebut menunjukan jumlah frekuensi dan nilai.&lt;br /&gt;2. Statistik bersifat obyektif sehingga unsur unsur subyektif dapat dihindari, dalam arti statistik sabagai alat penilaian tidak dapat berbicara lain selain apa adanya.&lt;br /&gt;3. Statistik bersifat universal, dalam arti dapat digunakan dalam setiap penelitian.&lt;br /&gt;Untuk menguji hipotesis yang diajukan dengan berdasarkan rancangan eksperimen yang telah ditetapkan maka teknik yang digunakan adalah statistik non-parametrik T-test atau uji-t , perhitungan selengkapnya akan menggunakan jasa  komputer SPSS  for windows program versi 15 .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-6788822207141981994?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/6788822207141981994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=6788822207141981994&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/6788822207141981994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/6788822207141981994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2010/04/pengaruh-pelatihan-kepercayaan-diri_9250.html' title='PENGARUH PELATIHAN KEPERCAYAAN DIRI  MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS TERHADAP  KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS X MENGHADAPI UJIAN SEMESTER (3)'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-4232052971065639498</id><published>2010-04-22T12:07:00.000+07:00</published><updated>2010-04-22T12:08:36.423+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penelitian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hipnoterapi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hipnotis'/><title type='text'>PENGARUH PELATIHAN KEPERCAYAAN DIRI  MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS TERHADAP  KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS X MENGHADAPI UJIAN SEMESTER (2)</title><content type='html'>BAB II&lt;br /&gt;LANDASAN TEORI&lt;br /&gt;Peneliti Bayu W dan Setiyo Purwanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kepercayaan Diri&lt;br /&gt;1. Pengertian Kepercayaan Diri&lt;br /&gt;Secara terminologis kata percaya berarti yakin bahwa  menang, benar atau menganggap pasti, jujur, kuat, baik dan sebagainya. Jadi, rasa percaya diri dapat berarti seseorang merasa yakin bahwa dirinya benar, kuat dan baik (Poerwadarminta, dalam Kusuma, 2005 ).&lt;br /&gt;Rasa percaya diri adalah dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri sehingga rasa percaya diri juga disebut sebagai harga diri atau gambaran diri. (Santrock, 2003).&lt;br /&gt;Kepercayaan  diri secara sederhana bisa dikatakan sebagai suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan didalam hidupnya. (Hakim, 2002). Kepercayaan  diri mendorong seseorang untuk mencoba bidang bidang identitas baru, mengambil resiko positif, memajukan diri sendiri, dan mengembangkan kecakapan (Ellias, 2002).&lt;br /&gt;Menurut Kumara (1992) orang yang memiliki percaya diri merasa yakin akan kemampuan dirinya sehingga dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya, serta mempunyai sikap positif yang didasari keyakinan akan kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan diri atau self confidence oleh Bandura (dalam Amalia, 2005) didefinisikan sebagai suatu keyakinan seseorang untuk berperilaku sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkan. Breneche dan Amich (dalam Amalia, 2005) menjelaskan kepercayaan diri merupakan suatu perasaan cukup aman dan tahu apa yang dibutuhkan dalam kehidupannya sehingga tidak perlu membandingkan dirinya dengan orang lain dalam menentukan standar. Sebagian besar orang menganggap percaya diri adalah keyakinan pada kemampuan-kemampuan sendiri, keyakinan pada adanya sesuatu maksud di dalam kehidupan, dan kepercayaan bahwa, dengan akal dan budi, individu akan mampu melaksanakan apa yang akan individu tersebut inginkan, rencanakan, dan harapkan (Davies, 2004).&lt;br /&gt;Menurut Sarason (dalam Kusuma, 2005) kepercayaan diri terbentuk dan berkembang melalui proses belajar baik secara individual maupun secara sosial. Secara individual, kepercayaan diri berkembang melalui pengalaman psikologis. Sedangkan proses belajar secara sosial  kepercayaan diri diperoleh melalui interaksi individu dalam kegiatannya dengan orang lain.&lt;br /&gt;Selain itu pendapat Dink Meer dan Loboncy (dalam Kusuma, 2004) pembentukan kepercayaan diri bersumber dari pengalaman pribadi yang dialami seseorang dalam perjalanan hidupnya. Menurut Anthony (1992) kepercayaan diri merupakan sikap pada diri seseorang yang dapat menerima kenyataan, dapat mengembangkan kesadaran diri, berfikir positif, memiliki kemandirian, dan mempunyai kemampuan untuk memiliki serta mencapai segala sesuatu yang diinginkannya. Hal senada juga diungkapkan oleh Santoso (dalam Ihdayati, 2000) bahwa rasa percaya diri muncul apabila individu dapat belajar mengenai diri sendiri dengan mencatat sebanyak mungkin aspek yang dimiliki, serta menerima diri apa adanya dengan segala aspek positif maupun negatif.&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Hambly (1989) kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu berperilaku seperti yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan dan mampu menanggapi segala situasi dengan tenang. Pendapat ini didukung oleh Adler (dalam Kusuma, 2005), bahwa kepercayan diri seseorang muncul dengan adanya perasaan kompeten atau merasa dirinya mampu.&lt;br /&gt; Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Kepercayaan diri adalah keyakinan individu dan kemampuan diri sendiri dalam hubungannya dengan orang lain, optimis dalam menghadapi permasalahan dan dapat mengatasinya dengan solusi yang tepat serta dapat bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya, berpikiran positif sehingga mampu menghadapi suatu masalah dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ciri-ciri Orang yang Memiliki Kepercayaan Diri&lt;br /&gt;Anthony (1992) berpendapat bahwa individu yang mempunyai kepercayaan diri cenderung akan menjadi mandiri dan tidak perlu bergantung pada orang lain. Individu tersebut akan mampu memenuhi keperluan hidup dengan rasa percaya diri dan kekuatannya dengan memperhatikan situasi dari sudut kenyataan.&lt;br /&gt; Angelis (1997) mengemukakan bahwa kepercayaan diri yang dimiliki individu ditandai dengan:&lt;br /&gt;a. Keyakinan atas kemampuan diri sendiri untuk melakukan sesuatu. Individu mempunyai keyakinan atas kemampuan diri yaitu sikap positif seseorang tentang dirinya bahwa ia mengerti sungguh-sungguh akan apa yang dilakukannya.&lt;br /&gt;b. Keyakinan atas kemampuan menindaklanjuti segala perkara sendiri secara konsekuen. Yaitu mampu bertanggung jawab dengan kesediaan orang untuk menanggung segala sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya.&lt;br /&gt;c. Keyakinan atas kemampuan pribadi dalam menanggulangi segala kendala. Merasa yakin bahwa dengan kemampuan yang dimiliki, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik.&lt;br /&gt;d. Keyakinan atas kemampuan untuk memperoleh bantuan. Dengan mengerti kekurangan yang ada pada diri sendiri, dapat menerima pendapat orang lain dan memberi kesempatan pada orang lain. Dengan adanya kemampuan seperti itu, membuat individu mudah untuk memperoleh bantuan dari orang lain apabila sedang mengalami kesulitan.&lt;br /&gt;Tidak jauh beda dengan ciri-ciri yang diuraikan di atas, Guillford (dalam Amalia, 2005) menyatakan bahwa orang mempunyai kepercayaan diri memiliki ciri-ciri :&lt;br /&gt;a. Merasa kuat terhadap apa yang dilakukan. Merasa yakin terhadap apa yang telah dilakukan dengan kemampuan sendiri.&lt;br /&gt;b. Merasa dapat diterima oleh kelompoknya. Dengan kelebihan yang ada sehingga tidak merasa ragu lagi akan penolakan dari kelompok.&lt;br /&gt;c. Percaya sekali pada dirinya sendiri serta mempunyai ketenangan sikap. Yakin pada kemampuan diri sehingga tidak perlu membandingkan dirinya dengan orang lain dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain.&lt;br /&gt;d. Merasa bebas untuk menentukan dirinya. Dengan adanya kemampuan pada diri, sehingga tidak tergantung dengan orang lain.&lt;br /&gt;e. Dapat berkomunikasi dengan orang lain. Mampu untuk bersosialisasi dengan baik dengan tidak mementingkan diri sendiri.&lt;br /&gt;f. Mempunyai pandangan aktif. Selalu berpandangan baik dalam menghadapi segala hal tentang diri, harapan dan kemampuan.&lt;br /&gt;Orang yang percaya diri yakin akan kemandiriannya, yakin pada dirinya sendiri sehingga tidak secara berlebihan mementingkan dirinya sendiri yang mengarah ke congkak, cukup toleran, selalu optimis, dan tidak perlu baginya untuk melakukan kompensasi dari keterbatasannya (Kumara, 1992).&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ciri-ciri orang yang memiliki kepercayaan diri adalah keyakinan atas kemampuan diri sendiri untuk melakukan sesuatu, menindaklanjuti segala perkara, menanggulangi segala kendala, dan dapat berkomunikasi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Aspek-Aspek Kepercayaan Diri&lt;br /&gt;Menurut Lauster (1997, dalam Lia 2004)  orang yang memiliki kepercayaan diri yang positif adalah :&lt;br /&gt;a. Keyakinan akan kemampuan diri yaitu sikap positif seseorang tentang dirinya bahwa mengerti sungguh sungguh akan apa yang dilakukannya.&lt;br /&gt;b. Optimis yaitu sikap positif seseorang yang selalu berpandangan baik dalam menghadapi segala hal tentang diri, harapan dan kemampuan.&lt;br /&gt;c. Obyektif yaitu orang yang percaya diri memandang permasalahan atau segala sesuatu sesuai dengan kebenaran semestinya, bukan menurut kebenaran pribadi atau menurut dirinya sendiri,&lt;br /&gt;d. Bertanggung jawab yaitu kesediaan seseorang untuk menanggung segala sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya.&lt;br /&gt;e. Rasional dan realistis yaitu analisa terhadap suatu masalah, suatu hal, sesuatu kejadian dengan mengunakan pemikiran yang diterima oleh akal dan sesuai dengan kenyataan.  &lt;br /&gt;Jersild (dalam Kusuma, 2005), mengemukakan bahwa kepercayaan diri ditandai oleh kemampuan diri tanpa terpengaruh sikap atau pendapat orang lain, merasa optimis, tidak cemas, tidak khawatir, serta tidak ragu ragu dalam menghadapi masalah dan mengambil keputusan.&lt;br /&gt;Menurut Anthony (1992), aspek kepercayan diri adalah: &lt;br /&gt;a. Rasa aman. Terbebas dari perasaan takut, tidak ada kompetensi terhadap situasi atau orang orang disekitarnya.&lt;br /&gt;b. Ambisi normal. Ambisi disesuaikan dengan kemampuan, tidak ada kompetensi dari ambisi yang berlebihan, dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan bertanggung jawab. &lt;br /&gt;c. Yakin pada kemampuan diri. Merasa tidak perlu membandingkan dirinya dengan orang lain dan tidak mudah terpengaruh dengan orang lain.&lt;br /&gt;d. Mandiri. Tidak tergantung dengan orang lain dalam melaksanakan sesuatu  dan tidak membutuhkan dukungan orang lain. &lt;br /&gt;e. Tidak mementingkan diri sendiri atau toleransi. Mengerti kekurangan yang ada pada diri sendiri, dapat menerima pendapat orang lain dan memberi kesempatan pada orang lain. &lt;br /&gt;f. Optimis. Memiliki pandangan dan harapan yang baik tentang diri sendiri.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek-aspek kepercayaan diri adalah keyakinan akan kemampuan diri, optimisme, objektif, bertanggung jawab, serta rasional dan realistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Faktor-faktor yang Mempegaruhi Terbentuknya Kepercayaan Diri&lt;br /&gt; Kepercayaan diri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal:  &lt;br /&gt;a) Faktor internal, meliputi:&lt;br /&gt;1. Konsep diri. Terbentuknya keperayaan diri pada seseorang diawali dengan perkembangan konsep diri yang diperoleh dalam pergaulan suatu kelompok. Menurut  Centi (1995), konsep diri merupakan gagasan tentang dirinya sendiri. Seseorang yang mempunyai rasa rendah diri biasanya mempunyai konsep diri negatif, sebaliknya orang yang mempunyai rasa percaya diri akan memiliki konsep diri positif.&lt;br /&gt;2. Harga diri. Meadow (dalam Kusuma, 2005 ) Harga diri yaitu penilaian yang dilakukan terhadap diri sendiri. Orang yang memiliki harga diri tinggi akan menilai pribadi secara rasional dan benar bagi dirinya serta mudah mengadakan hubungan dengan individu lain. Orang yang mempunyai harga diri tinggi cenderung melihat dirinya sebagai individu yang berhasil percaya bahwa usahanya mudah menerima orang lain sebagaimana menerima dirinya sendiri. Akan tetapi orang yang mempuyai harga diri rendah bersifat tergantung, kurang percaya diri dan biasanya terbentur pada kesulitan sosial serta pesimis dalam pergaulan.&lt;br /&gt;3. Kondisi fisik. Perubahan kondisi fisik juga berpengaruh pada kepercayaan diri. Anthony (1992) mengatakan penampilan fisik merupakan penyebab utama rendahnya harga diri dan percaya diri seseorang. Lauster (1997) juga berpendapat bahwa ketidakmampuan fisik dapat menyebabkan rasa rendah diri yang kentara.&lt;br /&gt;4. Pengalaman hidup. Lauster (1997) mengatakan bahwa kepercayaan diri diperoleh dari pengalaman yang mengecewakan adalah paling sering  menjadi sumber timbulnya rasa rendah diri. Lebih lebih jika pada dasarnya seseorang memiliki rasa tidak aman, kurang kasih sayang dan kurang perhatian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Faktor eksternal meliputi:&lt;br /&gt;1. Pendidikan. Pendidikan mempengaruhi kepercayaan diri seseorang. Anthony (1992) lebih lanjut mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan yang rendah cenderung membuat individu merasa dibawah kekuasaan yang lebih pandai, sebaliknya individu yang pendidikannya lebih tinggi cenderung akan menjadi mandiri dan tidak perlu bergantung pada individu lain. Individu tersebut akan mampu memenuhi keperluan hidup dengan rasa percaya diri dan kekuatannya dengan memperhatikan situasi dari sudut kenyataan.&lt;br /&gt;2. Pekerjaan. Rogers (dalam Kusuma,2005) mengemukakan bahwa bekerja dapat mengembangkan kreatifitas dan kemandirian serta rasa percaya diri. Lebih lanjut dikemukakan bahwa rasa percaya diri dapat muncul dengan melakukan pekerjaan, selain materi yang diperoleh. Kepuasan dan rasa bangga di dapat karena mampu mengembangkan kemampuan diri.&lt;br /&gt;3. Lingkungan dan Pengalaman hidup. Lingkungan disini merupakan lingkungan keluarga dan masyarakat. Dukungan yang baik yang diterima dari lingkungan keluarga seperti anggota kelurga yang saling berinteraksi dengan baik akan memberi rasa nyaman dan percaya diri yang tinggi. Begitu juga dengan lingkungan masyarakat semakin bisa memenuhi norma dan diterima oleh masyarakat, maka semakin lancar harga diri berkembang (Centi, 1995). Sedangkan pembentukan  kepercayaan diri  juga bersumber dari pengalaman pribadi yang dialami seseorang dalam perjalanan hidupnya. Pemenuhan kebutuhan psikologis merupakan pengalaman yang dialami seseorang selama perjalanan yang buruk pada masa kanak kanak akan menyebabkan individu kurang percaya diri (Drajat, 1995).&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi rasa percaya diri pada individu, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi konsep diri, harga diri dan keadaan fisik. Faktor eksternal meliputi pendidikan, pekerjaan, lingkungan dan pengalaman hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pelatihan Kepercayaan Diri Menggunakan Metode Hipnosis&lt;br /&gt;1. Pengertian Pelatihan&lt;br /&gt; Pelatihan adalah salah satu bentuk belajar. Bentuk pelatihan yang diungkapkan oleh True Love (1995) menyatakan bahwa pelatihan adalah salah satu bentuk usaha untuk mengajarkan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang berhubungan dengan tugas tertentu. Tujuan dari pelatihan adalah untuk meningkatkan kinerja secara langsung. Sementara itu Wills (dalam Retno, 2007) mengungkapkan bahwa pelatihan adalah pemindahan pengetahuan dan keterampilan yang terukur dan yang telah ditentukan sebelumnya, oleh karena itu pelatihan harus memiliki tujuan dan metode yang jelas untuk menguji apakah pengetahuan dan keterampilan yang diberikan sudah dapat dikuasai.&lt;br /&gt; Menurut Johnson dan Johnson (dalam Retno, 2007), experiental learning dapat didefinisikan sebagai penerapan action theory terhadap pengalaman pribadi, yang kemudian secara terus – menerus memodifikasi pengalaman tersebut agar meningkat efektifitasnya. Action theory menyatakan bahwa dalam satu tindakan (action) tertentu diperlukan untuk mencapai konsekuensi yang diinginkan dalam situasi yang ditentukan. Dalam situasi tertentu jika individu melakukan x, maka akan menghasilkan y. Dengan demikian dalam action theory terdapat tiga aspek penting: situasi, tindakan dan konsekuensi dari tindakan.&lt;br /&gt; Tujuan dari experiental learning adalah untuk mempengaruhi pebelajar melalui tiga cara: (1) struktur kognitif pebelajar diubah, (2) sikap pebelajar dimodifikasi, (3) daftar keterampilan pebelajar diperluas. Ketiga elemen tersebut merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (dalam Retno, 2007).&lt;br /&gt; Untuk kepentingan definisi yang jelas, Menteri Pekerjaan dan Tenaga kerja Perancis (dalam Retno, 2007) bahkan telah membatasi pelatihan sebagai suatu aktivitas yang (1) Memiliki tujuan yang ditetapkan, (2) Memiliki metode pengajaran yang khusus, (3) Memiliki siswa yang khusus, (4) Memiliki rencana penerapan yang jelas, (5) Hasilnya dapat diukur.&lt;br /&gt; Proses pengajaran menurut Downs (dalam True Love, 1995) adalah proses untuk meningkatkan belajar dan pemahaman secara aktif didalam suatu dinamika kelompok. Sementara itu, Jhonson (dalam Retno, 2007) menyatakan bahwa proses pelatihan dapat dilakukan dengan belajar melalui pengalaman (experiental learning), yang prosesnya digambarkan dalam bagan berikut ini:&lt;br /&gt;Experiencing&lt;br /&gt;(Mengalami)&lt;br /&gt;Appliying                                                                Publishing&lt;br /&gt;              (Menerapkan)                                                         (Mengutarakan)&lt;br /&gt;Processing&lt;br /&gt;(Mendiskusikan)&lt;br /&gt;Bagan Experiental Learning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keempat tahap ini akan selalu berputar dan membentuk siklus pembelajaran. Mula – mula para peserta pelatihan diharuskan mengalami materi yang akan dilatihkan, kemudian setelah mereka semua mengalami melalui permainan peran, simulasi atau pemahaman kasus, maka anak didik kemudian diminta untuk mengutarakan apa yang telah dilakukan dan apa pula yang telah dilakukan dalam proses publishing. Setelah itu kemudian hasil pengalaman dan perasaan yang telah diutarakan, didiskusikan dengan seluruh anggota kelompok dan dikaitkan dengan materi yang telah diberikan pada awal pelatihan. Terakhir adalah penerapan pada dunia nyata. Demikian proses ini akan terus berlanjut sehingga membentuk suatu siklus Muniroh (dalam Retno, 2007).&lt;br /&gt; Pelatihan merupakan proses pendidikan jangka pendek yang mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisir untuk mempelajari pengetahuan dan keterampilan teknis untuk tujuan tertentu (Sikula, 1976).&lt;br /&gt; Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah salah satu usaha untuk mengajarkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang berhubungan dengan tugas tertentu dan didalam proses usaha tersebut melalui beberapa tahap yaitu, mengalami, mengutarakan, mendiskusikan dan selanjutnya menerapkan di dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Analisis Kebutuhan Pelatihan&lt;br /&gt; Menentukan kebutuhan pelatihan bukan hal sederhana sebab kebutuhan pelatihan terkait dengan siapa yang dilatih, terkait dengan tujuan pelatihan, untuk kebutuhan siapa pelatihan itu dilakukan, siapa penyelenggara pelatihan, bahan pelatihan ditentukan oleh penyelenggara pelatihan, dan merupakan paket yang tidak dapat dipecah-pecah sesuai dengan keinginan pembelajar, ataukah dapat dipilih materinya oleh pembelajar sendiri (Mujiman, 2006).&lt;br /&gt; Pelaksanaan pelatihan mengikuti rencana yang telah ditetapkan. Akan tetapi di dalam pelaksanaannya selalu banyak masalah yang memerlukan pemecahan. Pemecahan masalah sering berakibat adanya keharusan mengubah beberapa hal dalam rencana tetapi perubahan dan penyesuaian apa pun yang dilakukan harus selalu berorientasi pada upaya mempertahankan kualitas pelatihan, menjaga kelancaran proses pelatihan, dan tidak merugikan kepentingan partisipan (Mujiman, 2006).&lt;br /&gt;Mujiman (2006) menjelaskan pelaksanaan pelatihan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Perkenalan&lt;br /&gt;Pada awal pelaksanaan pelatihan, partisipan perlu memperkenalkan diri agar dikenal baik oleh instruktur maupun koleganya sesama partisipan. Instruktur pun perlu memperkenalkan diri. Kesempatan ini dapat digunakan untuk menyampaikan harapan instruktur tentang apa yang perlu dilakukan oleh partisipan agar proses pembelajaran berjalan lancar, dan partisipan dapat mengambil manfaat optimal dari pelatihan.&lt;br /&gt;b. Acara review pengalaman&lt;br /&gt;Pada awal pelatihan juga perlu diadakan secara khusus review pengalaman partisipan. Dalam acara ini partisipan menyampaikan pengalamannya dalam melaksanakan tugas di lembaga atau unit kerjanya. Perlu disampaikan apa tugasnya, masalah apa yang dihadapi, bagaimana ia mengatasi, dan sebagainya. Pada kesempatan ini instruktur mencatat pengetahuan yang telah dimiliki oleh partisipan pada umumnya, dan catatan-catatan khusus tentang partisipan yang memiliki banyak pengalaman dibidangnya. Mereka adalah partisipan potensial yang kemungkinan dapat memberikan banyak sumbangan dalam proses pembelajaran dikelas, khususnya dalam diskusi-diskusi.&lt;br /&gt;c. Dirangsang untuk memanfaatkan pengalaman&lt;br /&gt;Pengalaman partisipan adalah modal untuk pembelajaran selanjutnya. Maka dari itu, instruktur harus dapat merangsang agar memanfaatkan pengalaman yang telah dimilikinya. Cara sederhana adalah dengan meminta secara langsung kepada partisipan untuk mengomentari apa yang baru saja disampaikan instruktur. Kesempatan memberikan komentar harus diberikan kepada sebanyak mungkin partisipan dikelas. Komentar yang diberikan oleh partisipan selalu terkait dengan pengalaman yang telah dimilikinya. Dengan memberikan komentar, dan dengan mendengarkan komentar partisipan yang lain serta ulasan instruktur, partisipan akan dapat mengembangkan pengetahuan baru dan memperkaya pengetahuan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Purwoko (2003) mengatakan ada dua analisis kebutuhan pelatihan yang dibutuhkan, antara lain :&lt;br /&gt;a. Analisis tugas : suatu telaah yang rinci untuk mengidentifikasi keterampilan yang dituntut sehingga suatu program pelatihan yang tepat dapat direncanakan.&lt;br /&gt;b. Analisis kinerja : menilai kinerja yang ada, untuk menentukan apakah ada penurunan kinerja dapat diperbaiki melalui pelatihan atau tidak.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan pelaksanaan pelatihan terdiri dari beberapa tahap. Adapun tahapan-tahapannya adalah perkenalan, acara review pengalaman, dirangsang untuk memanfaatkan pengalaman, analisis tugas dan analisis kinerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengertian Hipnosis &lt;br /&gt;Kesan masyarakat selama ini yang memandang hipnosis dari segi buruk tampaknya perlu diluruskan. Karena sebenarnya hipnosis bukan untuk memperdaya orang, berbuat tindak kejahatan atau melakukan perbuatan yang merugikan lainnya. Sebaliknya hipnosis merupakan sebuah kemampuan yang bisa digunakan untuk memberi manfaat bagi kehidupan. Mereka yang menguasai ilmu hipnosis bisa menggunakannya untuk kebaikan diri sendiri maupun menolong orang lain.&lt;br /&gt;Pada sisi lain, hipnosis murni ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kesan bahwa ilmu tersebut bagian dari ilmu gaib sebenarnya tidak seluruhnya benar. Orang yang belajar ilmu hipnosis tidak akan menemui ritual-ritual seperti mempelajari ilmu-ilmu gaib. Belajar ilmu hipnotis itu tidak perlu puasa,melafalkan mantera atau amalan-amalan lain yang memberatkan.&lt;br /&gt;Para pakar hipnosis (dalam Gunawan,. 2007) memberikan definisi hipnosis sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Hipnosis adalah suatu kondisi di mana perhatian menjadi sangat terpusat sehingga tingkat sugestibilitas meningkat sangat tinggi,&lt;br /&gt;2. .Hipnosis adalah seni komunikasi untuk mempengaruhi seseorang sehingga mengubah tingkat kesadarannya, yang dicapai dengan cara menurunkan gelombang otak, &lt;br /&gt;3. Hipnosis adalah seni eksplorasi alam bawah sadar, &lt;br /&gt;4. Hipnosis adalah kondisi kesadaran yang meningkat ,&lt;br /&gt;5. Hipnosis adalah suatu kondisi pikiran yang dihasilkan oleh sugesti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kamus Enkarta hipnosis diartikan sebagai suatu kondisi yang menyerupai tidur yang dapat secara sengaja dilakukan kepada orang, dimana mereka  akan memberikan respon pada pertanyaan yang diajukan dan dapat sangat terbuka dan reseptif  terhadap sugesti yang diberikan oleh hipnotis. Braid mendefiniskan hipnosis adalah terpusatnya kesadaran pada satu objek atau ide tertentu. Sigmund Freud melihat hipnosis sebagai keadaan tidur yang memiliki tingkat trans yang bervariasi mulai dari ringan sampai ekstreem. Gil Boyne mendefinisikan hipnosis sebagai keadaan pikiran normal yang dicirikan dengan relaksasi yang dalam, keinginan mengikuti sugesti yang sejalan dengan kepercayaannya, pengaturan diri dan normalisasi sistem saraf pusat, sensivitas yang meningkat dan selektif terhadap stimuli eksternal dan mekanisme pertahanan psikis yang lemah (dalam Kahija, 2007). Menurut Kahija (2007) mendefiniskan hipnosis adalah sebagai keadaan terfokusnya perhatian pada objek fisik atau gambaran mental tertentu yang ditandai dengan meningkatnya sugestibiltas sebagai efek sikap kooperatif dengan orang lain.&lt;br /&gt;Berdasarkan pernyatan diatas maka dapat disimpulkan bahwa hipnosis adalah suatu praktik untuk membuat subjek atau klien masuk kedalam keadaan relaks  dengan cara memfokuskan perhatian pada objek fisik atau gambar mental tertentu yang menyebabkan subjek masuk kedalam keadaan hipnotis (tidur hipnotic) sehingga subjek menjadi sugestif terhadap sugesti yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Prinsip Kerja dan Prosedur Hipnosis&lt;br /&gt; Mitos hipnosis yang berkembang di masyarakat selama ini menganggap hipnosis sebagai praktik supranatural, padahal hipnosis ini bersifat ilmiah karena sudah banyak penelitian – penelitian yang dilakukan untuk membuktikan keilmiahan hipnosis. Salah satu pakar hipnosis mendefinisikan Hipnosis adalah seni komunikasi untuk mempengaruhi seseorang sehingga mengubah tingkat kesadarannya, yang dicapai dengan cara menurunkan gelombang otak. Sehingga dengan berkomunikasi atau memberikan sugesti kepada klien agar masuk kedalam bawah sadarnya (Gunawan, 2007).&lt;br /&gt;Freud (dalam Suryabrata, 2005).menganggap kesadaran merupakan sebagian kecil daripada seluruh kehidupan psikis. Freud mengumpamakan psyche itu sebagai gunung es ditengah lautan, yang ada di permukaan air laut merupakan kesadaran, sedangkan yang dibawah permukaan air laut merupakan bagian terbesar yang menggambarkan ketidaksadaran. Di dalam ketidaksadaran itulah terdapat kekuatan dasar yang mendorong pribadi. Untuk menjelajah ketidaksadaran itu freud menggunakan teknik hipnosis dan asosiasi bebas.&lt;br /&gt;Bahasa adalah faktor kunci keberhasilan komunikasi termasuk komunikasi dalam terapi. Bahasa yang dimaksudkan disini meliputi baik bahasa verbal (ucapan) ataupun non verbal (ekspresi wajah dan tubuh). Ketrampilan menggunakan bahasa mulai berjalan ketika terapis menyambut klien, membangun rapport (kepercayaan), membawa klien dalam tidur hipnotik, membangunkannya, dan mengajaknya berbagi pengalaman. Dalam praktik hipnosis terdapat bagian yang dinamakan sugesti. Sugesti adalah pernyataan atau gerak isyarat yang diberikan terapis kepada klien dalam proses meningkatkan sugestibiltas klien. Sugesti adala faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan menghipnosis. Apabila salah memberikan sugesti maka akan membuat klien bingung ataupun takut sehingga subjek tidak berhasil di hipnosis. Dalam menghipnosis atau mensugesti juga diperlukan pengulangan kata-kata yang bertujuan untuk memperjelas sugesti dan  memberikan penguatan terhadap respon yang diberikan subjek (Kahija, 2007).&lt;br /&gt;Menurut  teori behaviorisme pengondisian klasik dari Ivan Petrovich Pavlov (1849 – 1936) dan pengondisian operan dari Burrhus Frederick Skinner (1904 – 1990) membantu dalam proses induksi (proses mengantar klien sampai pada tidur hipnotik) dan sugesti posthipnotik (sugesti yang diberikan selama trans). Berdasarkan penelitian Ivan P Pavlov menjelaskan sugesti, otosugesti,  dan daya sugesti (suggestibility) dalam hipnosis. Setiap kata yang disugestikan adalah stimulus. Dengan memberikan stimulus itu berulang kali, maka refleks terkondisikan akan muncul. Sedangkan Skinner menyatakan bahwa memberi penguatan yang baik akan menimbulkan respon positif yang nantinya akan bermanfaat dalam mengubah perilaku, mislnya contoh verbal yang biasa digunakan dalam hipnosis adalah ucapan “bagus” ketika klien mengikuti sugesti (Kahija, 2007).&lt;br /&gt;Terdapat beberapa prosedur untuk melaksanakan proses hipnotis yang harus dilakukan baik melakukan hipnotis secara individual ataupun masal, yaitu :&lt;br /&gt;a. Proses Pre Induksi&lt;br /&gt;Proses pre induksi adalah suatu proses untuk mengawali praktik hipnosis ini. Proses ini berfungsi untuk membangun raport terhadap subjek agar mereka merasa nyaman terhadap penghipnotis dan menghilangkan ketakutan terhadap penghipnotis. Selain itu pada proses ini sangat penting membangun ekspektasi untuk menjelaskan keuntungan bagi subjek mengikuti proses ini dan agar subjek bersedia untuk dihipnotis (Gunawan, 2007). Pre induksi merupakan suatu proses mempersiapkan suatu situasi dan kondisi yang bersifat kondusif antara penghipnotis (hypnotist) dengan orang yang akan dihipnotis (subjek) (Wong, dan Andri, 2009).&lt;br /&gt;Tahap atau proses pre induksi ini bertujuan untuk menjaga relasi antara terapis dan klien dengan cara berbicara atau interview, menghilangkan rasa takut klien, membangun ekspektasi, menggali dan mengumpulkan informasi). Hal diatas harus dilakukan karena apabila klien/subjek takut dan tidak yakin maka proses hipnosis tidak akan berhasil (Gunawan, 2007).&lt;br /&gt;Menurut tokoh psikologi humanistik Carl Rogers (dalam Kahija, 2007), setiap orang punya dorongan untuk memandang dirinya positif  (positive self regard) dan ia juga mengaharapkan hal yang sama dari orang lain, karena itu  rogers menekankan betul pentingnya unconditional positiv regard (penerimaan postif tanpa syarat) dalam proses terapeutik. Klien harus diterima apa adanya, tanpa syarat (condition) dan tanpa penilaian. Dalam hipnosis proses ini proses pre induksi berfungsi untuk menunjukkan dan menciptakan penerimaan terhadap klien tanpa prasangka dan pra penilaian (Kahija, 2007)&lt;br /&gt;Proses pre induksi ini mempunyai fungsi untuk membangun ekspektasi dan menghilangkan rasa takut terhadap hipnosis dengan cara memberi penjelasan manfaat dari praktik ini agar mempunyai kepercayaan yang positif (Gunawan,  2007). Dari pandangan psikologi kognitif, Aaron Beck (dalam Kahija 2007) menyatakan bahwa gangguan psikologis dikarenakan pikiran – pikiran dan perasaan negatif, selanjutnya pikiran dan perasaan negatif berkembang menjadi kepercayaan negatif yang harus di tata ulang (direkonstruksi) dan dan ditransformasikan kedalam kepercayaan yaang positif.&lt;br /&gt;Menurut Wong dan Andri (2009) menyatakan bahwa dalam proses pre induksi ini biasanya diadakan uji sugestibilitas yang harus dialakukan yang bertujuan  untuk mengetahui level sugestibilitas, memahami level komunikasi subjek, mengenalkan hipnosis kepada subjek, dan meningkatkan level sugestibilitas.&lt;br /&gt;Dalam melakukan proses pre induksi atau uji sugestibilitas terdapat beberapa macam tekhnik, yaitu Rigid Catalepsy (kekakuan pada anggota badan), Finger Catalepsy (kekakuan pada jari), hand Locking (tangan yang terkunci), Arm Rising and falling test (tangan yang melayang dan berat), dan eye catalepsy (kekauan pada mata) (Wong dan Andri, 2009). Tingkat sugestibilitas menurut Harry Arons (dalam Wong dan Andri, 2009), terdapat enam level, yaitu sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ARONS SCALE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan &lt;br /&gt;1. level / stage 1. Hypnoidal adalah masa yang sangat lembut sehingga sebjek tidak merasa dihipnosis dan masih benar-benar merasa sepenuhnya sadar. Pada tahap ini, kontrol otot seperti mata terkunci (eyelid catalepsy) dapat dilakukan. Banyak tindakan terapi yang cukup dilakukan pada tahap ini, misalnya terapi penurunan berat badan terapi berhenti merokok.&lt;br /&gt;2. level / stage 2. kondisi yang lebih relaks dan tidur lembut. Pada tahap ini, otot-otot yang lebih kompleks dapat dikontrol seperti membuat  lengan kaku (arm catalepsy).&lt;br /&gt;3. level / stage 3. pada tahap ini, seluruh sistem saraf benar-benar dapat dikontrol sehingga dapat melakukan hal-hal seperti tidak dapat beranjak dari kursi, tidak dapat berjalan, atau tidak dapat mengingat sesuatu.&lt;br /&gt;4. level / stage 4. Tahap amnesia seperi melupakan nama, alamat dan sebagainya dimulai pada tahap ini. Pada tahap ini biasanya seseorang tidak mampu merasakan sakit. Operasi gigi pada tahap ringan seperti pencabutan gigi dapat dilakukan pada tahap ini.&lt;br /&gt;5. level / stage 5. Somnambulisme awal. Anestesia menyeluruh terjadi pada tahap ini yang mengakibatkan subjek tidak mampu merasakan sakit ataupun sentuhan. Halusinansi positif baik indra penglihatan maupun pendengaran, terjadi pada tahap ini sehingga subjek dapat disugesti melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada.&lt;br /&gt;6. level / stege 6 halusinasi negatif, baik indra penglihatan maupun pendengaran, terjadi di level ini sehingga subjek dapat menghilangkan gambaran atau suara yang seharusnya ada&lt;br /&gt;b. Proses Induksi &lt;br /&gt;Induksi adalah proses yang di tempuh terapis dalam membawa klien menuju tidur hypnotic, ibarat kapal yang membawa penumpang dari ”pulau kesadaran” menuju ”pulau bawah sadar. Terapis berperan sebagai pemandu jalan menuju trans. Perjalanan itu di mulai dengan memusatkan perhatian klien pada objek tertentu, dengan tujuan mengasingkan klien dari banyak stimulus di sekitarnya. Dengan pikiran yang terarah dan terfokus subjek pelan – pelan bergerak dari luar kedalam, secara fisiologis, dari gelombang beta ke delta, baru sesudah itu tubuh menjadi sangat relaks. Salah satu teknik dalam proses induksi yaitu relaksasi progresif. Pada relaksasi progresif , hipnotis berkonsentrasi bagaimana membuat klien menjadi rileks, alur relaksasi biasanya dimulai dari kepala sampai kaki (Kahija, , 2007). &lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Retno Dwi Suryaningsih (2006), menyimpulkan bahwa dengan memberikan pelatihan relaksasi dapat, menurunkan kecemasan menghadapi ujian semester.&lt;br /&gt;c. Deepening&lt;br /&gt;Deepening adalah suatu teknik yang bertujuan membawa klien memasuki kondisi hypnosis lebih dalam lagi dengan memberikan suatu sentuhan imajinasi (Wong &amp; Andri, 2009). Beberapa teknik untuk memperdalam keadaan hipnosis adalah menghitung turun, menuruni tangga, the elevator, the hallway, head down, fractination, menjatuhkan tangan ke pangkuan, menggunakan anchor atau  conditioning. Salah satu cara melakukan deepening adalah dengan teknik menuruni tangga, berikut ini adalah cara melakukan teknik tersebut :&lt;br /&gt;”Saya akan menghitung 1 sampai 3, dan pada hitungan ketiga anda berada di lantai du sebuah rumah …. Den anda berada berada di bibir tangga lantai dua… menuju lantai satu… tangga tersebut memilki 10 anak tangga… Saya akan mulai menghitung… satu… dua …. Tiga …., sekarang, perhatikan… apakah anda sudah melihat tangga tersbut? (hipnotis harus memastikan subjek telah melihat tangga yang di maksud). Sekarang… bersiap – siaplah untuk turun menuju lantai satu… anda akan turun perlahan – lahan …. Setiap kali anda menuruni satu anak tangga..,. anda semakin rileks, semakin nyaman, dan semakin mengantuk …. “saya akan menghitung turun dari angka 10 ke angka satu setiap hitungan turun anda merasa lebih nyaman, lebih relaks,dan tidur lebih dalam lagi. Sepuluh…… semakin relaks, semakin nyaman….sembilan….. lebih relaks, lebih nyaman…. Delapan…. Tidur lebih dalam lagi…. Bagus sekali….. tujuh … semakin relaks….. enam …. Semakin nyaman …. Lima …. Semakin tidur lebih dalam lagi….. empat…. Tiga….. semakin lebih nyaman…. Lebih relaks… dua….. dan satu tidur lebih dalam lagi….” (Gunawan, , 2007).&lt;br /&gt;d. Depth Level Test&lt;br /&gt; Depth Level test  adalah cara untuk memastikan kedalaman hasil kegiatan deepening yang sudah dilakukan.  Tes ini dilakukan dengan menanyakan apakah saran atau perintah yang dilakukan benar-benar telah dapat dilaksanakan dan dirasakan oleh subjek, misalnya dengan memberikan pertanyaan tertutup yang membutuhkan jawaban  ”ya atau tidak” yang dijawab subjek dengan menggerakkan anggota tubuh tertentu, biasanya salah satu jari tangan. Contoh skrip untuk mengetahui kedalaman hasil dari deepening sebagai berikut :&lt;br /&gt;”kini, saya akan bertanya kepada anda yang dapat anda jawab dengan menggerakkan jari telunjuk  kanan untuk jawaban ”ya” atau menggerakkan jari telunjuk kiri untuk jawaban ”tidak”. Apakah saat ini Anda benar-benar dapat merasakan berada di tempat yang Anda senangi tersebut”.&lt;br /&gt; Jika subjek telah merasakan benar-benar berada dalam kondisi kedalaman  yang dikehendaki, lakukan langkah selanjutnya yaitu pemberian sugesti yang menjadi tujuan hipnosis. Jika subjek belum berada dalam kondisi kedalaman yang dikehendaki, berikan deepening kembali dengan menggunakan teknik yang berbeda. Untuk dapat mengetahui tingkat kedalaman bisa menggunakan depth level scale (Wong,&amp; Andri,2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Sugesti &lt;br /&gt;Sugesti adalah pernyataan atau gerak isyarat yang diberikan terapis kepada  klien dalam proses meningkatkan sugestibilitas klien (Kahija, 2007). Dalam melakukan sugesti terdapat beberapa aturan yaitu bahasa sederhana, mudah di mengerti &amp; spesifik, Positif, sugestikan apa yang diinginkan, menggunakan emosi, menggunakan kalimat sekarang. Hindari kalimat yang menggunakan kata larangan (jangan,tidak, dilarang) dan hindari kata akan, harus menggunakan kita pasti. Ex. Setiap anda menghembuskan nafas anda semakin rileks  (Gunawan, 2007). Wong dan Andri (2009) menyatakan prinsip-prinsip pembentukan kalimat dalam sugesti adalah menggunakan kata-kata positif, hindari penggunaan kata ”tidak”, ”jangan”, dan sebagainya, kecuali tidak ada lagi padanan kata yang tepat., berikan pengulangan kalimat seperlunya saja, gunakan kalimat yang menunjukkan waktu sekarang (present tense) dan hindari kata ”akan”, tambahkan sentuhan emosional dan imajinasi, bentuk kalimat sugesti secara progresif (bertahap-jika diperlukan), berikan kalimat bernuansa pribadi sehingga pikiran bawah sadar subjek dapat menerima sugesti itu seutuhnya, dan gunakan kata-kata yang sesuai dengan pemahaman subjek. &lt;br /&gt;Sugesti adalah Suatu rangkaian kata-kata, atau kalimat, yang disampaikan dengan cara tertentu, dan dalam situasi tertentu, sehingga dapat memberikan pengaruh bagi mereka yang mendengarnya, sesuai dengan maksud &amp; tujuan sugesti tersebut (Nurindra, 2008). Sugesti  berfungsi untuk memperbaiki pikiran subyek tentang konsep diri, citra diri dan harga diri sehingga subyek mempunyai kepercayaan diri yang baik (Gunawan &amp; Ariesandi,  2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Awakening&lt;br /&gt;Awakening adalah Proses membangunkan klien. Aturan proses Awakening adalah Proses membangunkan klien. Aturan proses awakening :&lt;br /&gt;1. jangan pernah membangunkan klien secara tiba – tiba atau sangat cepat, kecuali terpaksa / darurat. Karena klien  akan merasa pusing.&lt;br /&gt;2. sugestikan, klien ketika bangun dalam tidurnya, akan berada dalam kondisi segar, nyaman dan tenang sepenuhnya. (Gunawan , 2007).&lt;br /&gt;Beberapa ahli misalnya wong  membagi tahap awakening menjadi dua yaitu termination dan post hypnotic. Terminatian adalah tahap pengakhiran untuk mengembalikan subjek pada keadaan semula (sadar). Post hypnotic adalah kondisi subjek setelah termination (Wong dan Andri, 2009)&lt;br /&gt;Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam menghipnotis terdapat prosedur yang harus dilaksanakan yaitu pre- induksi, induksi, deepening, sugesti dan awakening. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Dalam Proses Hipnosis&lt;br /&gt;Pada saat melakukan proses hipnosis terdapat  hal – hal yang harus diperhatikan karena dapat mengganggu proses hipnotis dan mengganggu konsentrasi penghipnotis dan subjek yang dihipnosis. Apabila subjek merasa tidak nyaman maka akan mengganggu proses hipnotis, karena pada dasarnya hipnosis adalah membuat subjek rileks agar mudah masuk ke pikiran bawah sadar (Wong, dan Andri, 2009). &lt;br /&gt;Bernstein dan Borkovic (1973), Goldfried (1976), Walker, dkk (1981) (dalam Prawitasari, dkk. 2003) menyatakan, sebelum kegiatan hipnosis dilakukan, perlu diperhatikan mengenai lingkungan fisik (physical  setting,  sehingga individu dapat berlatih dengan tenang. Lingkungan fisik tersebut antara lain :&lt;br /&gt;1. Kondisi Ruangan&lt;br /&gt;Ruangan yang digunakan untuk latihan relaksasi harus tenang, segar, dan nyaman. Untuk mengurangi cahaya dan suara dari luar, jendela dan pintu sebaiknya ditutup. Penerang ruangan sebaiknya remang – remang saja dan dihindari adanya sinar langsung yang mengenai mata individu, sehingga memudahkan mereka untuk berkonsentrasi.&lt;br /&gt;2. Kursi&lt;br /&gt;Pada saat latihan hipnosis perlu digunakan kursi yang  dapat memudahkan individu untuk menggerak – gerakkan otot dengan konsentrasi penuh. Kursi yang di gunakan contohnya kursi malas, sofa atau kursi yang ada sandarannya akan mempermudah  individu untuk lebih relaks. Latihan Relaksasi juga dapat dilakukan dengan berbaring  di tempat tidur.&lt;br /&gt;3. Pakaian&lt;br /&gt; Pada waktu latihan sebaiknya digunakan pakaian yang longgar, dan hal – hal yang mengganggu jalannya proses hipnosis (kaca mata, jam tangan, gelang, sepatu, ikat pinggang) dilepas dahulu.&lt;br /&gt;Menurut Dr. Stephanus C Nurdin, CCHT, CI ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pelaksanaan proses hipnosis yaitu:&lt;br /&gt;a. Kondisi kejiwaan (psikologis)&lt;br /&gt;b. Tingkat keaktifan berpikir&lt;br /&gt;c. Suasana dan Kondisi lingkungan&lt;br /&gt;d. Kepercayaan subyek kepada penghipnotis &lt;br /&gt;e. Tingkat kepekaan panca indra&lt;br /&gt;Menurut Yan Nurindra, CHT, CH, CI (2009) ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pelaksanaan proses hipnosis yaitu bersedia atau tidak menolak untuk dihipnosis, mampu berkomunikasi, memiliki panca indra yang masih berfungsi dan memahami komunikasi, mempunyai kemampuan untuk berkonsentrasi.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi hipnosis dapat di bagi menjadi 2 faktor yaitu faktor internal subyek dan faktor eksternal subyek. Faktor internal adalah faktor yang timbul dari diri individu, yang meliputi kondisi kejiwaan subyek, kondisi fisik subyek, tingkat kepekaan panca indra, konsentrasi, dan kepercayaan subyek serta motivasi. / kemauan Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yang meliputi suasana dan kondisi lingkungan dan ketrampilan dari penghipnotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pelatihan Kepercayaan Diri Menggunakan Metode Hipnosis&lt;br /&gt;Pelatihan adalah salah satu bentuk usaha untuk mengajarkan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang berhubungan dengan tugas tertentu (True Love, 1992).&lt;br /&gt;Rasa percaya diri adalah dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri sehingga rasa percaya diri juga disebut sebagai harga diri atau gambaran diri. (Santrock, 2003). Menurut Hakim (2002) kepercayaan diri secara sederhana bisa dikatakan sebagai suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan didalam hidupnya. Ellias (2002) menyatakan kepercayaan diri mendorong seseorang untuk mencoba bidang-bidang identitas baru, mengambil resiko positif, memajukan diri sendiri, dan mengembangkan kecakapan.&lt;br /&gt;Hattie (dalam Thalib, 2002) menjelaskan bahwa rasa percaya diri dapat membuat seseorang mempunyai pandangan diri positif serta kontrol diri yang baik. Dampak dari seseorang yang mempunyai kepercayaan diri, seperti yang dikatakan Lauster (1978) dan Waterman (1988) adalah bahwa seseorang yang mempunyai kepercayaan diri akan cenderung bersifat optimis.&lt;br /&gt;Rendahnya rasa percaya diri dapat menyebabkan rasa tidak nyaman secara emosional yang bersifat sementara. Tetapi dapat menimbulkan banyak masalah. Rendahnya rasa percaya diri bisa menyebabkan depresi, bunuh diri, anoreksia nervosa, delinkuensi, dan masalah penyesuaian diri lainnya. Ketika tingkat percaya diri yang rendah berhubungan dengan proses belajar seperti prestasi rendah, atau kehidupan keluarga yang sulit, atau dengan kejadian-kejadian yang membuat tertekan, masalah yang muncul dapat menjadi lebih meningkat (Santrock, 2003).&lt;br /&gt;Menurut kamus Enkarta hipnosis diartikan sebagai suatu kondisi yang menyerupai tidur yang dapat secara sengaja dilakukan kepada orang, dimana mereka  akan memberikan respon pada pertanyaan yang diajukan dan dapat sangat terbuka dan reseptif  terhadap sugesti yang diberikan oleh hipnotis. Braid mendefiniskan hipnosis adalah terpusatnya kesadaran pada satu objek atau ide tertentu. Sigmund Freud melihat hipnosis sebagai keadaan tidur yang memiliki tingkat trans yang bervariasi mulai dari ringan sampai ekstreem. Gil Boyne mendefinisikan hipnosis sebagai keadaan pikiran normal yang dicirikan dengan relaksasi yang dalam, keinginan mengikuti sugesti yang sejalan dengan kepercayaannya, pengaturan diri dan normalisasi sistem saraf pusat, sensivitas yang meningkat dan selektif terhadap stimuli eksternal dan mekanisme pertahanan psikis yang lemah (dalam Kahija, 2007). Menurut Kahija (2007) mendefiniskan hipnosis adalah sebagai keadaan terfokusnya perhatian pada objek fisik atau gambaran mental tertentu yang ditandai dengan meningkatnya sugestibiltas sebagai efek sikap kooperatif dengan orang lain.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis adalah salah satu bentuk usaha untuk mengajarkan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang berhubungan dengan tugas tertentu, kali ini berkenaan dengan kepercayaan diri yang menggunakan metode hipnosis yang bertujuan unuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam menghadapi ujian skripsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pengaruh Pelatihan Keperrcayaan Diri Menggunakan Metode Hipnosis Terhadap Kepercayaan Diri Menghadapi Ujian Skripsi&lt;br /&gt;Kepercayaan diri, seperti yang telah diuraikan sebelumnya adalah keadaan yang menunjukkan keyakinan akan kemampuan, optimisme, senantiasa berpikir positif, dapat menerima diri apa adanya dan tidak banyak mencari dukungan orang lain. Seseorang yang mempunyai sifat-sifat seperti diatas akan senantiasa memandang diri dan lingkungan dengan positif dan objektif, sehingga tidak lagi kecewa, tidak puas atau ingin menjadi orang lain yang tidak berada pada situasi seperti dirinya.&lt;br /&gt;Kekecewaan dan ketidakpuasan yang disertai kurangnya pengetahuan untuk mengubah situasi, membuat individu yang bersangkutan menjadi putus asa dan mengalami kecemasan serta cenderung melarikan diri atau menjauhkan diri (Lia, 2004). Horney (dalam Burn, 1979) menjelaskan bahwa harga diri dan kepercayaan diri yang rendah seringkali menimbulkan kesalahan atau kegagalan dalam menghadapi dan mengatasi situasi atau masalah, sehingga berkembang menjadi tekanan-tekanan yang menghasilkan kecemasan dalam diri seseorang.&lt;br /&gt;Menurut Hakim (2002) orang orang yang memiliki kualitas jati diri yang lebih tinggi daripada orang lain, seperti prestasi akademis yang tinggi, sukses dalam karier dan bisnis, kesejahteraan yang memadai, popularitas, juara dalam berbagai macam kompetisi olah raga, musik, dan lain lain, tidak akan bisa mencapai keberhasilan tanpa ditunjang dengan rasa percaya diri yang tinggi. Oleh karena itu, rasa percaya diri pada setiap orang merupakan salah satu kekuatan jiwa yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya orang tersebut dalam mencapai berbagai tujuan hidup. Kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya mampu berprilaku memperoleh hasil yang diharapkan dan mampu menangani segala sesuatu dengan tenang.&lt;br /&gt;Ellias (2002) menyatakan kepercayaan diri mendorong seseorang untuk mencoba bidang bidang identitas baru, mengambil resiko positif, memajukan diri sendiri, dan mengembangkan kecakapan. Berdasarkan penelitian ilmiah, percaya diri adalah meyakini (al-i’tiqad ) adanya rasa percaya dalam dirinya lalu bertindak sesuai dengan kapasitasnya serta mampu mengendalikannya. Jika mengacu pada literatur lama percaya diri dapat didefinisikan dengan mempercayai (al-iman) diri sendiri secara total. &lt;br /&gt;Freud (dalam Setiarso, 1999) bahwa kecemasan disebabkan karena kehilangan kepercayaan diri. Menurut George Shinn (2003) percaya diri merupakan dasar dari motivasi diri untuk berhasil. Agar termotivasi seseorang harus percaya diri. Seseorang yang mendapatkan ketenangan dan kepercayaan diri haruslah menginginkan dan termotivasi dirinya. Menurut Centi (1995) kepercayaan diri dipengaruhi oleh konsep diri. Semakin tinggi konsep dirinya maka kepercayaan dirinya tinggi, sedangkan bila konsep diri seseorang rendah maka kepercayaan dirinya rendah juga&lt;br /&gt;Mencermati terjadinya permasalahan dalam menghadapi ujian semester pada siswa kelas X SMA N I Karanganyar yang disebabkan karena perasaan takut atau kurang yakin terhadap kemampuannya untuk mengerjakan soal dan menguasai bahan untuk ujian semseter, ujian yang pertama kali menggunakan kurikulum SBI (Sekolah Bertaraf internasional), serta naiknya standar nilai minimal ujian oleh karena itu perlu diadakannya upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menggunakan hipnosis. &lt;br /&gt;Hipnosis adalah keadaan terfokusnya perhatian pada objek fisik atau gambar mental tertentu yang menyebabkan subjek masuk kedalam keadaan hipnotis (tidur hipnotis) sehingga subjek menjadi sugestif terhadap sugesti yang diberikan (Kahija, 2007). Dengan menggunakan praktik hipnosis, kita bisa mengubah pikiran bawah sadar dengan memberikan sugesti yang positif untuk mengaktifkan dan meningkatkan potensi yang dimiliki manusia, karena pada dasarnya pikiran bawah sadar mempunyai potensi yang belum kelihatan dan ketika di hipnosis maka pikiran bawah sadar akan dimunculkan. Orang yang dihipnotis ketika memasuki gelombang alfa atupun theta akan menjadi sangat reseptif terhadap sugesti yang diberikan dan sugesti tersebut menetap menjadi kebiasaan (Gunawan,2007). &lt;br /&gt;Hipnosis adalah salah satu cara yang  cepat untuk mempengaruhi pikiran bawah sadar manusia. Apapun yang tersugestikan oleh penghipnotis kepada subjek maka sugesti itu akan dilakukan oleh subjek. Seperti eksperimen yang telah dilakukan oleh Dr. Liebault dan Prof. Beunis yang telah menghilangkan kecemasan seorang wanita ketika mendengar nama Frank  dengan menghipnotis wanita tersebut (Wardhana, 2008). &lt;br /&gt;Pada saat proses hipnosis terdapat proses dimana subek diberikan sugesti tertentu sesua dengan tujuan yang ingin dicapai. Sugesti adalah Suatu rangkaian kata-kata, atau kalimat, yang disampaikan dengan cara tertentu, dan dalam situasi tertentu, sehingga dapat memberikan pengaruh bagi mereka yang mendengarnya, sesuai dengan maksud &amp; tujuan sugesti tersebut (Nurindra, 2008). Sugesti  berfungsi untuk memperbaiki pikiran subyek tentang konsep diri, citra diri dan harga diri sehingga subyek mempunyai kepercayaan diri yang baik (Gunawan &amp; Ariesandi,  2007)&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang sudah dihipnosis dengan pemberian sugesti untuk meningkatkan kepercayaan diri maka kepercayaan dirinya juga tentu akan meningkat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Hipotesis&lt;br /&gt;Penelitian ini ingin menguji hipotesis yaitu ”Ada pengaruh pelatihan kepercayaan diri menggnakan metode hipnosis terhadap kepercayaan diri siswa menghadapi ujian semester”. Adapun kaidah menerima hipotesis apabila:&lt;br /&gt;1. Tidak ada perbedaan nilai rata-rata pre test antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen&lt;br /&gt;2. Tidak ada perbedaan nilai rata-rata antara skor pre test dan post test pada kelompok kontrol atau nilai rata-rata post test lebih rendah daripada skor pre test.&lt;br /&gt;3. Ada perbedaan nilai rata-rata pre test dan post test pada kelompok eksperimen, dimana nilai rata-rata post test lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata pre test&lt;br /&gt;4. Ada perbedaan nilai rata-rata antara skor post test kelompok eksperimen dengan skor post test pada kelompok kontrol, diamana nilai rata-rata post test kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata post test pada kelompok kontrol.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-4232052971065639498?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/4232052971065639498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=4232052971065639498&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/4232052971065639498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/4232052971065639498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2010/04/pengaruh-pelatihan-kepercayaan-diri_22.html' title='PENGARUH PELATIHAN KEPERCAYAAN DIRI  MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS TERHADAP  KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS X MENGHADAPI UJIAN SEMESTER (2)'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-2969060279567558666</id><published>2010-04-22T12:01:00.002+07:00</published><updated>2010-04-22T12:07:15.764+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstrak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ujian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SMU'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Unas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penelitian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hipnoterapi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='siswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hipnotis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnal. ilmiah'/><title type='text'>PENGARUH PELATIHAN KEPERCAYAAN DIRI  MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS TERHADAP  KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS X MENGHADAPI UJIAN SEMESTER</title><content type='html'>  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;PENGARUH PELATIHAN KEPERCAYAAN DIRI &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS TERHADAP&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS X MENGHADAPI UJIAN SEMESTER&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: center;" align="center"&gt;Peneliti Bayu W dan Setiyo Purwanto&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;BAB I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Latar Belakang Masalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Salah satu aspek kepribadian yang menunjukkan sumber daya manusia yang berkualitas adalah tingkat kepercayaan diri seseorang. Kepercayaan diri berfungsi penting untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki oleh seseorang. Banyak masalah yang timbul karena seseorang tidak memiliki kepercayaan diri, misalnya saja siswa yang menyontek saat ujian merupakan salah satu contoh bahwa siswa tersebut tidak percaya pada kemampuan dirinya sendiri, ia lebih menggantungkan kepercayaannya pada pihak lain. Hal ini menggambarkan ketidaksiapan terutama para diri siswa dalam menghadapi ujian. Selain itu rendahnya rasa percaya diri yang dimiliki siswa, mendorong siswa untuk melakukan kecurangan dalam mengerjakan soal-soal ujian. Hal ini dilakukan karena adanya perasaan-perasaan tertekan dan cemas yang dialami oleh siswa karena takut gagal dan tidak lulus dalam ujian nasional yang memiliki standar penilaian yang sangat ketat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1026" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" stroked="f"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 1; left: 0px; margin-left: 247px; margin-top: 251px; width: 40px; height: 40px;"&gt;  &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="background: white none repeat scroll 0% 50%; vertical-align: top; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" bgcolor="white" height="40" width="40"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]--&gt;&lt;span style="position: absolute; left: 0pt; z-index: 1;"&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;!--[endif]--&gt;     &lt;div shape="_x0000_s1026" style="padding: 3.6pt 7.2pt;" class="shape"&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;1&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;!--[if !mso]--&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;   &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !mso &amp; !vml]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Anthony (1992) mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan yang rendah cenderung membuat individu merasa dibawah kekuasaan yang lebih pandai, sebaliknya individu yang pendidikannya lebih tinggi cenderung akan menjadi mandiri dan tidak perlu bergantung pada individu lain. Individu tersebut akan mampu memenuhi keperluan hidup dengan rasa percaya diri dan kekuatannya dengan memperhatikan situasi dari sudut kenyataan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menurut Centi (1995) kepercayaan diri dipengaruhi oleh konsep diri. Semakin tinggi konsep dirinya maka kepercayaan dirinya tinggi, sedangkan bila konsep diri seseorang rendah maka kepercayaan dirinya rendah juga.. Sari (2008) meneliti mengenai hubungan kepercayaan diri dengan perilaku mencontek pada siswa SMK, dari hasil analisis menggunakan &lt;i&gt;product moment &lt;/i&gt;menunjukkan besarnya koefisien korelasi sebesar r = -0,315 dengan p = 0,001 (p&lt;0,05).&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seorang siswa yang memiliki kepercayaan diri akan berusaha keras dalam melakukan kegiatan belajar. Seseorang memiliki kepercayaan tinggi memiliki rasa optimis dalam mencapai sesuatu sesuai dengan diharapankan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kurang memiliki kepercayaan diri menilai bahwa dirinya kurang memiliki kemampuan. Penilaian negatif mengenai kemampuannya tersebut dapat menghambat usaha yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang akan dicapai. Pandangan dan penilaian negatif tersebut menyebabkan siswa tidak melakukan sesuatu kegiatan dengan segala kemampuan yang dimiliki. Padahal mungkin sebenarnya kemampuan tersebut dimilikinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menurut Handoko (2002) berapa sering terjadi bahwa kapasitas dari bakat menonjol hilang akibat kurangnya kepercayaan diri. Seseorang dengan kapasitas sama namun ketetapan hati yang tidak terkalahkan dan memiliki kepercayaan diri dapat menjadi berlipat lebih berhasil dari pada orang dengan kemampuan menonjol namun memiliki kehendak lemah dan kurang percaya diri. Jika seseorang menemukan kelemahan dan kekurangannya namun tidak memberi perhatian atau mengganggapnya dapat diabaikan itu berarti individu itu menganggap sebuah bagian penting dari dirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rendahnya rasa percaya diri dapat menyebabkan rasa tidak nyaman secara emosional yang bersifat sementara. Tetapi dapat menimbulkan banyak masalah. Rendahnya rasa percaya diri bisa menyebabkan depresi, bunuh diri, anoreksia nervosa, delinkuensi, dan masalah penyesuaian diri lainnya. Ketika tingkat percaya diri yang rendah berhubungan dengan proses belajar seperti prestasi rendah, atau kehidupan keluarga yang sulit, atau dengan kejadian-kejadian yang membuat tertekan, masalah yang muncul dapat menjadi lebih meningkat (Santrock, 2003).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rasa percaya diri adalah dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri sehingga rasa percaya diri juga disebut sebagai harga diri atau gambaran diri. (Santrock, 2003). Menurut Hakim (2002) kepercayaan diri secara sederhana bisa dikatakan sebagai suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan didalam hidupnya. Ellias (2002) menyatakan kepercayaan diri mendorong seseorang untuk mencoba bidang-bidang identitas baru, mengambil resiko positif, memajukan diri sendiri, dan mengembangkan kecakapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hattie (dalam Thalib, 2002) menjelaskan bahwa rasa percaya diri dapat membuat seseorang mempunyai pandangan diri positif serta kontrol diri yang baik. &lt;/span&gt;Dampak dari seseorang yang mempunyai kepercayaan diri, seperti yang dikatakan Lauster (1978) dan Waterman (1988) adalah bahwa seseorang yang mempunyai kepercayaan diri akan cenderung bersifat optimis..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Penelitian yang dilakukan oleh Riadani (2004) dengan judul hubungan antara kepercayaan &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;diri dengan kecenderungan neurotis pada remaja, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;yang memperoleh hasil nilai koefisien (r) = -0,410 dengan p &lt;&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Peneletian yang dilakukan Sukarti (2007) dengan judul &lt;i&gt;hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan menghadapi ujian nasional pada siswa kelas III SMU.&lt;/i&gt; Hasil olah data menggunakan korelasi &lt;i&gt;product moment &lt;/i&gt;dari &lt;i&gt;Pearson &lt;/i&gt;menunjukkan korelasi sebesar r = -0.608 dengan p = 0.000 (p&lt;0.01),&gt; &lt;/i&gt;ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kepercayaan diri dengan&lt;i&gt; &lt;/i&gt;kecemasan menghadapi ujian nasional. Semakin tinggi kepercayaan diri maka&lt;i&gt; &lt;/i&gt;semakin rendah kecemasan menghadapi ujian nasional. Sebaliknya semakin&lt;i&gt; &lt;/i&gt;rendah kepercayaan diri semakin tinggi kecemasan menghadapi ujian nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dari hasil interview yang kami lakukan terhadap siswa SMA N I Karanganyar kelas, diperoleh data bahwasanya mereka merasa kurang yakin terhadap kemampuan dirinya menghadapi ujian semester &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;karena ujian semester kali ini karena menggunakan kurikulum sekolah bertaraf internasional (SBI) untuk pertama kalinya. Selain itu mereka cemas jika penjaga ujian terlalu tegas sehingga mereka tidak bisa mencontek apabila kesulitan mengerjakan soal. Mereka juga merasa kurang percaya diri karena naiknya nilai minimal ujian mulai dari 6,5 menjadi 7.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Melambungkan rasa percaya diri merupakan salah satu fasilitator untuk mengevaluasi diri bagi jiwa seseorang. Seseorang yang percaya diri dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang sesuai dengan tahapan perkembangan dengan baik, merasa berharga, mempunyai keberanian, dan kemampuan untuk meningkatkan prestasinya, mempertimbangkan berbagai pilihan, serta membuat keputusan sendiri merupakan perilaku yang mencerminkan percaya diri (Lie, 2003). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cara untuk meningkatkan kepercayaan diri ini salah satunya adalah dengan melakukan pelatihan, yaitu suatu usaha untuk mengajarkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang berhubungan dengan tugas tertentu. &lt;/span&gt;Adapun tujuan dari pelatihan menurut Trulove (1995) adalah untuk meningkatkan kinerja secara langsung.&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pelatihan merupakan metode pembelajaran yang didasarkan pada konsep belajar dari pengalaman (experiental learning). &lt;/span&gt;Menurut Wills (dalam Retno, 2007) pelatihan adalah pemindahan pengetahuan dan keterampilan yang terukur dan yang telah ditentukan sebelumnya, oleh karena itu pelatihan harus memiliki tujuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan metode yang jelas untuk menguji apakah pengetahuan dan keterampilan yang diberikan sudah dapat dikuasai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Hipnosis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah suatu metode yang bertujuan untuk mengarahkan klien / subjek ke dalam kondisi yang menyerupai tidur yang dapat secara sengaja dilakukan kepada orang, dimana mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan memberikan respon pada pertanyaan yang diajukan dan dapat sangat terbuka dan reseptif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap sugesti yang diberikan oleh hipnotist dalam mempengaruhi orang lain untuk masuk ke dalam kondisi hipnotic / trans (Gunawan, W. Adi, 2007). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gil Boyne mendefinisikan hipnosis sebagai keadaan pikiran normal yang dicirikan dengan relaksasi yang dalam, keinginan mengikuti sugesti yang sejalan dengan kepercayaannya, pengaturan diri dan normalisasi sistem saraf pusat, sensivitas yang meningkat dan selektif terhadap stimuli eksternal dan mekanisme pertahanan psikis yang lemah. Kahija (2007), mendefiniskan hipnosis adalah sebagai keadaan terfokusnya perhatian pada objek fisik atau gambaran mental tertentu yang ditandai dengan meningkatnya sugestibiltas sebagai efek sikap kooperatif dengan orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menurut&lt;span style="color: red;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;teori behaviorisme pengondisian klasik dari Ivan Petrovich Pavlov (1849 – 1936) dan pengondisian operan dari Burrhus Frederick Skinner (1904 – 1990) membantu dalam proses induksi (proses mengantar klien sampai pada tidur hipnotik) dan sugesti posthipnotik (sugesti yang diberikan selama trans). Berdasarkan penelitian Ivan P Pavlov menjelaskan sugesti, otosugesti,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan daya sugesti (&lt;i&gt;suggestibility&lt;/i&gt;) dalam hipnosis. Setiap kata yang disugestikan adalah stimulus. Dengan memberikan stimulus itu berulang kali, maka refleks terkondisikan akan muncul. Sedangkan Skinner menyatakan bahwa memberi penguatan yang baik akan menimbulkan respon positif yang nantinya akan bermanfaat dalam mengubah perilaku, misalnya contoh verbal yang biasa digunakan dalam hipnosis adalah ucapan “bagus” ketika klien mengikuti sugesti (dalam Kahija, 2007).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam proses hipnosis terdapat proses dimana subek diberikan sugesti tertentu sesua dengan tujuan yang ingin dicapai. Sugesti adalah Suatu rangkaian kata-kata, atau kalimat, yang disampaikan dengan cara tertentu, dan dalam situasi tertentu, sehingga dapat memberikan pengaruh bagi mereka yang mendengarnya, sesuai dengan maksud &amp;amp; tujuan sugesti tersebut (Nurindra, 2008). Sugesti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berfungsi untuk memperbaiki pikiran subyek tentang konsep diri, citra diri dan harga diri sehingga subyek mempunyai kepercayaan diri yang baik (Gunawan &amp;amp; Ariesandi,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Hipnosis bekerja di pikiran bawah sadar klien / subjek karena pada pikiran bawah sadarlah kekuatan terbesar manusia tersimpan. Pikran bawah sadar manusia mempunyai fungsi 88% lebih banyak dari pada pikiran sadar yang berfungsi hanya 12%. Pikiran sadar manusia mempunyai fungsi mengidentifikasi informasi yang masuk, membandingkan, menganalisa, dan memutuskan. Pikiran bawah sadar manusia mempunyai fungsi atau menyimpan tentang kebiasaan (baik, buruk, dan refleks), emosi, memori jangka panjang, kepribadian, intuisi, kreatifitas, persepsi, &lt;i&gt;belief &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan &lt;i&gt;value&lt;/i&gt; (Gunawan &amp;amp; Setyono, 2007)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kahija&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(2007) menyatakan bahwa hipnosis mempunyai beberapa manfaat yaitu menangani histeria, analgesia, stres, fobia, gangguan kecemasan, perilaku merokok, kepercayaan diri, gangguan makan, gangguan tidur dan menyembuhkan pengguna psikoaktif. Seperti halnya penelitian yang telah dilakukan oleh Elliot (2009), yang menyatakan bahwa hipnosis dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan konsentrasi dan meningkatkan kepercayaan diri. Sharon M. Valente, RN, CS, PhD, FAAN (2003), bahwa hipnosis dapat memperbaiki &lt;i&gt;self-esteem, &lt;/i&gt;kecemasan dan meningkatkan kepercayaan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="position: relative; top: 12pt;" lang="IN"&gt;Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka peneliti mengajukan rumusan masalah “Apakah ada Pengaruh Pelatihan Kepercayaan Diri Menggunakan Metode Hipnosis Terhadap Kepercayaan Diri Siswa kelas X dalam Menghadapi Ujian Semester&lt;/span&gt;&lt;span style="position: relative; top: 11pt;" lang="IN"&gt;?”. Dengan rumusan masalah tersebut maka peneliti &lt;/span&gt;&lt;span style="position: relative; top: 12pt;" lang="IN"&gt;tertarik untuk mengetahui lebih lanjut dengan mengadakan penelitian dengan judul &lt;b&gt;“ Pengaruh Pelatihan Kepercayaan Diri Menggunakan Metode Hipnosis Terhadap Kepercayaan Diri Siswa Kelas X dalam Menghadapi Ujian Semester”.&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;B. Tujuan Penelitian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada pengaruh pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis terhadap kepercayaan diri siswa kelas X dalam menghadapi ujian semester.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;C. Manfaat penelitian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Secara Teoritis&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, bagi ilmu psikologi pada umumnya dan ilmu psikologi pendidikan pada khususnya, dengan memberi masukan mengenai pengaruh pelatihan kepercayaan diri menggunakan metode hipnosis terhadap kepercayaan diri menghadapi ujian skripsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Secara Praktis&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bagi pendidik      dan siswa, penelitian ini bisa di manfaatkan sebagai acuan untuk      meningkatkan kepercayaan diri menghadapi ujian semester.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bagi      masyarakat umum diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan      pemikiran tentang usaha-usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia      salah satunya terhadap kepercayaan diri dengan menggunakan metode hipnosis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bagi      peneliti selanjutnya atau pihak-pihak lainnya yang berkompeten dan      berminat pada masalah yang relatif sama dengan kajian ini, hasil      penelitian ini dapat menjadi informasi dan kontribusi sehingga bisa      melakukan penelitian serupa dengan variabel lain yang mempengaruhi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-2969060279567558666?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/2969060279567558666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=2969060279567558666&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/2969060279567558666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/2969060279567558666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2010/04/pengaruh-pelatihan-kepercayaan-diri.html' title='PENGARUH PELATIHAN KEPERCAYAAN DIRI  MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS TERHADAP  KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS X MENGHADAPI UJIAN SEMESTER'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-3259184165058138947</id><published>2010-04-13T11:02:00.001+07:00</published><updated>2010-04-13T11:37:50.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='halaqoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='problem solving'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tegas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abu sangkan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shalat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='khusyu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penelitian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='setiyo purwanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shalat center'/><title type='text'>PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH ANTARA JAMA’AH HALAQOH SHALAT KHUSYUK  DAN BUKAN JAMA’AH HALAQOH SHALAT  KHUSYUK DI SURAKARTA</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;div&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Kehidupan manusia di dunia tidak bisa terlepas dari berbagai macam permasalahan yang muncul secara bergantian. Dengan permasalahan-permasalahan tersebut, manusia semakin dinamis untuk berupaya mengembangkan daya nalar logis maupun mengembangkan semua potensi psikis yang dimilikinya. Hal tersebut diarahkan dalam upaya mengatasi masalah-masalah, sehingga pengejawantahannya akan ditampakkan proses belajar. Belajar dalam mengatasi masalah satu yang kemudian akan kembali mendapatkan masalah baru dengan siklus yang mungkin akan semakin kompleks.&lt;br /&gt;Setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam menghadapi persoalan hidup. Salah satu cara untuk menghadapi berbagai macam persoalan hidup adalah dengan melakukan pemecahan masalah. Pemecahan masalah adalah proses yang tercakup dalam masa menemukan urutan yang benar dari alternatif-alternatif jawaban yang mengarah pada satu sasaran atau ke arah pemecahan yang ideal (Chaplin,2001).&lt;br /&gt;Melakukan pemecahan masalah yang ideal sangat diharapkan setiap manusia dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Berbagai macam upaya dilakukan oleh setiap individu untuk menyelesaikan persoalan hidup, namun tidak semua individu mampu menyelesaikan masalahnya dengan baik dan memperoleh pemecahan masalah yang tepat mengenai permasalahan yang dihadapi. Lari (2003) berpendapat bahwa ketika memilih tujuan, individu hendaknya memperhatikan kekuatan potensi dan kemampuan yang dimilikinya, menjaga diri dari ambisi-ambisi yang tidak masuk akal, karena akan mengakibatkan kegagalan dan kekecewaan.&lt;br /&gt;Kegagalan dalam melakukan pemecahan masalah dapat mendesak individu untuk melakukan berbagai macam tindakan kriminal yang dilatarbelakangi oleh berbagai macam faktor, diantaranya karena himpitan ekonomi, dendam karena sakit hati, dan rendahnya iman seseorang. Jika seseorang memiliki tingkat keimanan yang baik, maka tidak akan melakukan tindakan yang dilarang oleh Allah SWT, misalnya pencurian, penodongan, perampokan, bahkan pembunuhan ataupun bunuh diri. Banyak juga masyarakat yang melarikan diri dari permasalahan dengan mengkonsumsi minuman keras ataupun obat-obatan terlarang. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Thabbarah (2001) yang berpendapat bahwa secara psikologis sebagai manusia apabila ruhnya tidak berhubungan dengan pencipta-Nya akan terlihat jelas gejala-gejala kegelisahan dan kemurungan saat individu mendapat musibah dan mengalami kegagalan dalam meraih cita-citanya, sehingga tidak jarang untuk mengatasi penderitaannya individu melarikan diri kepada obat-obatan atau minuman keras.&lt;br /&gt;Sebenarnya setiap individu memiliki potensi untuk memecahkan masalahnya sendiri, karena Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna. Manusia mempunyai kemampuan psikis secara bathiniah sebagai bekal untuk menghadapi berbagai tantangan dalam menjalani kehidupan, namun banyak diantara kita yang belum menggali dan mengembangkan potensi tersebut. Akibatnya kita masih merasakan kebingungan, kegelisahan, kesedihan, namun Allah SWT memberikan jalan menuju kelapangan jiwa melalui ibadah yang dapat  menghilangkan kesempitan dan kepedihan di dalam hati serta mampu mewujudkan kelapangan di dalam dada, yaitu melalui sholat. Seperti firman Allah SWT dalam [QS:Al-Hijr(15):97-98], yang artnya: “Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)”.&lt;br /&gt;Thabbarah (2001) menambahkan bahwa shalat dapat membuka peluang kepada seseorang untuk mengajukan permohonan kepada pencipta-Nya tentang apa saja yang diinginkan. Orang-orang yang melakukan shalat akan terkecuali dari sifat manusia pada umumnya, mereka tidak berkeluh kesah dalam kesusahan dan kemiskinan, karena mereka akan terlihat sabar, sadar dan insyaf, pemurah, serta tawakal dalam menghadapi berbagai macam permasalahan.&lt;br /&gt;Melaksanakan shalat merupakan hal wajib bagi setiap mukmin, karena dengan shalat kita akan menjadi tenang dan sabar. Sebagaimana yang tercantum dalam [QS:Al-Baqarah(2):45], yang artinya “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”.&lt;br /&gt;Setiap manusia berusaha untuk dapat melaksanakan shalat dengan khusyuk. Ahmad (2006), mengatakan bahwa khusyuk memiliki pengertian sebagai perasaan di dalam jiwa yang nampak dari anggota badan, berupa ketenangan dan ketawadhu’an, sebagai buah dari kokohnya keyakinan di dalam hati terhadap pertemuan dengan Allah SWT. Namun tidak semua orang yang sholat mendapatkan kekhusyukan dalam shalat, karena perasaan khusyuk tidak mungkin bisa didapatkan jika kita tidak memiliki kesadaran dan kepercayaan, bahwa sebenarnya di saat shalat kita sedang berhadapan dengan Allah. Shihab (2000) mengatakan khusyuk adalah tenang dan rendah hati lahir bathin.&lt;br /&gt;Khusyuk dalam shalat sangat diinginkan oleh setiap mukmin, karena dengan khusyuk kita dapat benar-benar merasakan bahwa shalat adalah sebagai penolong, sehingga banyak juga masyarakat yang tertarik untuk mengikuti halaqoh shalat khusyuk. Halaqoh jamaah shalat khusyuk yang di Surakarta hanya ada satu, yaitu di Masjid Fatimah. Kegiatan halaqoh tersebut dilaksanakan setiap senin malam, yang berisi tentang ceramah dan pengajian yang bertujuan untuk mendapatkan khusyuk di dalam shalat.&lt;br /&gt;Ibu MH (36 tahun) yang merupakan salah satu anggota jama’ah halaqoh  shalat khusyuk di Masjid Fatimah Surakarta menuturkan bahwa dengan mengikuti jama’ah halaqoh shalat khusyuk, beliau memandang suatu permasalahan adalah sebuah ujian yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya, sehingga beliau semakin menyadari dan meyakini bahwa suatu masalah harus dilalui dengan tenang, meminta tuntunan dari Allah SWT dengan berdo’a, beristigfar dan meminta perlindungan dari Allah SWT agar senantiasa terhindar dari godaan syaithan, membaca syahadat dan sabar yaitu dengan cara menerima dengan ikhlas apapun masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;Tidak jauh berbeda seperti penuturan Bapak TY (30 tahun) yang merupakan anggota jama’ah halaqoh shalat khusyuk, yang mengatakan bahwa manusia harus menerima permasalahan apapun dengan pasrah. Melalui shalat, maka manusia akan menyadari bahwa manusia adalah roh yang harus menerima semua masalah, karena penyelesaian masalah yang diberikan oleh Allah SWT juga akan selesai karena Allah SWT. Jadi manusia harus meyakini bahwa penyelesaian masalah akan digerakkan oleh Allah SWT, sehingga manusia akan difahamkan melalui permasalahan yang dihadapi.&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Ibu NH (38 tahun) yang meyakini bahwa suatu penyelesaian masalah dapat dilakukan dengan cara silatun (menghubungkan diri dengan Allah SWT secara langsung) yang kemudian dilanjutkan dengan shalat, karena beliau merasa bahwa dengan shalat maka Allah SWT segera memberikan jawaban akan permasalahan yang dihadapi, sehingga setiap permasalahan dan musibah yang dihadapi dapat diterima sebagai suatu pelajaran dari Allah SWT yang harus diterima dengan pasrah dan ikhlas.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, maka upaya yang dilakukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk adalah untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah yang dilakukan dengan berbagai cara diantaranya; sabar, syukur, ikhlas, pasrah, menerima dan memaafkan.&lt;br /&gt;Berbagai pendapat dari anggota jama’ah shalat khusyuk, maka dapat dikatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah pada halaqoh jama’ah shalat khusyuk lebih baik dibandingkan dengan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk. Dalam hal ini, jama’ah halaqoh shalat khusyuk memandang bahwa suatu permasalahan sebagai hal yang positif, karena setiap masalah akan selesai karena Allah SWT. Melalui shalat Allah SWT akan memberikan jawaban dan perlindungan, sehingga manusia akan mendapatkan solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;Menghadapi berbagai macam persoalan yang dihadapi, manusia terkadang merasakan bimbang dalam pemecahan masalah. Namun dengan shalat manusia tidak akan merasa sendiri dalam menghadapi berbagai macam kesulitan. Walaupun ia tidak melihatnya tapi hatinya tahu bahwa Allah melihat-Nya, dengan kondisi kejiwaan tersebut ia mampu mengungkapkan perasaannya kepada Allah, ia akan berdoa, memohon dan mengadu kepada Allah yang maha mengetahui. Melaksanakan shalat dengan khusyuk segala persoalan yang dihadapi dan menghimpit seseorang serta menekannya akan teratasi, jiwa menjadi tenang dan cerah kembali, Daradjat (1990). Analisis kejiwaan tersebut dapat dipahami pentingnya shalat khusyuk dalam diri manusia, sehingga dapat menjadi penolong dalam menghadapi persoalan.&lt;br /&gt;Alasan dalam penelitian ini memilih jama’ah halaqoh sholat khusyuk karena shalat adalah tempat untuk berserah diri kepada Allah SWT. Melalui shalat khusyuk, maka Allah akan memberikan pertolongan kepada umatnya. Semakin berserah diri kepada Allah SWT maka pemecahan masalah akan datang, sehingga akan menumbuhkan suatu kenikmatan dan ketenangan dalam memecahkan suatu permasalahan.&lt;br /&gt;B. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;Berkaitan dengan uraian diatas, penulis menemukan rumusan masalah tersebut: “Apakah ada perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara jama’ah halaqoh shalat khusyuk dan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk di Surakarta?” Dari pertanyaan tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah antara Jama’ah Halaqoh Shalat Khusyuk dan Bukan Jama’ah Halaqoh Shalat Khusyuk di Surakarta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kemampuan Pemecahan Masalah&lt;br /&gt;1. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah&lt;br /&gt;Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari adanya masalah. Setiap masalah selalu muncul dalam bentuk dan tingkat kerumitan yang bermacam-macam. Istilah masalah dapat mendorong reaksi negative bagi individu yang menghadapi. Menurut Kneeland (2001) masalah adalah kesenjangan antara apa yang terjadi dengan segala hal dan apa yang seharusnya terjadi dengan hal-hal tersebut. Pemecahan masalah sering melibatkan hal-hal yang sudah terjadi.&lt;br /&gt;Setiap individu berusaha untuk melakukan pemecahan masalah yang muncul dengan berbagai cara yang berbeda sesuai dengan pengalaman masa lalu. Walaupun pada dasarnya tujuan pemecahan masalah adalah sama yaitu mendapatkan solusi atau jalan keluar dan melepaskan diri dari perjalanan yang dihadapi. Chaplin (2001) dalam kamus lengkap Psikologi menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah proses yang tercakup dalam masa menemukan urutan yang benar dari alternatif-alternatif jawaban yang mengarah pada satu sasaran atau ke arah pemecahan yang ideal.&lt;br /&gt;Anderson (dalam Suharnan, 2005) berpendapat bahwa individu dikategorikan sebagai pemecah masalah yang buruk apabila cenderung menemukan masalah dengan sikap tidak senang, sering merasa terancam, dan cenderung menghindari untuk memikirkan masalah&lt;br /&gt;Menurut Thurstone (dalam Walgito, 2003) berpendapat bahwa individu dalam mengartikan suatu masalah akan bersifat positif bila masalah tersebut menimbulkan perasaan senang, sehingga individu bersifat menerima, tetapi dapat juga bersifat negatif jika masalah tersebut menimbulkan perasaan tidak enak sehingga individu bersifat menolak.&lt;br /&gt;Menurut Piaget (dalam Davidoff, 1988) proses pemecahan masalah manusia didefinisikan sebagai suatu usaha yang cukup keras, yang melibatkan suatu tujuan dan hambatan-hambatannya. Individu yang memiliki satu tujuan, akan menghadapi persoalan, dengan demikian individu tersebut menjadi terangsang untuk mencapai tujuan itu dan mengusahakan sedemikian rupa, sehingga persoalan tersebut dapat diatasi.&lt;br /&gt;Levine (dalam Susilowati, 2004) mengemukakan bahwa individu dikatakan memiliki kemampuan pemecahan dengan baik apabila dapat menyelesaikan masalah secara efektif. Lebih lanjut Billing’s dan Moos (dalam Kresnawati, 2004) menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah usaha individu untuk memikirkan dan mempertahankan beberapa alternative pemecahan yang mungkin dilakukan atau melakukan tindakan tertentu yang lebih bertujuan pada cara-cara penyelesaian masalah secara langsung.&lt;br /&gt;Dari beberapa pendapat diatas dapat diperoleh pengertian bahwa kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan individu dalam usahanya mencari jawaban atau jalan keluar terhadap permasalahan yang dimiliki atau dihadapi sehingga diperoleh hasil pemilihan salah satu jawaban dari beberapa alternatif pemecahan yang mengarah pada satu tujuan tertentu.&lt;br /&gt;2.   Aspek-aspek Pemecahan Masalah&lt;br /&gt;Menurut Anderson (dalam Suharnan, 2005), yang membedakan dua aspek penting di dalam pemecahan masalah, yaitu:&lt;br /&gt;a. Sikap (Attitudes)&lt;br /&gt;1. Berpikir positif terhadap masalah. Menjadi seorang yang bisa mencari masalah, yaitu mencari kesenjangan yang ada pada diri sendiri dan orang lain dengan mencari penyebab ketidaknyamanan atau kesenjangan tersebut.&lt;br /&gt;2. Berpikir positif terhadap kemampuan memecahkan masalah. Melihat diri sebagai seorang yang bisa dan mampu memecahkan masalah dengan mengenali sumber-sumber kekuatan yang ada pada diri sendiri dan mencari sumber-sumber eksternal yang sekiranya dapat membantu dalam memecahkan masalah.&lt;br /&gt;3. Berpikir secara sistematis. Menyelesaikan masalah dengan penuh kesadaran melalui tahap-tahap yang telah direncanakan agar diperoleh suatu kesimpulan.&lt;br /&gt;b. Tindakan (Action)&lt;br /&gt;1. Merumuskan masalah. Menentukan ruang lingkup masalah, memahami pokok masalah dan mampu menyatakan situasi sekarang dan situasi yang diharapkan dengan jelas.&lt;br /&gt;2. Mencari dan mengumpulkan fakta. Menentukan sumber-sumber fakta dan mendapatkan cukup fakta serta memikirkan secara teliti mengenai setiap fakta yang dikumpulkan.&lt;br /&gt;3. Memfokuskan pikiran pada fakta-fakta yang penting. Memikirkan karakteristik penting yang ditemukan dari fakta dan relevansinya dengan tujuan yang menjadi sasaran.&lt;br /&gt;4. Menemukan gagasan (ide). Mencari dan menemukan banyak gagasan dengan satu gagasan yang luar biasa, menghindari penilaian negatif terhadap gagasan tersebut, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bersifat umum menuju pada kemungkinan yang lebih khusus.&lt;br /&gt;5. Memilih gagasan terbaik dan melaksanakannya. Memilih satu gagasan terbaik di antara gagasan-gagasan yang dihasilkan dan mempertimbangkan semua kriteria penting untuk mengevaluasi gagasan-gagasan dan semua kejadian penting yang dapat mempengaruhi nilai atau kegunaan gagasan-gagasan itu, dan melaksanakan gagasan tersebut.&lt;br /&gt;Pengukuran kemampuan masalah dapat dilaksanakan dengan melibatkan berbagai jenis aspek dari beberapa ahli, yaitu Folkman dan Lazarus (dalam Hernawati, 2006) antara lain:&lt;br /&gt;a. Menghadapi masalah&lt;br /&gt;Yaitu usaha yang dilakukan untuk menghadapi masalah secara tenang, rasional dan mengarah pada pemecahan masalah dengan memusatkan perhatian pada masalah yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;b. Perencanaan pemecahan masalah&lt;br /&gt;Yaitu usaha untuk melakukan perencanaan untuk bertindak dalam memecahkan masalah.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa aspek-aspek pemecahan masalah meliputi sikap dan tindakan yang meliputi berpikir positif terhadap masalah, berpikir positif terhadap kemampuan memecahkan masalah, berpikir secara sistematis, merumuskan masalah, mencari dan mengumpulkan fakta, memfokuskan pikiran pada fakta-fakta penting, menemukan gagasan (ide), memilih gagasan terbaik dan melaksanakannya serta menghadapi masalah dan perencanaan pemecahan masalah.&lt;br /&gt;3.   Langkah-langkah Pemecahan Masalah&lt;br /&gt;Individu dalam kenyataannya tidak selalu mampu menyelesaikan masalah yang datang padanya. Dalam mengahadapi masalah, individu ada kalanya menggunakan suatu cara lain walaupun menghadapi masalah yang sama.&lt;br /&gt;Menurut Monica (1998), menjelaskan langkah-langkah dalam memecahkan masalah, yaitu:&lt;br /&gt;a. Pengenalan masalah. Suatu masalah dikenali melalui perbedaan antara apa yang terjadi dalam suatu situasi (aktual) dan apa yang seseorang inginkan untuk terjadi (optimal). Setelah berfikir tentang area-area permasalahan ini selanjutnya memfokuskan pada suatu masalah tertentu.&lt;br /&gt;b. Definisi masalah. Setelah mengenali masalah maka pernyataan masalah harus spesifik.&lt;br /&gt;c. Pilihan tindakan. Pilihan tindakan masalah merupakan beberapa jalan keluar dari masalah. Untuk setiap pilihan tindakan, perlu dibuat dukungan hasil-hasil positif dan negatifnya.&lt;br /&gt;d. Pelaksanaan dan evaluasi. Melaksanakan berarti melakukan atau menerapkan tindakan. Setelah seseorang menentukan pilihan tindakan maka tindakan itu harus dilaksanakan. Sebelum pelaksanaan, evaluasi muncul sebagai sebuah tanggung jawab dan tetap penting sampai tindakan telah selesai dilakukan.&lt;br /&gt;Menurut Woolfolk dan Nicolich (2004), secara umum terdapat empat langkah untuk memecahkan masalah:&lt;br /&gt;a. Memahami masalah. Langkah pertama untuk memecahkan masalah adalah menetapkan secara tepat apa masalahnya yaitu dengan menemukan informasi yang relevan pada masalah yang ada.&lt;br /&gt;b. Menyeleksi solusi. Setelah menentukan masalahnya, kemudian merencanakan strategi dengan menyimpulkan bahwa situasi yang ada sama seperti masalah sebelumnya dan mencoba apa yang berhasil sebelumnya.&lt;br /&gt;c. Memutuskan rencana.&lt;br /&gt;d. Mengevaluasi hasil yaitu meliputi pengecekan fakta baik yang menguatkan maupun melemahkan dari solusi masalah serta mengidentifikasi solusi yang terbaik.&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Prasetya (2002), langkah dalam memecahkan masalah ada empat langkah, yaitu:&lt;br /&gt;a. Menentukan dan menyusun prioritas tujuan. Tahap pertama adalah menentukan tujuan yang hendak dicapai dari keputusan yang akan dibuat sekaligus membuat prioritas tujuan menurut latar belakang kepentingannya. Prioritas ini disusun berdasarkan tingkatan kebutuhan sampai dengan keinginan. Artinya, tujuan akan menjadi sangat penting jika tujuan tersebut dibutuhkan sekali, tujuan dapat diperinci secara operasional dengan bantuan beberapa pertanyaan apa, berapa, kapan, dimana, dan bagaimana seperti berikut ini; apa yang harus dibuat, berapa yang harus dipenuhi, kapan harus dilaksanakan, dimana harus dikirim, dan bagaimana cara membuatnya.&lt;br /&gt;b. Menyusun, menilai dan memilih alternatif. Yakni dilakukan penyusunan berbagai alternatif yang dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Penilaian alternatif yang ada dilakukan dengan tingkat kemungkinan untuk dapat memenuhi tujuan, selain juga dari tingkat pemanfaatan sumber untuk mencapai tujuan. Alternatif terbaik adalah alternatif yang optimal pencapaian tujuan dan pemanfaatan sumbernya.&lt;br /&gt;c. Menghitung konsekuensi pilihan. Pengertian konsekuensi adalah resiko yang ditimbulkan dari suatu pilihan dalam satuan persoalan potensial yang telah diidentifikasi sebelumnya.&lt;br /&gt;d. Mengawasi pelaksanaan keputusan. Setelah konsekuensi pilihan optimal terukur. Maka tahap selanjutnya adalah mengawasi pelaksanaan keputusan itu sendiri. Pelaksanaan keputusan harus diawasi ekstra untuk mengantisipasi berbagai perubahan yang mungkin terjadi pada saat keputusan itu terjadi pada saat keputusan itu diimplementasikan selain untuk mengatasi persoalan potensial yang sudah diperhitungkan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Lebih lanjut Kneeland (2001) mengemukakan enam langkah pemecahan masalah, yaitu:&lt;br /&gt;a. Menyadari adanya permasalahan. Sesuatu yang menarik perhatian dan memerlukan perhatian secara khusus.&lt;br /&gt;b. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan. Menyelidiki lingkungan dn menanyakan beberapa pertanyaan sehingga terkumpul fakta-fakta.&lt;br /&gt;c. Mendefinisikan permasalahan. Meyakini bahwa telah memahami dan masalah secara keseluruhan.&lt;br /&gt;d. Mengembangkan pilihan-pilihan solusi.menentukan apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara mengerjakan.&lt;br /&gt;e. Memilih solusi terbaik. Hal ini dilakukan setelah memiliki apa saja yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;f. Menerapkan solusi. Melihat atau mengevaluasi hasil-hasil untuk mengetahui apakah permasalahan sudah dipecahkan.&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan pemecahan masalah individu akan melalui beberapa tahap antara lain: mengenali atau mengidentifikasi masalah yang dihadapi, mengumpulkan informasi berkaitan dengan masalahnya, menentukan alternatif yang baik, pelaksanaan pemecahan masalah berdasar dari alternatif yang dipilih serta melakukan evaluasi.&lt;br /&gt;4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Pemecahan Masalah&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah, meliputi:&lt;br /&gt;a. Inteligensi. Ester (dalam Walgito, 2003) mengemukakan bahwa dalam pemecahan masalah cepat atau lambatnya tergantung dari tingkat inteligensi individu yang bersangkutan. Faktor inteligensi dianggap memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan pemecahan masalah.&lt;br /&gt;b.   Usia. Sejalan dengan bertambah usia maka individu akan semakin matang dan kemampuan pemecahan masalah akan semakin bertambah. Kematangan tersebut ditunjukkan dengan usaha pemecahan masalah yang merupakan produk dari kemampuan berpikir yang lebih sempurna yang ditunjang dengan sikap serta pandangan yang rasional (Mappiare, 1982)&lt;br /&gt;c.   Jenis kelamin. Pria kebanyakan lebih mampu melakukan pemecahan masalah daripada wanita, karena pria dituntuk untuk tidak tergantung pada orang lain tetapi harus bertahan. Pria lebih menggunakan rasio sehingga dalam pemecahan masalah dibutuhkan ketegasan dan rasionalitas dalam menghadapi masalah. Blood (dalam Setiyowartini, 2008) berpendapat bahwa wanita diperbolehkan bersandar secara emosional pada pria. Disamping itu secara kodrati perempuan cenderung untuk menggunakan perasaannya dalam menghadapi masalah.&lt;br /&gt;d.  Kreativitas. Merupakan suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan cara baru dalam memandang masalah dan solusinya (Munandar, 1994). Semakin tinggi tingkat kreativitas individu, semakin banyak ide atau alternatif yang dia temukan.&lt;br /&gt;5. Konsentrasi. Konsentrasi dalam memecahkan masalah mutlak diperlukan. Suadirman (1992), mengatakan bahwa konsentrasi adalah pemusatan segenap kekuatan pada situasi tertentu, sehingga tidak diperhitungkan sekedarnya. Selanjutnya Suadirman (1992) mengatakan bahwa konsentrasi seseorang terhadap suatu masalah mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah.&lt;br /&gt;6. Kepercayaan diri (Astono, 2001) mengungkapkan bahwa tumbuhnya kepercayaan diri akan mendorong dan merangsang individu dalam mencoba dan mencari cara baru untuk dipecahkan.&lt;br /&gt;7. Lingkungan sosial yaitu lingkungan dimana seseorang mengadaptasi cara-cara penyelesaian masalah melalui komunikasi dalam keluarga. Monks, dkk (2002) bahwa komunikasi dalam keluarga akan membantu seseorang menyelesaikan masalahnya atau tugasnya dan memberikan kepuasan yang bersifat personal. Adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasi-informasi tentang penyelesaian masalah sejak awal.&lt;br /&gt;Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah meliputi inteligensi, usia, jenis kelamin, kreativitas, konsentrasi, pengalaman, kepercayaan diri dan lingkungan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Shalat Khusyuk&lt;br /&gt;1. Pengertian Shalat&lt;br /&gt;Dalam ilmu fiqih, shalat diartikan sebagai suatu macam bentuk ibadah yang diwujudkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan tertentu disertai dengan ucapan-ucapan tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu (Daradjat, 1990).&lt;br /&gt;Shalat merupakan santapan spiritual dan obat yang dapat menyembuhkan segala gejala jiwa, mengurangi atau menghilangkan rasa takut, cemas dan memberikan kekuatan pada yang lemah (Al Hasani, 1992). Selain itu shalat dalam bahasa arab diartikan sebagai doa memohon kebajikan dan pujian (Ash Siddieqy, 1986).&lt;br /&gt;Menurut Ash. Shiddieqy (1986) bahwa shalat adalah perbuatan mendekatkan hati dan jiwa kepada Allah yang mendatangkan rasa takut dan menumbuhkan rasa pengakuan kebenaran-Nya dan kekuasaan-Nya dengan penuh khusyuk dan ikhlas didalam perkataan dan perbuatan yang dimulai dari takbir dan diakhir dengan salam.&lt;br /&gt;Sangkan (2006) mengemukakan bahwa shalat merupakan suatu aktivitas jiwa (soul) yang termasuk dalam kajian ilmu psikologi transpersonal, karena shalat adalah proses perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui Tuhan semesta alam. Shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkut peshalat mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi (altered stated of consciousness) dan pengalaman puncak (peak experience). Shalat adalah salah satu cara ibadah yang berkaitan dengan meditasi transcendental, yaitu mengarah jiwa pada satu obyek dalam waktu beberapa saat, seperti halnya dalam melakukan hubungan langsung antar hamba dengan Tuhan ketika shalat, Ruhani bergerak menuju zat yang maha mutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan panca indera melepaskan diri dari segala macam keruwetan peristiwa sekitar kita, termasuk keterkaitannya terhadap sensasi tubuhnya seperti rasa sedih, gelisah, rasa cemas dan lelah. Bentuk perjalanan kejiwaan dalam shalat ini oleh para ahli psikologi disebut kejiwaan dalam shalat ini oleh para ahli psikologi disebut proses untuk memasuki kesadaran psikologi transpersonal.&lt;br /&gt;Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa shalat merupakan suatu perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Dengan kita melakukan shalat maka dapat memberikan ketenangan hati dan jiwa, serta melepaskan diri dari segala macam keruwetan peristiwa di sekitar kita dan segala gejala jiwa diantaranya ketakutan, cemas rasa sedih dan gelisah.&lt;br /&gt;2. Dasar Hukum Shalat&lt;br /&gt;Melaksanakan shalat adalah wajib bagi setiap orang yang sudah mukallaf (terbebani kewajiban syari'ah), baligh (telah dewasa/dengan ciri telah bermimpi), dan 'aqil (berakal).  Allah SWT berfirman dalam [QS:An-Nisa’(4):103], yang artinya: ”…Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” . kemudian Allah SWT juga berfirman dalam [QS:Al-Bayyinah(98):5], yang artinya: "Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka hanya beribadah/menyembah kepada Allah sahaja, mengikhlaskan keta'atan pada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan hanif (lurus), agar mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, demikian itulah agama yang lurus". Berdasarkan uraian diatas, maka diperoleh kesimpulan bahwa hukum shalat adalah wajib bagi setiap mukmin.&lt;br /&gt;3.  Kedudukan Shalat&lt;br /&gt;Shalat merupakan salah satu rukun Islam setelah syahadatain .Amal yang paling utama setelah syahadatain. Seseorang yang menolak kewajibannya maka dia harus dipahamkan tentang wajibnya shalat tersebut, barangsiapa tidak meyakini tentang wajibnya shalat (menentang) maka dia telah kafir. Barangsiapa yang meninggalkan shalat karena menggampang-gampangkan atau malas, maka wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah. Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Pemisah di antara kita dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir." (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;Shalat dalam Islam mempunyai kedudukan yang tidak sama dengan ibadah-ibadah yang lain, karena shalat merupakan tiang agama. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan: "Pondasi (segala) urusan adalah Islam, dan tiangnya (Islam) adalah shalat, sedangkan yang meninggikan martabatnya adalah jihad fi sabilillah."(HR. Tirmidzi)&lt;br /&gt;Shalat merupakan kewajiban mutlak yang tidak pernah berhenti kewajiban melaksanakannya sekalipun dalam keadaan takut, sebagaimana firman Allah dalam [QS:Al-Baqarah(2):238-239], yang artinya: "Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa, berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk. Jika kamu dalam keadaan takut (akan bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah) sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.”&lt;br /&gt;Shalat adalah ibadah yang pertama kali diwajibkan Allah dan nantinya akan menjadi amalan pertama yang dihisab di antara malan-amalan manusia serta merupakan akhir wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya: "Shalat, shalat dan budak-budak yang kamu miliki."&lt;br /&gt;(HR. Ibnu Majah dan Ahmad)&lt;br /&gt;Shalat yang nantinya akan menjadi amalan terakhir yang hilang dari agama ini. Jika shalat telah hilang, berarti hilanglah agama secara keseluruhan. Untuk itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan dengan sabdanya: "Tali-tali (penguat) Islam sungguh akan musnah seikat demi segera berpegang dengan ikatan berikutnya (yang lain). Ikatan yang pertama kali binasa adalah hukum, dan yang terakhir kalinya adalah shalat."&lt;br /&gt;(HR. Ahmad)&lt;br /&gt;4. Macam-macam Shalat&lt;br /&gt;Dalam buku LPID (2005) pengertian shalat wajib (fardlu) adalah shalat lima waktu yang diwajibkan oleh Allah SWT dalam sehari semalam yang disyari’atkan pada tahun 11 dari kenabian Muhammad SAW atau tahun 621 M ketika belaiau dimi’rajkan. Oleh karena itu shalat merupakan mi’rajnya kaum muslimin. "Innash Shalata Kaanat Alal Mu'miniina Kitaaban Mauquuta (Shalat itu wajib dikerjakan oleh muslim/mu'min yang sudah ditentukan waktu-waktunya)", dan akan mendapat pahala dari Allah SWT bila mengerjakannya, serta akan mendapat siksa dari Allah SWT bila tidak mengerjakannya.&lt;br /&gt;Adapun macam-macam shalat wajib atau shalat fardlu dan shalat sunnah rawatib sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.      Shalat Isya' yaitu sholat yang dikerjakan empat raka'at dengan dua kali tasyahud dan satu kali salam. Waktu pelaksanaannya dilakukan menjelang malam ± pukul 19:00 sampai menjelang fajar, yang diiringi dengan sholat sunnah qobliyah (sebelum) dan ba'diyah (sesudah) shalat isya.&lt;br /&gt;b.      Shalat Subuh yaitu shalat yang dikerjakan dua raka'at dengan satu kali salam. Adapun waktu pelaksanaannya dilakukan setelah fajar ± pukul 04:10 yang hanya diiringi dengan shalat sunnah qobliyah (sebelum) saja, sedang ba'diyah (sesudah) dilarang.&lt;br /&gt;c.      Shalat Dhuhur yaitu shalat yang dikerjakan empat raka'at dengan dua kali tasyahud dan satu kali salam. Adapun waktu pelaksaannya dilakukan saat matahari tepat di atas kepala atau tegak lurus,  ± pukul 12:00 siang, yang diiringi dengan shalat sunnah qobliyah (sebelum) dan shalat sunnah (sesudah) ba'diyah (dua raka'at-dua raka'at atau empat raka'at-empat raka'at dengan satu kali salam).&lt;br /&gt;d.      Shalat Ashar yaitu shalat yang dikerjakan empat raka'at dengan dua kali tasyahud dan satu kali salam. Adapun waktu pelaksanaannya dilakukan setelah matahari tergelincir, ± pukul 15:15 sore atau sebatas pandangan mata yang hanya diiringi oleh shalat sunnah qobliyah (sebelum) dengan dua raka'at atau empat raka'at dengan satu kali salam.&lt;br /&gt;e.      Shalat Maghrib yaitu shalat yang dikerjakan tiga raka'at dengan dua kali tasyahud dan satu kali salam. Adapun waktu pelaksanaanya dilakukan setelah matahari terbenam, ± pukul 18:00 yang diiringi oleh shalat sunnah ba'diyah (sesudah) dua raka'at atau empat raka'at dengan satu kali salam, sedang shalat sunnah qobliyah (sebelum) hanya dianjurkan bila mungkin  lakukan, tapi bila tidak mungkin lebih baik tidak dilakukan karena akan kehabisan waktu.&lt;br /&gt;Bila dalam keadaan normal shalat wajib harus dikerjakan sesuai waktunya, tapi bila dalam keadaan bepergian jauh ± 81 Km atau dalam keadaan yang sulit, boleh dilakukan dengan cara jama' yaitu dengan ketentuan jumlah raka'atnya tidak berkurang. Jama' dibagi menjadi dua, yaitu :&lt;br /&gt;a. Jama' Taqdim : shalat yang dikerjakan dalam satu waktu dengan menarik waktu yang terbelakang, seperti : shalat Ashar dilakukan pada waktu shalat Dhuhur, dan shalat Isya dilakukan pada waktu shalat Maghrib, kesemuanya itu dilakukan secara bersama-sama.&lt;br /&gt;b. Jama' Ta'khir : shalat yang dikerjakan dalam satu waktu dengan mengakhirkan waktu yang pertama, seperti : shalat Dhuhur dilakukan pada waktu shalat Ashar dan shalat Maghrib dilakukan pada waktu shalat Isya.&lt;br /&gt;5. Arti Kata Khusyuk&lt;br /&gt;Shalat merupakan kunci yang menghantarkan seorang mukmin untuk meraih rahmat Allah lebih besar, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan adanya rahmat dari Allah, maka setiap permasalah hidup yang dihadapi akan lebih terasa ringan, karena Allah adalah maha penolong.&lt;br /&gt;Khusyuk dilihat dari segi bahasa berasal dari kata khasya’a yang berarti takluk atau tunduk. Arti kata khusyuk menurut Al Baghawi (dalam Thalib, 2001) khusyuk adalah tenang, sujud dan lirih. Sedangkan menurut Ibnu Qoyyim (dalam Thalib, 2001) khusyuk adalah tunduk menerima perintah dan hukum Allah serta menerima perintah-perintah Allah dengan penerimaan yang baik. Shihab (2002) mengatakan khusyuk adalah tenang dan rendah hati lahir batin. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa arti kata khusyuk adalah takluk dan tunduk, tenang, sujud, lirih dan tenang karena takut serta menerima perintah Allah dengan baik.&lt;br /&gt;6. Pengertian Shalat Khusyuk&lt;br /&gt;Islam telah diajarkan tentang bagaimana cara pelaksanaan shalat sesuai dengan ajaran Ilahi, sehingga kita akan mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dan dapat menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan (Yusuf, 1985)Selanjutnya Yusuf (1985) mendefinisikan shalat khusyuk adalah shalat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan memusatkan perhatian. Pada shalat itu dapat melupakan segala hal yang lain. Hanya hubungan dengan Allah itulah yang memenuhi jiwa saat melakukan shalat tadi.&lt;br /&gt;Al- Ghazali (1995) menyebutkan bahwa makna shalat khusyuk adalah sebagai kerendahan hati untuk berbincang-bincang dengan Allah. Selanjutnya Daradjat (1990) mendefenisikan menjalankan shalat secara khusyuk adalah melaksanakan shalat secara sungguh-sungguh, berusaha untuk mengkonsentrasikan diri hanya ingat kepada Allah melalui makna bacaan shalat.&lt;br /&gt;Khusyuk merupakan upaya menghadirkan kebesaran Allah dalam benak, pada hakikatnya bertingkat-tingkat. Para ulama fiqh ketika menetapkan sunnahnya khusyuk melihat pada khusyuk yang peringkatnya tinggi, dan ketika mereka menetapkan bentuk khusyuk dalam bentuk minimal (Shihab, 2002). Selanjutnya Shihab (2000) menyatakan banyak orang menduga bahwa khusyuk dalam shalat menjadikan seseorang larut dalam rasa dan ingatan kepada Allah SWT tidak mengingat selain-Nya, dan tidak merasakan sesuatu yang tidak berhubungan dengan-Nya. Hal ini mustahil dilakukan kecuali oleh sebagian kecil manusia. Al-Ghazali (1995) menyatakan bahwa persyaratan adanya khusyuk pada seluruh bagian shalat sangat sulit diterapkan, dan ada jalan darurat, yakni mempersyaratkan adanya kehadiran hati. Walaupun hanya sekejap, yaitu pada saat takbiratul ihram. Kehadiran hati adalah ruhnya shalat dan kabar paling sedikit bagi kehidupannya adalah kehadiran hati pada saat takbiratul ihram, semakin besar kehadiran hati pada shalat maka semakin lapang pula roh shalat pada berbagai bagiannya (Al-Ghazali, 1995).&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan, maka shalat khusyuk adalah memusatkan perhatian pada shalat itu sendiri, berkonsentrasi hanya ingat kepada Allah dan menghadirkan hati melalui makna baca-bacaan shalat serta memahami apa yang diucapkan dan diperbuat, dan khusyuk yang paling rendah adalah kehadiran hati pada waktu takbiratul ihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Aspek-aspek Shalat Khusyuk&lt;br /&gt;Menurut Al-Ghazali (1995) ada 6 aspek shalat yang khusyuk, yaitu:&lt;br /&gt;a. Kehadiran hati, yakni kekosongan hati dari segala sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang dikerjakannya ataupun diucapkannya kesadaran tentang perbuatan dan ucapannya tidak terpisah dari kedua-duanya, pikiran pun tidak pernah melayang kecuali di sekitar kedua-duanya. Apabila pikirannya berpaling dari segala sesuatu yang dikerjakannya, sementara hatinya penuh dengan sebutan tentangnya, maka itulah yang disebut kehadiran hati.&lt;br /&gt;b. Pemahaman, yakni kesadaran yang mencakup juga pemahaman makna ucapan seseorang. Perbedaan pada setiap orang terletak pada ketidak mungkinannya untuk saling berbagi pemahaman dan rasa hormat pada Al-Qur’an. Dari keseringkalian beribadah akan dapat dikutip betapa kehalusan makna kandungan Al-Qur’an dapat dipahami selagi melaksanakan shalat. Suatu hal yang tidak dapat pernah terjadi sebelumnya dalam kaitan ini, maka shalat menjadi pangkal bagi perbuatan keji dan mungkar, sehingga pemahaman terhadap aspek-aspek shalat akan membentuk tentang bagi perbuatan tercela.&lt;br /&gt;c. Pengagungan atau rasa hormat, maksudnya adalah sesuatu yang berkembang dari kesadaran hati dan pemahaman sebagai contoh setiap orang bisa saja memerintah pembantunya dengan ucapan-ucapan yang sepenuhnya disadari. Sedangkan makna kata-katanya juga dipahami tetapi semuanya berlangsung tanpa rasa hormat atau pengangguran adalah unsur-unsur tambahan.&lt;br /&gt;d. Kedahsyatan adalah suatu sikap yang melebihi rasa hormat. Dalam kenyataannya, kedahsyatan adalah persahaan yang tumbuh dari rasa takut tanpa pernah memiliki pengalaman rasa takut, seseorang tidak akan merasakan kedahsyatannya. Dapat dinyatakan bahwa kedahsyatan adalah sejenis rasa takut dan hormat sekaligus.&lt;br /&gt;e. Pengharapan, didalam setiap shalat kita harus selalu berharap akan mendapat ganjaran-Nya, sebagaimana juga rasa takut terhadap hukuman-Nya bagi kesalahan-kesalahan yang kita perbuat.&lt;br /&gt;f. Rasa malu, adalah tambahan terhadap pengharapan. Dasarnya adalah kenyataan akan kekurangan seseorang atau pengakuan akan rasa yang telah diperbuat. Memang kita dapat merasa mengagungkan takut dan berpengharapan, jika diikuti dengan rasa malu.&lt;br /&gt;Dari uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa didalam shalat yang khusyuk harus terdapat kehadiran hati, pemahaman akan makna bacaan shalat, pengagungan kepada Allah, kedahsyatan, penuh pengharapan untuk mendapatkan pahala dalam shalatnya dan rasa malu bahwa ia banyak melakukan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tata Cara Shalat Khusyuk dan Dampak Psikologisnya&lt;br /&gt;Ada beberapa cara untuk menggapai kekhusyukan dalam shalat dan dampak psikologis yang diperoleh melalui sholat, yaitu:&lt;br /&gt;a. Takbiratul Ihram. Nabi SAW selalu memulai shalatnya dengan takbiratul ihram yakni mengucapkan “Allahu Akbar”. Rasulullah SAW bersabda: "Apabila engkau hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhu'mu terlebih dahulu kemudian menghadaplah ke arah kiblat, lalu ucapkanlah takbiratul ihrom." (Muttafaqun 'alaihi). Dalam gerakan serta pengucapan lafal takbir, Al Jauziyah (2008) mengemukakan bahwa kalimat Allahu Akbar yang berarti adalah “Allah Maha Besar”, dalam hal ini seseorang merasakan dampak psikologis mengakui keagungan dan kebesaran Allah, hanya Allah yang Maha Besar dan tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah sekalipun masalah dan apapun yang dihadapi manusia di dunia. Semua itu hanyalah sesuatu yang kecil di mata Allah, dengan demikian manusia sebagai hamba Allah mengakui serta yakin dan percaya apapun yang menjadi persoalan serta cobaan yang manusia hadapi, Allah akan selalu mendampinginya dan niscaya memberikan petunjuk serta jalan keluar.&lt;br /&gt;b. Mengangkat Kedua Tangan. Disunnahkan mengangkat kedua tangannya setentang bahu ketika bertakbir dengan merapatkan jari-jemari tangannya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar r.a, ia berkata: "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengangkat kedua tangannya setentang bahu jika hendak memulai sholat, setiap kali bertakbir untuk ruku' dan setiap kali bangkit dari ruku'nya."  atau mengangkat kedua tangannya setentang telinga ,berdasarkan hadits riwayat Malik bin Al-Huwairits r.a, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasa mengangkat kedua tangannya setentang telinga  setiap kali bertakbir (didalam shalat)." (HR. Muslim).&lt;br /&gt;c. Bersedekap. Nabi SAW meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya (bersedekap). Beliau bersabda: "Kami, para nabi diperintahkan untuk segera berbuka dan mengakhirkan sahur serta meletakkan tangan kanan pada tangan kiri (bersedekap) ketika melakukan shalat." (HR Al Imam Ibnu Hibban dan Adh Dhiya').&lt;br /&gt;d.  Memandang Tempat Sujud. Pada saat mengerjakan shalat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke tempat sujud. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengalihkan pandangannya dari tempat sujud (didalam shalat)." (HR. Baihaqi)&lt;br /&gt;e. Membaca Do'a Iftitah. Nabi SAW membaca do’a iftitah bermacam-macam, dalam doa tersebut Nabi SAW mengucapkan pujian dan sanjungan serta kalimat keagungan untuk Allah. Beliau pernah memerintahkan hal ini kepada orang yang salah melakukan sholatnya dengan sabdanya: "Tidak sempurna shalat seseorang sebelum ia bertakbir, mengucapkan pujian, mengucapkan kalimat keagungan (doa iftitah), dan membaca ayat-ayat al Qur-an yang dihafalnya…" (HR. Abu Dawud). Adapun bacaan doa iftitah yang diajarkan oleh Nabi SAW diantaranya adalah "allahuumma ba'id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa'adta bainal masyriqi wal maghribi, allaahumma naqqinii min khathaayaaya kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas. Allaahummaghsilnii bil maa'i wats tsalji wal baradi" yang artinya: "Ya, Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya, Allah, bersihkanlah kau dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya, Allah cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun." (HR. Bukhari Muslim). Dalam pengucapan lafal doa iftitah terdapat pemujian serta permohonan yang ditujukan pada Allah. Dalam hal ini seseorang merasakan dampak psikologis bahwa manusia di dunia ini bisa memperoleh ketenangan, tidak gelisah, tidak cemas dan tidak memiliki pikiran negative terhadap apa yang ada dihadapannya kala itu. Manusia akan menyerahkan semuanya kepada Allah dan dikembalikan kepadaNya.&lt;br /&gt;f. Membaca Ta'awwudz. Sebagaimana firman Allah SWT dalam [QS:An-Nahl(16):98], yang artinya: "Apabila kamu membaca al Qur-an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk". Dampak psikologis yang di peroleh adalah seseorang menjadi tenang dan aman, karena merasa bahwa dirinya sudah ada dalam perlindungan.&lt;br /&gt;g. Membaca Al Fatihah. Membaca Al-Fatihah merupakan salah satu dari sekian banyak rukun shalat, jadi kalau dalam sholat tidak membaca Al-Fatihah maka tidak sah sholatnya berdasarkan perkataan Nabi SAW yang artinya: "Tidak dianggap shalat (tidak sah shalatnya) bagi yang tidak membaca Al-Fatihah" (HR.Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;Al Jauziyah (2008), mengungkapkkan bahwa dengan memaknai bacaan Al Fatihah maka akan memberikan dampak psikologis pada manusia berupa keyakinan serta ketenangan  dari berbagai godaan syaitan yang terkutuk karena Allah akan selalu melindungi manusia darinya. Sehingga manusia mendapatkan kemudahan dalam menjalani persoalan hidup dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah, maka seseorang akan merasakan kehadiran dan perlindungan serta pertolongan sepenuhnya dari Allah.&lt;br /&gt;h. Membaca “Amiin” yang artinya: “perkenankanlah wahai Tuhanku, apa yang telah aku pinta dari-Mu”, yang akan memberi dampak psikologis bahwa seseorang akan menjadi tenang karena telah menyerahkan semua permasalahan dan memohon untuk dikabulkan, Thabbarah (2001).&lt;br /&gt;i. Membaca ayat Al-Qur’an sesudah Al-Fatihah. Thabbarah (2001) mengemukakan bahwa Al-Qur’an dapat menjadi penyembuh penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kejiwaan, maka seorang muslim bisa memilih di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan kegundahan hati, karena di dalam Al-Qur’an terdapat hidayah yang dapat diminta.&lt;br /&gt;j. Ruku'. Rasulullah SAW setelah selesai membaca surat dari Al-Qur-an kemudian berhenti sejenak, lalu mengangkat kedua tangannya sambil bertakbir seperti ketika takbiratul ihram (setentang bahu atau daun telinga) kemudian rukuk (merundukkan badan kedepan dipatahkan pada pinggang, dengan punggung dan kepala lurus sejajar lantai). Berdasarkan beberapa hadits, salah satunya adalah dari Abdullah bin Umar, yaitu : "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berdiri dalam shalat mengangkat kedua tangannya sampai setentang kedua bahunya, hal itu dilakukan ketika bertakbir hendak rukuk dan ketika mengangkat kepalanya (bangkit) dari ruku'. (HR.Bukhari Muslim). Tata cara ruku’ yang dilakukan rasulullah SAW adalah dengan meletakkan telapak tangannya pada lutut, menekankan tangan pada lutut, merenggangkan jari-jemari, merenggangkan kedua siku dari lambung, antara kepala dan punggung lurus, kepala tidak mendongak tidak pula menunduk tetapi tengah-tengah antara kedua keadaan tersebut, thuma-ninah atau bersikap tenang dan memperlama ruku' dengan membaca ”Subhaana Rabbiyal 'Adhzim” sebanyak tiga kali atau  lebih, yang artinya:"Maha Suci Rabbku, lagi Maha Agung". (HR. Ahmad) atau dengan membaca  ”Subhaanakallahumma wa bihamdika allahummaghfirlii”, yang artinya: "Maha Suci Engkau ya, Allah, dan dengan memuji-Mu Ya, Allah ampunilah aku”. Berdasarkan hadits dari 'A-isyah, bahwasanya dia berkata: "Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memperbanyak membaca Subhanakallahumma Wa Bihamdika Allahummaghfirlii dalam ruku'nya dan sujudnya, beliau mentakwilkan Al-Qur-an." (HR. Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;Menurut Al Jauziyah (2008), gerakan ruku’ merupakan gerakan yang menunjukkan bahwa ada penggabungan serta merasa bahwa dirinya kecil dan hina di hadapan Allah. Dalam hal ini berarti dampak psikologis yang timbul adalah manusia selalu yakin bahwa Allah akan  menjaga dan membimbing manusia sebagaimana permohonan yang sudah dipanjatkan. Untuk kepentingan kita sendiri, Allah SWT memerintahkan kita ruku’ yangg diulang-ulang dengan harapan ketika kita dihadapkan oleh berbagaii ujian-Nya, kita tidak mudah putus asa karena semua masalah pasti ada jalan keluarnya.&lt;br /&gt;k. I'tidal dari ruku'. Setelah ruku' dengan sempurna dan selesai membaca do'a, maka kemudian bangkit dari ruku' (i'tidal). Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berdiri dalam sholat mengangkat kedua tangannya sampai setara kedua pundaknya, hal itu dilakukan ketika bertakbir mau rukuk dan ketika mengangkat kepalanya (bangkit) dari ruku' sambil mengucapkan:”Sami'allaahu Liman Hamidah" (Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Malik). Seperti ditunjuk hadits di atas ketika bangkit (mengangkat kepala) dari ruku' itu membaca: Sami'allahu Liman Hamidah, kemudian ketika sudah tegak dan selesai bacaan tersebut disahut dengan bacaan: Rabbanaa Wa Lakal Hamd, yang artinya: ”Rabbku dan segala puji kepada-Mu”. Dalam gerakan serta pengucapan lafal doa pada ruku yang berarti manusia meyakini bahwa Allah selalu mendengarkan dan memperhatikan semua yang berkaitan dengan hambanya yang memujiNya, baik saat shalat maupun tidak (Al Jauziyah, 2008). Karena, yang manusia inginkan atau yang dipikirkan niscaya Allah kabulkan. Dia sangat bangga karena seruan-Nya dipenuhi, sehingga Dia berkenan memberikan anugerah-Nya itu dengan menegakkan kita kembali, meskipun hanya sesaat. Di sini kita harus yakin bahwa jika seseorang dekat dengan Allah, maka Dia akan berikan petunjuk untuk jalan keluar dari segala kesulitan yang kita hadapi.&lt;br /&gt;l. Sujud. Sujud dilakukan setelah i'tidal, yang dilakukan dengan cara bersujud pada 7 anggota badan, yakni jidat/kening/dahi dan hidung, dua telapak tangan, dua lutut dan dua ujung kaki yang dilakukan dengan menekan; kedua lengan/siku tidak ditempelkan pada lantai, tapi diangkat dan dijauhkan  dari sisi rusuk/lambung; menjauhkan perut/lambung dari kedua paha; merapatkan jari-jemari; menegakkan telapak kaki dan saling merapatkan/menempelkan antara dua tumit; thuma-ninah dan sujud dengan lama serta dengan membaca ”Subhaana Rabbiyal A'laa” sebanyak tiga kali, atau ”Subhaanakallaahumma Rabbanaa Wa Bihamdika Allaahummaghfirlii” (berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;Dalam gerakan serta pengucapan lafal bacaan sujud memiliki dampak psikologis bahwa manusia merasakan sebagai hamba yang dekat dengan Allah. Al Jauziyah (2008), karena perasaan kedekatan itulah manusia merasaan bahwa Allah satu-satunya yang mengerti apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dihadapi hambanya serta akan membantu dan memberi peringatan jika hambanya melakukan kesalahan. Berkenaan dengan hal ini, Prof. Saboe (dalam Al jauziah, 2008) mengemukakan bahwa jelas kiranya betapa pentingnya sikap sujud ini bagi kesehatan otak. Dengan sikap sujud ini dinding dari urat-urat nadi otak dapat dilatih dan dibiasakan dengan menerima darah yang relative lebih banyak dari oleh pecahnya urat-urat nadi otak dapat dihindarkan, terutama bila oleh emosi maupun amarah”&lt;br /&gt;m. Duduk Antara Dua Sujud. Duduk ini dilakukan antara sujud yang pertama dan sujud yang kedua, pada roka'at pertama sampai terakhir. Ada dua macam tipe duduk antara dua sujud, duduk iftirasy (duduk dengan meletakkan pantat pada telapak kaki kiri dan kaki kanan ditegakkan) dan duduk iq'ak (duduk dengan menegakkan kedua telapak kaki dan duduk diatas tumit). Hal ini berdasar hadits Al-Bukhari dan An-Nasa’i, yang artinya : ” beliau menegakkan kaki kanannya dan menghadapkan jari jemarinya ke kiblat”. Bacaan yang diucapkan adalah “Allaahummaghfirlii warhamnii wa 'aafinii wahdinii warzuqnii” (abu dawud).&lt;br /&gt;Al Jauziyah (2008), duduk iftirasy yang berupa doa sebaiknya diiringi dengan penerimaan diri kepada allah. Sebab doa yang kita panjatkan ketika duduk sebenarnya sudah dikabulkan allah (berdoalah maka aku kabulkan), kalau  ditolak maka pemberian Allah itu tidak akan bisa dirasakan. Namun kalau menerima pemberian Allah dalam duduk iftrirasy maka kita akan merasakan begitu cepat pengabulan Allah terhadap doa yang kita sampaikan kepada beliau. Maka resep duduk iftirasy adalah menerima Allah dengan segenap hati dan jiwa, sebelum menerima tentunya hati dan pikiran kita tundukkan kepada Allah. Semakin kita tunduk kita kepada Allah semakin besar pula pemberian Allah kepada kita. Oleh karena itu mengapa duduk iftirasy di apit oleh sujud.. Karena agar permohonan kita disertai dengan penerimaan, rela, pasrah dengan pemberian Allah sesuai dengan apa yang kita mintakan ketika duduk iftirasy.&lt;br /&gt;n.    Menuju Raka'at Berikutnya. Pada masalah ini ada dua kondisi, yaitu bangkit menuju raka'at berikut dari posisi sujud kedua pada akhir raka'at pertama dan ketiga dan bangkit dari posisi duduk tasyahhud awal pada raka'at kedua. Bangkit atau bangun dari sujud untuk berdiri (dari akhir raka'at pertama dan ketiga) didahului dengan duduk istirahat atau tanpa duduk istirahat, bangkit berdiri seraya bertakbir tanpa mengangkat kedua tangan. Ketika bangkit bisa dengan tangan bertumpu pada lantai atau bisa juga bertumpu pada pahanya.&lt;br /&gt;o. Duduk Tasyahhud Awwal Dan Tasyahhud Akhir. Tasyahhud awwal dan duduknya merupakan kewajiban dalam shalat yang menyingkap makna segala kebaikan yang senantiasa disandarkan kepada Allah. Serta penghormatan kepada Allah yang hanya Dialah yang pantas mendapatkan hormat. Duduk tasyahhud awwal terdapat hanya pada shalat yang jumlah raka'atnya lebih dari dua, pada sholat wajib dilakukan pada raka'at yang ke dua. Sedang duduk tasyahhud akhir dilakukan pada raka'at yang terakhir. Masing-masing dilakukan setelah sujud yang kedua, caranya adalah waktu tasyahhud awwal duduknya iftirasy (duduk diatas telapak kaki kiri) sedang pada tasyahhud akhir duduknya tawaruk (duduk dengan kaki kiri dihamparkan kesamping kanan dan duduk diatas lantai), pada masing-masing posisi kaki kanan ditegakkan. Dari Abi Humaid As-Sa'idiy tentang sifat sholat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dia berkata, "Maka apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk dalam dua roka'at (tasyahhud awwal) beliau duduk diatas kaki kirinya dan bila duduk dalam roka'at yang akhir (tasyahhud akhir) beliau majukan kaki kirinya dan duduk di tempat kedudukannya (lantai dll)."(HR. Abu Dawud). Membaca do'a At-Tahiyyaat dan As-Sholawaat, yaitu "at-tahiyyaatu lillahi was sholawatu wat thayyibaat, as-salamu'alaika ayyuhan nabiy wa rahmatullahi wa barakatuhu, as-salaamu 'alaina wa 'alaa 'ibaadillahis shalihin. Asyhadu allaa ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluhu" artinya: ”segala kehormaatan, shalawat dann kebaikan kepunyaan Allah, semoga keselamatan terlimpah atasmu wahai Nabi dan juga rahmat Allah dan barakah-Nya. Kiranya keselamatan tetap atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih; -karena sesungguhnya apabila kalian mengucapkan sudah mengenai semua hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi- Aku bersaksi bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammmad itu hamba daan utusan-Nya”. (HR. Bukhari). Dari Ka'ab bin Ujrah berkata : "Maukah aku hadiahkan kepadamu sesuatu ? Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepada kami, maka kami berkata : 'Ya Rasulullah kami sudah tahu bagaimana cara mengucapkan salam kepadamu, lantas bagaimana kami harus bershalawat kepadamu?” Beliau berkata : ucapkanlah "Allaahumma shalli 'ala muhammad wa 'alaa aali muhammad kamaa shallaita 'alaa aali ibrahiim, innaka hamiidum majiid. Allaahumma baarik 'alaa muhammad wa 'alaa aali muhammad kamaa barakta 'alaa aali ibrahiim, innaka hamiidum majiid." artinya: "Ya Allah berikanlah Shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada keluarga Ibarahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung."&lt;br /&gt;Dalam tasyahhuud ini manusia akan mendapatkan semangat kedekatan kepada Allah, nikmat menghadap Allah serta Keselamatan dari dunia dan terputusnya hubungan dengan dunia selama shalat, Al Jauziyah (2008). Setelah ke shalat manusia kembali ke dunia yang penuh dengan persoalan hidup, namun manusia ingat dan yakin serta merasakan bahwa ia tidak sendiri dan selalu dalam perlindungan dan petunjuk dari Allah dalm mengarungi kehidupan.&lt;br /&gt;p.  Salam. Sebagai tanda berakhirnya gerakan shalat, dilakukan dalam posisi duduk tasyahhud akhir setelah membaca do'a minta perlindungan dari empat fitnah atau tambahan do'a lainnya. "Kunci sholat adalah bersuci, pembukanya takbir dan penutupnya (yaitu shalat) adalah mengucapkan salam." (HR.Al-Hakim dan Adz-Dzahabi). Cara salam adalah dengan menolehkan wajah ke kanan seraya mengucapkan do'a salam kemudian ke kiri, yaitu ”As Salamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh, As Salamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh”.&lt;br /&gt;Manusia hidup di dunia tidak sendiri, jadi perlu adanya bersosialisasi dengan salaing mendoakan satu sama lain, sehingga niscaya keselamatan, berkah serta rahmat dan kesejahteraan akan diperoleh sepenuhnya oleh manusia. Dalam hal ini, sangatlah penting manusia tidak mudah suudzon ketika bersosialisasi dengan selalu berpikir positif tentang orang lain dan menegang teguh prinsip nahwa mengambil hikmah dari masalah yang muncul ketika proses sosialiasi, karena masalah yang muncul datangnya dari Allah dan Allah jualah yang akan memberi pemecahannya.&lt;br /&gt;C. Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah antara Jama’ah Halaqoh  Sholat Khusyuk dan Bukan Jama’ah Halaqoh Sholat Khusyuk&lt;br /&gt;Shalat adalah salah satu bentuk ibadah, shalat dapat memberikan makna tertentu pada seseorang apabila orang tersebut benar-benar melaksanakan shalat dengan khusyuk. Allah berfirman dalam [QS: Al-Baqarah(2):45], yang artinya “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang- orang yang khusyuk”&lt;br /&gt;Melalui shalat dengan khusyuk, Allah akan menolong seseorang dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup. Shalat dengan khusyuk dilakukan dengan kehadiran hati, lirih dan tenang, Al Baghawi (dalam Thalib,2001). Tenang dalam menjalankan shalat akan menjadikan seseorang lebih konsentrasi dalam memaknai setiap kalimat bacaan shalat yang akan memberikan dampak psikologis yang lebih baik dalam menghadapi permasalahan. Pada bacaan shalat, ada permohonan agar diberi petunjuk dalam setiap permasalahan yang sedang dihadapi oleh individu, sehingga seorang individu akan merasakan ketenangan dalam menghadapi permasalahan dan menyerahkan segala urusan kepada Allah, serta menerima setiap permasalahan dengan senang. Perasaan senang dalam menerima setiap permasalahan yang ada, sangat dibutuhkan dalam  tahap penyelesaian masalah, karena melalui perasaan senang maka individu akan bersifat menerima setiap permasalahan yang dihadapi. Thabbarah (2001) mengemukakan bahwa upaya yang dilakukan agar dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah melalui sholat khusyuk, salah satunya adalah bentuk kepasrahan atau tawakal. Tawakal kepada Allah berarti bahwa manusia harus menyerahkan semua urusan kepada Allah, sehingga individu tidak pernah dirisaukan oleh masa depan serta oleh hal-hal yang datang secara tiba-tiba yang disembunyikan oleh Allah, dan meminta ganti kekhawatiran dengan ketenangan kepada Allah. Jika individu pasrah dalam menghadapi permasalahan, maka tiap individu tidak akan merasa tertekan karena sikap mau menerima permasalahan dengan sikap tawakal.&lt;br /&gt;Sikap menerima permasalahan akan membawa seseorang untuk berpikir positif terhadap permasalahan yang ada. Berpikir positif terhadap masalah merupakan salah satu aspek penting dalam pemecahan masalah, sehingga seseorang mampu berpikir secara sistematis, dapat menemukan gagasan dan berani melaksanakan gagasan terbaiknya serta mampu berkonsentrasi dalam pemecahan masalah, Anderson (dalam Suharnan 2005)&lt;br /&gt;Jama’ah halaqoh shalat khusyuk diberi pelatihan dalam menuju kekhusyukan dalam menjalankan shalat, jama’ah dilatih untuk memaknai setiap bacaan dan gerakan dalam shalat. Melalui sikap khusyuk dan pemaknaan yang benar, maka jama’ah halaqoh shalat khusyuk selalu berusaha mengambil makna dari setiap kata dan kalimat yang diucapkan dalam shalat. Makna dari setiap bacaan dan gerakan dalam shalat akan membawa jama’ah halaqoh shalat khusyuk pada sikap mau menerima permasalahan dengan senang dan selalu berpikir positif bahwa setiap permasalahan adalah suatu proses pembelajaran bagi individu dan setiap permasalahan yang ada akan selesai karena Allah dan akan membawa hikmah yang positif bagi setiap individu yang melalui berbagai macam permasalahan hidup.&lt;br /&gt;Sedangkan pada bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk tidak ada pelatihan dalam menuju kekhusyukan dalam shalat. Halaqoh yang dilakukan oleh bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk merupakan suatu pengajian yang materinya berisi tentang Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga tidak ada pelatihan yang khusus mengenai tata cara shalat dengan khusyuk.&lt;br /&gt;Daradjat (1990) mengatakan bahwa orang yang khusyuk dalam shalatnya dapat menyadari betapa besar pengaruh shalat bagi terciptanya ketenangan hidup, ketentraman lahir dan batin serta kesehatan jiwa pada umumnya.&lt;br /&gt;Selanjutnya Thabbarah (2001) menambahkan bahwa seseorang yang menjalankan shalat dengan kekhusyukan maka di dalam dirinya telah berkembang kemampuan memusatkan pikiran dan kemampuan itu akan menjadi faktor yang sangat menunjang dalam menuntaskan semua pekerjaan dan permasalahan yang dihadapi.&lt;br /&gt;D. Hipotesis&lt;br /&gt;Berdasarkan tujuan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sementara sebagai berikut: “Ada  perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara jama’ah halaqoh  shalat khusyuk dan bukan jama’ah halaqoh  shalat khusyuk”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Sejalan dengan latar belakang di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan antara jama’ah halaqoh shalat khusyuk dan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk di Surakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;1. Bagi pimpinan masjid&lt;br /&gt;Dapat digunakan sebagai pedoman untuk membuat kebijakan mengenai kegiatan-kegiatan halaqoh yang diselenggarakan di masjid, khususnya yang berkaitan dengan jenis kegiatan holaqoh.&lt;br /&gt;2. Bagi jamaah halaqoh&lt;br /&gt;Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengikuti jenis kegiatan halaqoh di masjid-masjid, sehingga dapat lebih bermanfaat dalam kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah.&lt;br /&gt;3. Bagi masyarakat umum&lt;br /&gt;Agar mengetahui informasi tentang manfaat yang diperoleh dari berbagai kegiatan holaqoh di masjid-masjid, sehingga dapat memilih jenis halaqoh yang diinginkan dan memperoleh manfaat dari kegiatan halaqoh yang diikuti.&lt;br /&gt;4. Bagi ilmuwan psikologi&lt;br /&gt;Penelitian ini memberikan wacana pemikiran di bidang psikologi pada khususnya, yang berkaitan dengan perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara jama’ah halaqoh shalat khusyuk dan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk.&lt;br /&gt;5. Bagi peneliti selanjutnya&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan teoritis dan dapat digunakan sebagai pijakan untuk melaksanakan penelitian selanjutnya, jika menggunakan tema yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Subjek Penelitian&lt;br /&gt;Subjek dalam penelitian ini adalah jama’ah halaqoh shalat khusyuk di masjid Fatimah dan bukan jama’ah  halaqoh  shalat  khusyuk di masjid Al-Mukarrom. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive non random sampling, yaitu anggota populasi yang dijadikan subjek penelitian adalah subjek yang mempunyai ciri-ciri yang telah ditentukan sebelumnya dimana masing-masing anggota populasi tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk dapat dipilih menjadi subjek penelitian. Karakteristik pengambilan sampel dalam penelitian ini,antara lain: a) jama’ah halaqoh shalat khusyuk di masjid Fatimah, b) jama’ah bukan shalat khusyuk di masjid Al-Mukarrom, c) usia di atas 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Identifikasi Variabel&lt;br /&gt;1. Variabel tergantung     : kemampuan  pemecahan  masalah&lt;br /&gt;2.    Variabel bebas   : keikutsertaan jama’ah halaqoh shalat&lt;br /&gt;a.  Jama’ah  halaqoh shalat khusyuk&lt;br /&gt;b.   Bukan jama’ah  halaqoh shalat khusyuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Definisi Operasional Variabel&lt;br /&gt;1. Kemampuan Pemecahan Masalah&lt;br /&gt;Kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan individu dalam usahanya mencari jawaban atau jalan keluar terhadap permasalahan yang dimiliki atau dihadapi sehingga diperoleh hasil pemilihan salah satu jawaban dari beberapa alternative pemecahan yang mengarah pada satu tujuan tertentu. Tinggi rendahnya kemampuan pemecahan masalah dapat di ukur menggunakan skala kemampuan pemecahan masalah yang terdiri dari dua aspek dari Anderson (dalam Suharnan, 2005) yaitu sikap dan tindakan yang meliputi berpikir positif terhadap masalah, berpikir positif terhadap kemampuan memecahkan masalah, berpikir secara sistematis, merumuskan masalah, mencari dan mengumpulkan fakta, memfokuskan pikiran pada fakta-fakta penting, menemukan gagasan (ide), memilih gagasan terbaik dan melaksanakannya.&lt;br /&gt;Semakin tinggi skor angket kemampuan menyelesaikan masalah maka semakin tinggi pula kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalahnya. Sebaliknya, semakin rendah skor angket kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalahnya maka semakin rendah pula kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalahnya. Penyusunan aitem-aitem dalam skala kemampuan pemecahan masalah dikelompokkan menjadi aitem-aitem favourable dan unfavourable.&lt;br /&gt;2. Keikutsertaan Jama’ah Shalat&lt;br /&gt;Keikutsertaan jama’ah sholat di bagi menjadi dua, yaitu:&lt;br /&gt;a. Jama’ah halaqoh shalat khusyuk : adalah jama’ah yang mengikuti halaqoh     shalat khusyuk.&lt;br /&gt;b. Bukan jama’ah halaqoh sholat khusyuk : adalah jama’ah yang tidak mengikuti halaqoh shalat khusyuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Alat Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Baik buruknya suatu penelitian tergantung pada teknik pengumpulan data (Hadi, 2004). Menurut Suryabrata (1993) bahwa kualitas data ditentukan oleh alat pengukurnya. Adapun untuk memperoleh data dalam penelitian ini menggunakan alat ukur skala Hadi (2004) menyatakan skala psikologi, memiliki karakteristik khusus yang membedakan dari berbagai alat pengumpul data yang lain seperti angkat daftar isian dan inventory dan lain-lain.&lt;br /&gt;Penggunaan skala pada penelitian ini didasarkan atas karakteristik skala sebagai alat ukur psikologi yang dikemukakan oleh Azwar (1999), yaitu:&lt;br /&gt;1. Stimulusnya berupa pertanyaan atas pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur melainkan mengungkap indikator perilaku dengan atribut yang bersangkutan.&lt;br /&gt;2. Atribut psikologi diungkap secara tidak langsung lewat indikator-indikator perilaku. Sedangkan indikator perilaku diterjemahkan dalam bentuk aitem-aitem, maka skala psikologi selalu berisi banyak aitem.&lt;br /&gt;3. Respon subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar atau salah”. Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur&lt;br /&gt;Validitas dan reliabilitas merupakan dua hal yang saling berkaitan dan berperan dalam menentukan alat ukur.&lt;br /&gt;1. Validitas&lt;br /&gt;Validitas suatu alat ukur adalah ukuran seberapa cermat alat ukur tersebut melakukan fungsinya (Azwar, 1999). Pengujian validitas yang dilakukan terhadap alat ukur dalam penelitian dimaksudkan untuk mengukur seberapa jauh aitem-aitem tersebut dapat mengungkap dengan jitu dan teliti segala yang diukur. Perhitungan mengenai validitas dengan cara mengkorelasikan nilai-nilai tiap aitem dengan struktural.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui validitas dari alat ukur dalam penelitian ini maka menggunakan teknik korelasi Product Moment dari Carl Pearson. Setelah koefisien korelasi diperoleh, maka untuk menghindari pengaruh kelebihan muatan karena terikatnya skor aitem dalam skor total dilakukan koreksi dengan menggunakan rumus Part Whole. Pengukuran validitas ini dibantu dengan program komputer SPSS 16 version for windows.&lt;br /&gt;2. Reliabilitas&lt;br /&gt;Reliabilitas suatu alat berarti mampu menunjukkan sejauh mana pengukuran dapat memberikan hasil yang relatif sama bila dilakukan kembali terhadap subjek yang sama (Azwar, 1999). Untuk mengetahui reliabilitas alat ukur digunakan teknik varian dari Cronbach Alpha yang dibantu oleh program komputer SPSS 16 version for windows.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Metode Analisa Data&lt;br /&gt;Metode analisis data pada penelitian ini akan dilakukan uji secara kuantitatif dengan menggunakan analisis data statistik. Menurut Hadi (2004) bahwa statistik memiliki tiga ciri pokok, yaitu:&lt;br /&gt;1. Statistik bekerja dengan angka-angka, artinya angka tersebut menunjukkan jumlah atau frekuensi dan nilai&lt;br /&gt;2. Statistik bersifat objektif sehingga unsur-unsur subjektif dapat dihindarkan dalam penelitian tidak berbicara lain selain apa adanya.&lt;br /&gt;3. Statistik bersifat universal, artinya dapat digunakan disemua bidang penelitian.&lt;br /&gt;Untuk menguji hipotesis, perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara jama’ah halaqoh shalat khusyuk dan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk, peneliti menggunakan analisis uji-t atau independent sample test, karena: 1) bertujuan untuk mengetahui perbedaan mean antar dua kelompok, 2) hanya terdiri dari satu jalur klasifikasi (jama’ah halaqoh shalat khusyuk dan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk).&lt;br /&gt;Untuk memudahkan analisa data, maka dalam penelitian ini penghitungan dibantu oleh program komputer SPSS 16 version for windows.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Persiapan Penelitian&lt;br /&gt;Tahap persiapan penelitian merupakan tahap yang dilakukan sebelum pelaksanaan penelitian, adapun tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Orientasi kancah penelitian&lt;br /&gt;Proses penelitian ini melewati beberapa tahap persiapan. Persiapan penelitian diawali dengan menentukan lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat penelitian. Lokasi penelitian yang dipilih adalah masjid Fatimah dan masjid Al-Mukarrom yang terletak di wilayah Surakarta.&lt;br /&gt;Alasan peneliti memilih masjid Fatimah dan masjid Al-Mukarrom di antaranya adalah:&lt;br /&gt;a) Belum pernah diadakan penelitian mengenai kemampuan pemecahan masalah pada jamaah halaqoh shalat khusyuk dan bukan jamaah shalat khusyuk.&lt;br /&gt;b) Jumlah jamaah halaqoh di masjid Fatimah dan masjid Al-Mukarrom cukup memadai untuk pengambilan sampel penelitian sesuai dengan karakteristik populasi, sehingga memenuhi persyaratan untuk menjadi subyek penelitian.&lt;br /&gt;c) Masjid Fatimah dan masjid Al-Mukarrom berada di Surakarta sehingga sesuai dengan tujuan penelitian.&lt;br /&gt;d) Pihak masjid Fatimah yang digunakan sebagai tempat halaqoh shalat khusyuk dan pihak masjid Al-Mukarrom yang di gunakan sebagai tempat halaqoh pengajian umum bersedia memberikan ijin untuk dijadikan tempat penelitian.&lt;br /&gt;           Masjid Fatimah terletak di Jl. Dr Rajiman no. 193 Surakarta. Dari berbagai macam kegiatan kajian yang terdapat di masjid Fatimah salah satunya adalah pelaksanaan halaqoh shalat khusyuk yang dilaksanakan setiap seminggu sekali, tiap hari senin malam ba’da isya’ sampai dengan pukul 21.00 WIB.&lt;br /&gt;Masjid lain yang dijadikan tempat penelitian adalah masjid Al-Mukarrom yang beralamat di Sogaten Rt.01 Rw.15 Pajang Laweyan Surakarta. Salah satu kegiatan rutin dari masjid Al-Mukarrom adalah pengajian umum yang dilaksanakan setiap dua minggu sekali, tiap hari minggu pukul 08.00 sampai dengan pukul 09.30 WIB.&lt;br /&gt;2. Persiapan Alat Ukur Penelitian&lt;br /&gt;         Alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah skala kemampun pemecahan masalah.&lt;br /&gt;Pada penelitian ini, skala kemampuan pemecahan masalah digunakan untuk mengungkap sejauh mana kemampuan pemecahan masalah pada jamaah halaqoh sholat khusyuk dan bukan jamaah halaqoh sholat khusyuk. Skala kemampuan pemecahan masalah yang terdiri dari dua aspek dari Anderson (dalam Suharnan, 2005) yaitu sikap dan tindakan yang meliputi berpikir positif terhadap masalah, berpikir positif terhadap kemampuan memecahkan masalah, berpikir secara sistematis, merumuskan masalah, mencari dan mengumpulkan fakta, memfokuskan pikiran pada fakta-fakta penting, menemukan gagasan (ide), memilih gagasan terbaik dan melaksanakannya.&lt;br /&gt;Skala kemampuan pemecahan masalah disusun oleh peneliti berdasarkan aspek dari Anderson (dalam Suharnan, 2005). Jumlah skala ini 49 aitem, terdiri dari 25 aitem skala favorable dan 24 aitem unfavorable. Bentuk pertanyaan dalam skala ini bersifat tertutup. Artinya subjek hanya memilih salah satu dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan berbentuk pernyataan, yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), ragu-ragu (R), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS). Penilaian jawaban penyebaran skor yang internal dan berjarak sama yaitu bergerak satu sampai dengan lima.&lt;br /&gt;Adapun blue print skala kemampuan pemecahan masalah dapat dilihat pada tabel 1.&lt;br /&gt;A. Tabel 1&lt;br /&gt;Blue Print Skala Kemampuan Pemecahan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek  Nomor Aitem&lt;br /&gt;Jml.&lt;br /&gt; Favorable  Unfavorable&lt;br /&gt;1  Sikap:&lt;br /&gt;a. Berpikir positif terhadap masalah&lt;br /&gt;1,12,18,19,34&lt;br /&gt;3,4,25&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;b. Berpikir positif terhadap kemampuan memecahkan masalah&lt;br /&gt;6,8,9,35,37&lt;br /&gt;2,5,7,56&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;c. Berpikir secara sistematis 10,17,32,55 15,31,36,51 8&lt;br /&gt;2 Tindakan:&lt;br /&gt;a. Merumuskan masalah&lt;br /&gt;24,29,30,33&lt;br /&gt;16,20,38,52,57&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;b. Mencari dan mengumpulkan fakta 21,27,41,43 23,28,46 7&lt;br /&gt;c. Memfokuskan pikiran pada fakta-fakta penting 13,14,22,53 26,42,48 7&lt;br /&gt;d. Menemukan gagasan (ide) 47 40,45,49,54,58 6&lt;br /&gt;e. Memilih gagasan terbaik dan melaksanakannya     11,39,44,60        50,59 6&lt;br /&gt;Jumlah 31 29 60&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Pelaksanaan Try Out&lt;br /&gt;Try out dilaksanakan pada tanggal 11-15 Mei 2009. Subjek pada pelaksanaan try out adalah jamaah halaqoh sholat khusyuk, jamaah halaqoh masjid Al-Mukarrom, dan masyarakat umum. Peneliti mengumpulkan 60 angket dengan mendatangi rumah subjek satu per satu hingga terkumpul 11 angket dari jama’ah halaqoh sholat khusyuk, 27 angket dari jamaah halaqoh masjid Al-Mukarrom dan 22 angket dari masyarakat umum.  Sampel diambil dengan menggunakan teknik  purposive non random sampling yaitu tidak semua anggota populasi memiliki kesempatan menjadi subjek penelitian. Kriteria subjek beragama Islam dan berusia 20 tahun ke atas. Dari 60 subjek yang dibagikan skala, semuanya terkumpul kembali dan memenuhi syarat untuk diskor dan dianalisis. Data inilah yang dipergunakan untuk menghitung validitas dan reliabilitas dari alat ukur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Perhitungan Validitas dan Reliabilitas&lt;br /&gt;a. Perhitungan Validitas Aitem&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penghitungan validitas yang dilakukan, dari 60 aitem skala kemampuan pemecahan masalah, diketahui ada 11 aitem yang gugur dan 49 aitem yang valid. Aitem valid mempunyai koefisien validitas (rbt) bergerak dari rbt = 0,277 sampai 0,679 dengan p &lt; z =" 2.972"&gt; 0,05 yang berarti sebarannya normal.&lt;br /&gt;b. Uji homogenitas varians. Uji homogenitas varians bertujuan untuk mengetauhi apakah varians skor subyek dari dua kelompok yang diteliti mempunyai ciri-ciri yang relatif tidak berbeda. Hasil uji homogenitas varians perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara jama’ah halaqoh shalat khusyuk dan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk. Hasil yang diperoleh adalah nilai Levene Statistic 0.728 dengan p &gt; 0,05 yang berarti variansinya homogen.&lt;br /&gt;c. Kategorisasi. Kategorisasi untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat variabel yang diukur. Berdasar hasil analisis, diketahui variabel kemampuan pemecahan masalah mempunyai rerata empirik 188,93 dan rerata hipotetik 147. Hal ini dilihat dari letak rerata empirik diantara +0,6 SD sebesar 166,59 dan + 1,8 SD sebesar 205,79. Artinya kemampuan pemecahan masalah pada seluruh subjek penelitian tergolong tinggi, baik pada jama’ah halaqoh shalat khusyuk yang memiliki rerata empirik sebesar 198.18 dan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk yang memiliki rerata empirik sebesar 179.43. Hasil kategorisasi dapat dilihat pada tabel 4 dan penetapan kriteria dapat dilihat pada lampiran.&lt;br /&gt;Tabel 4&lt;br /&gt;            Hasil Kategorisasi Variabel Kemampuan Pemecahan Masalah&lt;br /&gt;Skor Kategorisasi Frekuensi&lt;br /&gt;( Σ N ) Prosentase&lt;br /&gt;( % ) Rerata&lt;br /&gt;Empirik&lt;br /&gt;49,02    ≤x&lt;  88,21 Sangat Rendah - - -&lt;br /&gt;88,21    ≤x&lt;  127,41 Rendah - - -&lt;br /&gt;127,41  ≤x&lt;  166,59 Sedang 9 12  -&lt;br /&gt;166,59  ≤x&lt;  205,79 Tinggi 51 68 188,93&lt;br /&gt;205,79  ≤x&lt;  244,98 Sangat Tinggi 15 20 -&lt;br /&gt;                                 Jumlah      75  100%      -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Uji hipotesis.&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisis menggunakan t-test diperoleh nilai uji-t sebesar -4,181  dengan p &lt; 0,01. Hasil ini berarti ada perbedaan yang sangat signifikan kemampuan pemecahan masalah antara jama’ah halaqoh shalat khusyuk dan bukan jama’ah shalat khusyuk. Dari hasil perhitungan juga diketahui mean jama’ah halaqoh shalat khusyuk sebesar 198,18 dan mean bukan jama’ah shalat khusyuk sebesar 179,43. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jama’ah halaqoh shalat khusyuk memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan dengan bukan jama’ah shalat khusyuk. Dengan demikian hipotesis yang diajukan diterima.&lt;br /&gt;3. Analisis Deskripsi&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisis data diketahui rerata kemampuan pemecahan masalah jama’ah halaqoh shalat khusyuk 198,18 dan rereta kemampuan pemecahan masalah bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk 179,43. Dengan demikian maka  kemampuan pemecahan masalah jama’ah halaqoh shalat khusyuk lebih tinggi di bandingkan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk.&lt;br /&gt;Dari hasil penelitian diketahui bahwa ada perbedaan yang sangat signifikan antara kemampuan pemecahan masalah antara jama’ah halaqoh shalat khusyuk dan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk, dimana jama’ah halaqoh shalat khusyuk memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan dengan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pembahasan&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisis menggunakan t-test diperoleh nilai uji-t sebesar -4,181  dengan p &lt; 0,01. Hasil ini berarti ada perbedaan yang sangat signifikan antara kemampuan pemecahan masalah pada jama’ah halaqoh shalat khusyuk dan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk, dimana kemampuan pemecahan masalah jama’ah halaqoh shalat khusyuk lebih baik dibandingkan kemampuan pemecahan masalah pada bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk.&lt;br /&gt;Melalui shalat dengan khusyuk, Allah akan menolong seseorang dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup. Shalat dengan khusyuk dilakukan dengan kehadiran hati, lirih dan tenang, Al Baghawi (dalam Thalib,2001). Tenang dalam menjalankan shalat akan menjadikan seseorang lebih konsentrasi dalam memaknai setiap kalimat bacaan shalat yang akan memberikan dampak psikologis yang lebih baik dalam menghadapi permasalahan. Pada bacaan shalat, ada permohonan agar diberi petunjuk dalam setiap permasalahan yang sedang dihadapi oleh individu, sehingga seorang individu akan merasakan ketenangan dalam menghadapi permasalahan dan menyerahkan segala urusan kepada Allah, serta menerima setiap permasalahan dengan senang. Perasaan senang dalam menerima setiap permasalahan yang ada, sangat dibutuhkan dalam  tahap penyelesaian masalah, karena melalui perasaan senang maka individu akan bersifat menerima setiap permasalahan yang dihadapi, Menurut Thurstone (dalam Walgito, 1991) berpendapat bahwa individu dalam mengartikan suatu masalah akan bersifat positif bila masalah tersebut menimbulkan perasaan senang, sehingga individu bersifat menerima, tetapi dapat juga bersifat negatif jika masalah tersebut menimbulkan perasaan tidak enak sehingga individu bersifat menolak.&lt;br /&gt;. Thabbarah (2001) mengemukakan bahwa upaya yang dilakukan agar dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah melalui shalat khusyuk, salah satunya adalah bentuk kepasrahan atau tawakal. Tawakal kepada Allah berarti bahwa manusia harus menyerahkan semua urusan kepada Allah, sehingga individu tidak pernah dirisaukan oleh masa depan serta oleh hal-hal yang datang secara tiba-tiba yang disembunyikan oleh Allah, dan meminta ganti kekhawatiran dengan ketenangan kepada Allah. Jika individu pasrah dalam menghadapi permasalahan, maka tiap individu tidak akan merasa tertekan karena sikap mau menerima permasalahan dengan sikap tawakal.&lt;br /&gt;Sikap menerima permasalahan akan membawa seseorang untuk berpikir positif terhadap permasalahan yang ada. Berpikir positif terhadap masalah merupakan salah satu aspek penting dalam pemecahan masalah, sehingga seseorang mampu berpikir secara sistematis, dapat menemukan gagasan dan berani melaksanakan gagasan terbaiknya serta mampu berkonsentrasi dalam pemecahan masalah, Anderson (dalam Suharnan 2005).&lt;br /&gt;Daradjat (1990) mengatakan bahwa orang yang khusyuk dalam shalatnya dapat menyadari betapa besar pengaruh shalat bagi terciptanya ketenangan hidup, ketentraman lahir dan batin serta kesehatan jiwa pada umumnya. Melalui diri yang tenang, maka seseorang dapat berfikir dengan jernih dan dapat memulai mengambil langkah untuk menyusun tahap penyelesaian masalah, Kneeland (2001).&lt;br /&gt;Anderson (dalam Suharnan, 2005) berpendapat bahwa individu dikategorikan sebagai pemecah masalah yang buruk apabila cenderung menemukan masalah dengan sikap tidak senang, sering merasa terancam, dan cenderung menghindari untuk memikirkan masalah&lt;br /&gt;Thabarah (2001) menambahkan bahwa shalat dapat membuka peluang kepada seseorang untuk mengajukan permohonan kepada pencipta-Nya tentang apa saja yang diinginkan. Orang-orang yang melakukan shalat akan terkecuali dari sifat manusia pada umumnya, mereka tidak berkeluh kesah dalam kesusahan dan kemiskinan, karena mereka akan terlihat sabar, sadar dan  insyaf, pemurah, serta tawakal dalam menghadapi berbagai macam permasalahan.&lt;br /&gt;Allah SWT juga berfirman dalam [QS:Al-Baqarah(2):45], yang artinya “ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang –orang yang khusyuk”. Hal demikian menunjukkan bahwa seseorang yang dapat melaksanakan shalat dengan khusyuk maka akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT dalam setiap permasalahan yang dihadapi.&lt;br /&gt;Selanjutnya Thabbarah (2001) menambahkan bahwa seseorang yang menjalankan shalat dengan kekhusyukan maka di dalam dirinya telah berkembang kemampuan memusatkan pikiran dan kemampuan itu akan menjadi faktor yang sangat menunjang dalam menuntaskan semua pekerjaan dan permasalahan yang dihadapi.&lt;br /&gt;Al Jauziyah (2008), mengungkapkkan bahwa dengan memaknai bacaan dalam shalat, maka akan memberikan dampak psikologis pada manusia berupa keyakinan serta ketenangan, sehingga manusia mendapatkan kemudahan dalam menjalani persoalan hidup dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah, maka seseorang akan merasakan kehadiran dan perlindungan serta pertolongan sepenuhnya dari Allah.&lt;br /&gt;Jama’ah halaqoh shalat khusyuk diberi pelatihan dalam menuju kekhusyukan dalam menjalankan shalat, jama’ah dilatih untuk memaknai setiap bacaan dan gerakan dalam shalat. Melalui sikap khusyuk dan pemaknaan yang benar, maka jama’ah halaqoh shalat khusyuk selalu berusaha mengambil makna dari setiap kata dan kalimat yang diucapkan dalam shalat. Makna dari setiap bacaan dan gerakan dalam shalat akan membawa jama’ah halaqoh shalat khusyuk pada sikap mau menerima permasalahan dengan senang dan selalu berpikir positif bahwa setiap permasalahan adalah suatu proses pembelajaran bagi individu dan setiap permasalahan yang ada akan selesai karena Allah dan akan membawa hikmah yang positif bagi setiap individu yang melalui berbagai macam permasalahan hidup. Sedangkan pada bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk tidak ada pelatihan dalam menuju kekhusyukan dalam shalat. Halaqoh yang dilakukan oleh bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk merupakan suatu pengajian yang materinya berisi tentang pembahasan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan tidak ada pelatihan yang khusus mengenai tata cara shalat dengan khusyuk, sehingga jama’ah halaqoh shalat khusyuk memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih tinggi dibandingkan dengan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk.&lt;br /&gt;Berdasar hasil analisis, diketahui variabel kemampuan pemecahan masalah mempunyai rerata empirik 188,93 dan rerata hipotetik 147. Hal ini dilihat dari letak rerata empirik diantara +0,6 SD sebesar 166,59 dan + 1,8 SD sebesar 205,79. Artinya kemampuan pemecahan masalah pada seluruh subjek penelitian tergolong tinggi, pada jama’ah halaqoh shalat khusyuk yang memiliki rerata empirik sebesar 198.18 dan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk yang memiliki rerata empirik sebesar 179.43, namun masih ada selisih rerata empirik sebesar 18.75 yang menunjukkan bahwa rerata empirik kemampuan pemecahan masalah pada jama’ah halaqoh shalat khusyuk lebih tinggi daripada rerata empirik pada bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk.&lt;br /&gt;Selain melalui shalat dengan khusyuk, pemecahan masalah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah inteligensi, usia, jenis kelamin, kreativitas, konsentrasi, kepercayaan diri dan lingkungan sosial, sehingga akan menjadikan suatu penunjang dalam kemampuan pemecahan masalah pada tiap-tiap individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Kelemahan Penelitian&lt;br /&gt;Beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini antara lain:&lt;br /&gt;1. Generalisasi dari penelitian ini terbatas pada populasi dimana penelitian ini dilakukan, sehingga penerapan pada lokasi lain harus didasari dengan penelitian yang memperhatikan perbedaan karakteristik pada tiap individu dengan memperhatikan berbagai macam faktor yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah.&lt;br /&gt;2. Subyek dan variabel penelitian perlu diperluas atau ditambah lagi agar generalisasi kesimpulan menjadi lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;SIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;A. Simpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya dapat disimpulkan  :&lt;br /&gt;1. Ada perbedaan yang sangat signifikan antara kemampuan pemecahan masalah jama’ah halaqoh shalat khusyuk dan bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk.&lt;br /&gt;2. Kemampuan pemecahan masalah jama’ah halaqoh shalat khusyuk lebih baik dari pada kemampuan pemecahan masalah pada bukan jama’ah shalat khusyuk.&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan, maka penulis dapat memberikan saran kepada:&lt;br /&gt;1. Bagi pimpinan masjid&lt;br /&gt;Diharapkan dapat menambahkan kegiatan halaqoh yang dapat memberikan manfaat bagi jama’ah halaqoh, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah yang selalu dibutuhkan setiap menghadapi suatu permasalahan hidup. Sehingga mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada semua jama’ah halaqoh, baik jama’ah halaqoh shalat khusyuk maupun bukan jama’ah halaqoh shalat khusyuk.&lt;br /&gt;2. Bagi jama’ah halaqoh&lt;br /&gt;Dapat mempertimbangkan dalam memilih jenis kegiatan halaqoh, sehingga dapat memperoleh manfaat yang lebih dari kegitan halaqoh khususnya yang berkaitan dengan halaqoh shalat khusyuk yang dapat memberikan peningkatan pada  kemampuan pemecahan masalah.&lt;br /&gt;3. Bagi masyarakat umum&lt;br /&gt;Masyarakat diharapkan mengetahui manfaat dari kegiatan halaqoh shalat khusyuk yang dapat berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah pada seseorang, sehingga penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengikuti jenis kegiatan halaqoh.&lt;br /&gt;4. Bagi ilmuwan psikologi&lt;br /&gt;lmuwan psikologi diharapkan mampu menelaah hasil penelitian ini, dan menjadikan sebagai wacana pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya pada ilmu psikologi.&lt;br /&gt;5. Bagi peneliti selanjutnya&lt;br /&gt;Peneliti lain yang tertarik untuk mengadakan penelitian dengan tema yang sama diharapkan&lt;br /&gt;a. Menambah variabel atau menyertakan faktor-faktor yang dapat mempengauhi kemempuan pemecahan masalah seperti; inteligensi, usia, jenis kelamin, kreativitas, konsentrasi, kepercayaan diri dan lingkungan sosial.&lt;br /&gt;b. Memperluas populasi atau ruang lingkup penelitian, sehingga generalisasi menjadi lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Ahmad, S.N.A. 2006. Seni Shalat Khusyuk (Rahasia Meraih Kenikmatan dalam Shalat). Solo: Jembatan Ilmu.&lt;br /&gt;Al- Hasani, K. 1992. Shalat Penerang Umat. Bandung: Remaja Rosda Karya.&lt;br /&gt;Al- Jauziyah, I.Q. 2008. The Secret of Sholat: Energi Dahsyat dibalik Bacaan dan Gerakan. Jakarta:Pustaka Fahima.&lt;br /&gt;Al Ghazali.1995. Rahasia-Rahasia Shalat. Bandung: Karisma.&lt;br /&gt;Al Munajjid, M.2002. 33 Kiat Shalat Khusyuk. Surabaya:  Gema Insani.&lt;br /&gt;Al-Qur’an dan Terjemahan. 2001. Semarang: CV. Toha Putra.&lt;br /&gt;Arikunto, S.1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi III). Jakarta: Gramedia.&lt;br /&gt;Astono, B. 2001. Anak Cerdas dan Kreatif. Jakarta: Erlangga.&lt;br /&gt;As-Shiddieqy, H. 1986. Pedoman Shalat. Jakarta: Bulan Bintang.&lt;br /&gt;Azwar, S. 1999. Validitas dan Reliabilitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;               .1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;Chaplin, C. P. 2001. Kamus Lengkap Psikologi (Alin Bahasa: Kartono, K). Edisi I Cetakan Ke-2. Jakarta: Grafido Persada.&lt;br /&gt;Daradjat, Z.1990. Shalat Menjadikan Hidup Bermakna. Bandung: Remaja Rosda Karya.&lt;br /&gt;Davidoff, L. 1988. Psikologi Suatu Pengantar I. Jakarta: Erlangga.&lt;br /&gt;Hadi, S. 2004. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: Andi Offset.&lt;br /&gt;           . 2004. Metodologi Research, Jilid 2. Yogyakarta: Andi Offset.&lt;br /&gt;           . 2004. Metodologi Research, Jilid 3. Yogyakarta: Andi Offset.&lt;br /&gt;Hernawati, NM.2006. Hubungan antara Kemandirian dan Kepercayaan Diri dengan Kemampuan Pemecahan Masalah pada Remaja yang tinggal di Panti Asuhan. Skripsi (tidak diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.&lt;br /&gt;Gunarso, D. 1990. Psikologi Anak Bermasalah. Jakarta: BPK. Gunung Mulia.&lt;br /&gt;Kneeland, S. 2001. Solving Problem: Pemecahan Masalah. Jakarta: Elex Media Komputindo.&lt;br /&gt;Kresnawati. 2004. Hubungan antara Kecerdasan Spiritual dengan Kemampuan Pemecahan Masalah pada Remaja. Skripsi (tidak diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.&lt;br /&gt;Lari, M. 2003. Hidup Kreatif. Depok: Inisari Press.&lt;br /&gt;Martiyastuti, L. 2008. Hubungan antara Pola Asuh  Demokratis Orang Tua dan Kemandirian dengan Kemampuan Menyelesaikan Masalah pada Remaja. Skripsi (tidak diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.&lt;br /&gt;Mappiare, A. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.&lt;br /&gt;Monks, F. J. Knoers, A.M.P, 2001. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.&lt;br /&gt;Monica, Ell. 1998. Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Pendekatan Berdasarkan Pengalaman (Terjemahan: Elly, M. dkk). Jakarta: EGC.&lt;br /&gt;Munandar, U. 1999. Kreativitas Keterbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi dan Bakat. Jakarta: Grafindo.&lt;br /&gt;Prasetya, B.K. 2002. Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan. Semarang: UPT. Penerbitan Universitas Katolik Soegiopranata.&lt;br /&gt;Sangkan, A. 2006 . Pelatihan Sholat Khusyuk. Jakarta: Baitul Ihsan.&lt;br /&gt;Shihab, MQ. 2000. Tafsir Al Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al Qur’an Volume 9. Jakarta: Lentera Hati.&lt;br /&gt;Syafi’i ,A. 1984. Pengantar Shalat yang Khusyuk. Bandung: Remaja Rosyda Karya.&lt;br /&gt;Setiyowartini, A. 2008. Pengaruh Pelatihan Kreativitas terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah pada Siswa Siswi Sekolah Dasar. Skripsi (tidak diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.&lt;br /&gt;Stein dan Book. 2000. Ledakan IQ: 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses (terjemahan Rainy, T dan Martanto, Y). Bandung: Kaffa.&lt;br /&gt;Suadirman.1992. Komunikasi dan Perubahan Mental. Yogyakarta: Studing.&lt;br /&gt;Suharnan. 2005.Psikologi Kognitif. Surabaya: Srikandi.&lt;br /&gt;Suryabrata, S. 1993. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali.&lt;br /&gt;Susilowati, D. 2004. Kemampuan Pemecahan Masalah ditinjau dari Efikasi Diri dan Peran Jenis Kelamin. Skripsi (tidak diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.&lt;br /&gt;Thabbarah, A.A.F. 2001. Ruh shalat Dimensi Fiqih dan Kejiwaan. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.&lt;br /&gt;Thalib, M. 2001. Tunyunan Khusyu’ Shalat. Bandung: Irsyad Baitus Salam.&lt;br /&gt;Walgito, B. 2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi Offset.&lt;br /&gt;Widayatun, T.R. 1999. Ilmu Perilaku. Jakarta: CV. Sagung Seto.&lt;br /&gt;Woolfolk, A.E dan Nicholich, L.M. 2004. Mengembangkan Kepribadian dan Kecerdasan Anak-Anak (Psikologi Pembelajaran I). (terjemahan: Anam, M.K). Jakarta: Inisiasi Press.&lt;br /&gt;Yusuf, R.A. 1985. Indeks Al-Qur’an. Bandung: Pustaka.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-3259184165058138947?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/3259184165058138947/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=3259184165058138947&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/3259184165058138947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/3259184165058138947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2010/04/perbedaan-kemampuan-pemecahan-masalah.html' title='PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH ANTARA JAMA’AH HALAQOH SHALAT KHUSYUK  DAN BUKAN JAMA’AH HALAQOH SHALAT  KHUSYUK DI SURAKARTA'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-1329619358993843973</id><published>2010-04-04T20:00:00.001+07:00</published><updated>2010-04-04T20:06:54.778+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lunas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sedekah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bayar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hutang'/><title type='text'>Membayar Hutang itu Ibadah Tips Melunasi Hutang</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cadmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 3.0in right 6.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 3.0in right 6.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:89.85pt 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1669361753; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1362040192 1565311558 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:.75in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.75in; 	text-indent:-.25in;} @list l1 	{mso-list-id:1839613923; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1261512618 -1210561478 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:.75in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.75in; 	text-indent:-.25in;} @list l2 	{mso-list-id:1966302501; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-986146438 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Abu Hurairah ra berkata: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;Barang siapa yang hutang uang kepada &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;orang, lantas berkehendak untuk membayarnya maka Allah akan mempermudah jalannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk melunasinya. &lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Barang siapa yang hutang dengan tujuan tidak membayar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka Allah akan membinasakannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(HR Bukhari dan Ibnu Majah)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Rasulullah SAW bersabda: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;Orang yang masih mempunyai tanggungan hutang (lantas meninggal dunia) maka terbelenggu di kuburan, tidak akan lepas kecuali hutang dibayar (oleh ahli warisnya).”&lt;/i&gt; (HR Adailami)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Prolog&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hutang merupakan kewajiban yang harus dibayarkan, konsekwensi orang berhutang mau tidak mau, punya tidak punya, harus membayar. Sekarang model orang berhutang bermacam macam, dari mulai hutang dengan tetangga hingga dengan menggunakan kartu kredit. Memiliki barang yang disenangi tidak lagi menjadi hambatan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Masalah muncul ketika hutang bertumpuk dan memakan uang yang seharusnya untuk keperluan sehari hari. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Bertumpuknya hutang yang harus dibayarkan membuat hidup tidak tenang, tidur tidak nyenyak, dan emosi pun mulai tidak stabil, mudah marah, stress... &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hutang yang mulanya menyenangkan mulai menjadi neraka, untuk itu perlu ada cara yang praktis agar hidup lebih bahagia dengan tetap dililit hutang, hidup tetap happy biarpun cicilan tiap bulan harus dijalankan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak ada masalah dalam hidup yang tidak dapat diselesaikan, semua ada solusinya, tinggal bagaimana caranya saja. Kita sangatlah rugi jika kita hutang dan hati kita sedih, biarkan hutang tetap hutang toh nanti di akhir bulan kita tetap bayar. Kenapa harus dipikir dengan berat toh kita juga bayar di akhir bulan. Jadi untuk apa memilirkan hutang, jadi untuk apa berpikir keras tentang hutang, untuk apa tidak bisa tidur hanya gara gara hutang.... &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun untuk membuat happy dengan hutang yang kian menumpuk, tidak lah setiap orang bisa, tidak lah setiap orang mampu, apalagi jika di tambah dengan permasalahan permasalahan yang lain seperti masalah keluarga, masalah pekerjaan, masalah dengan teman .. wah rasanya tidak mungkin untuk bisa tidur nyenyak, untuk makan enak,....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Artikel singkat ini saya tulis agar para penghutang (orang yang hutang) memiliki metode praktis yang dapat membebaskan dirinya dari lilitan hutang, cepat lunas, dengan cara yang sederhana, dengan cara yang mudah, dan cara yang di ridloi Allah SWT. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2. cara cepat bayar hutang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Prinsip dasar dari metode ini mendasarkan pada 3 hal pokok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Niat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; membayar hutang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bersedakah dengan ihlas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Yakin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; kepada Allah kalau Allah melunasi hutang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bersyukur &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;karena Allah telah menyediakan uang untuk kita&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bekerja&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; dengan baik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kelima cara ini merupakan dasar yang harus dimiliki, saya akan menguraikan bagaimana memformulasikan kelima prinsip diatas. Formulasi pembayaran hutang ini hanya bersifat memudahkan saja, agar kelima unsur tersebut memiliki kekuatan yang mempercepat hutang kita cepat terbayar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Baiklah akan saya uraikan satu persatu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berniatlah, tetapkan niat membayar hutang ini setiap kali teringat dengan hutang. Pupuklah niat ini, pepatah mengatakan ”semakin kuat niat maka akan semakin cepat suatu keinginan akan terwujud” jadi perbaharui selalu niat untuk membayar hutang hingga pikiran, emosi, perilaku kita terpengaruh untuk ”bagaimana segera menyelesaikan hutang”. Jangan pernah terbersit dalam hati untuk ”tidak membayar hutang” bahasa jawanya &lt;i style=""&gt;ngemplang&lt;/i&gt;, kita berniat sedikit saja untuk tidak bayar hutang maka pikiran kita, emosi dan perilaku kita akan terpengaruh untuk tidak membayar. Niat ini merupakan modal dasar bagi kita untuk dapat melunasi hutang, jangan menyepelekan niat. Niat akan menjadikan motivasi kita semakin besar, dampak yang lain adalah niat dapat mengurangi stress kita terhadap hutang, niat yang kuat dapat mengurangi kekhawatiran tidak bisa bayar hutang. Berniatlah karena Allah, jadi berniat ihlas karena Allah untuk bisa membayar hutang. Berhutang merupakan sunah rasulullah yaitu mensegerakan untuk melunasi hutang. Maka jika kita mensegerakan membayar hutang berarti itu perintah Allah. So... membayar hutang dengan ihlas karena Allah. Dengann ihlas karena Allah ini akan menguatkan kita dalam berusaha untuk segera membayar hutang, semakin hutang dapat di lunasi akan semakin baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;metode kedua, agar lebih lancar targetkan perbulan untuk membayar. Misalnya 500 ribu, atau 1juta... dst, biasaya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jika pinjaman dari bank hal itu sudah ditentukan besar cicilannya. Target perbulan ini penting agar di tiap bulannya kita bisa memprediksikan jumlah uang yang kita keluarkan baik untuk keperluan sehari hari hari maupun untuk membayar cicilan tiap bulannya. Jadi hal ini harus jelas, karena prinsip dari metode ini adalah kejelasan jumlah yang harus dibayarkan. Kami menggunakan pendekatan ini karena apa yang kita inginkan itulah yang kita dapatkan, kalau setiap bulan kita membayar cicilan 500ribu sedangkan kebutuhan sehari hari habis 2 juta padahal gaji Cuma 1,5juta perbulan, sehingga ada 1 juta defisit .... nah yang satu juta ini haru kita dapatkan dalam satu bulan. Ini jelas penting karena secara matematik orang tersebut harus mencari penghasil tambahan sebesar 1 juta. Untuk itu diperlukan keyakinan yang kuat kepada Allah, bahwa Allah akan memberikan jalan rejeki yang tidak di sangka sangka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;metode ke 3 setelah mentargetkan perbulan berapa rupiah, langkah selanjutnya adalah membuat rejeki kita masuk dari jalan yang tidak disangka sangka yaitu dengan cara memberikan sebagian uang kita kepada orang lain alias shodaqoh atau sedekah. Jika kekurangan uang tadi adalah 1 juta maka uang yang kita sedekahkan adalah 110ribu rupiah, kenapa 110 ribu karena nanti Allah akan menyediakan kepada kita uang sejumlah 1100ribu (satu juta seratus ribu), atau 10 kali lipatnya. sedekah ini penting sekali karena inilah yang menjadi pokok inti dari cara ini. Mungkin anda sering mendengar bahkan sudah melakukkannya, namun ada sedikit perbedaan, perbedaannya terletak pada bahwa 10 kali lipat yang disediakan Allah tidak Cuma Cuma, atau tidak datang begitu saja. Kita harus menyambutnya dengan bekerja dan mencari jalan bagaimana untuk mendapatkannya. Ingat waktu anda hanya sebulan untuk mendapatkan lipatannya. Kalau kita hanya menunggu dan tidak beraktivitas apapun malah kita memikirkannya ”mana lipatan yang dijanjikan Allah” maka saya yakin lipatan itu tidak akan datang. Dan anda akan kecewa karena jumlah liptan 10 kali tidak muncul. Cara sedekahnya pun tidak boleh sembarangan, ada caranya yaitu: 1. sedekahlah kepada orang yang lebih membutuhkan uluran tangan kita, kepada orang tua kita, kepada saudara saudara kita dan kepada orang yang lebih dekat dengan kita. 2. cara sedekah adalah dengan ihlas lillahi taala, tidak mengharapkan 10 kali lipatan dari Allah (karena memang ”tidak harap harapkan” namun lipatan 10 kali lipat seharusnya ”di Yakini”). Kenapa harus ihlas ketika memberikan karena sedekah ini pada hakikatnya adalah memberikan ke Allah, bukan ke orang yang kita beri. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jadi pada saat kita memberikan uang sedekah hakikat sesungguhnya kita memberikan ke Allah. 3. cara memberikan kepada orang dengan cara yang baik, misalnya dengan tangan kanan, dengan senyum, dengan cara yang tidak menyinggung perasaannnnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;cara yang ke empat, adalah meyakini bahwa Allah telah menyediakan kelipatan 10 kalinya dari uang yang kita sedekahkan, langsung setelah ketika kita memberikan ke orang. Ingat yakin bahwa Allah telah menyediakan, artinya uang yang sudah disediakan Allah ini harus kita usahakan, harus kita dapatkan, harus kita perjuangkan dengan cara cara yang sudah menjadi sunatullah (hukum Allah) yaitu bekerja, mencari ide, mencari peluang, dan lain sebagainya. Pokoknya gunakan segala kekuatan diri kita untuk meraih 10 kali lipatnya tadi. Jika Allah sudah menyediakan 10kali lipatnya maka kita akan diberi kemudahan oleh Allah untuk mendapatkannya, tapi jika kita belum mendapatkan dari Allah, maka rejeki akan lebih susah kita dapatkan. Jadi kelebihan bersedakah adalah Allah akan memudahkan usaha kita, Allah akan memberikan jalan yang tidak pernah kita sangka sangka datangnya. Dan yang jelas kemudahan itu akan membuat kita lebih tenang dalam bekerja, lebih semangat dalam bekerja dan lebih happy tentunya. Ingat yang mengatur Alam semesta ini adalah Allah jadi kalau yang mengatur alam semesta ini menghendaki kita untuk mendapatkan rejeki uang maka hal itu mudah saja bagiNya untuk mengatur sebarapa besar uang yang kita butuhkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada tahap ini keyakinan kita diuji, apakah dengan sedekah kita yakin dapat melunasi atau tidak. Salah satu kelemahan dari metode ini adalah jika orang yang mempraktekannya lemah imannya kepada Allah, lemah keyakinannya kepada Allah. Namun kita tidak perlu khawatir jika kita merasa iman kita lemah, teruslah mencoba dari sedekah yang paling ringan menurut kita, kemudian kita yakini. Misalnya kita sedekah 10ribu kita yakin kalau Allah melipatgandakan menjadi 100ribu. Ini lebih baik dari pada kita langsung bersedekah dengan jumlah uang lebih banyak namun kita terganggu dengan jumlah yang besar terebut. Berlatih lah dari yang kecil besar, besar dan besar.... yang penting adalah keyakinan kita bahwa Allah melipatgandakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Latihan sedekah dengan meyakini ini juga dapat untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah. Dengan sedekah yang sedikit kemudian kita meyakini dan Allah memberikan kelipatan maka iman kita meningkat karena kita benar benar membuktikan bahwa Allah benar benar menepati janjinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;cara terakhir adalah ACTION, atau bergeraklah, cepat cepatlah bertindak, semakin kita cepat dalam menyambut rejeki dari Allah maka semakin cepat pula Allah memberikan kita uang. Action lah sesuai dengan aturan yang ada, bekerjalah dengan tekun dan baik, tolonglah orang dengan ihlas, silaturahmi, carilah kesempatan berbisnis, peluang bisnis, jualkan dagangan orang lain, jadilah penghubung, sambil relaks, ambilah kesempatan untuk bisa menjualkan milik orang lain kemudian minta bagi hasilnya. Jangan hanya diam menunggu Allah memberikan, karena jika iman kita lemah, keyakinan kita lemah maka diam kita akan dapat merusak manfaat ssedekah itu tadi. Misalnya dengan mengharap harap maka mengharap harap itu sama saja dengan tidak meyakini Allah. Kalau kita tidak meyakini bahwa Allah memberikan lipatan 10 kali maka , Allah tidak akan memberikannya. Jadi bertindaklah. Cara yang paling mudah dalam bertindak adalah ambil barang kemudian jual. Berdagang ini cara yang paling mudah untuk menarik rejeki yang sudah disediakan Allah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bersyukur,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; bersyukur ini sebagai kunci agar rejeki untuk kita tetap terjaga, Allah sangat tergantung sekali dengan prasangka kita kepada Nya, jika kita berprasangka positif maka kita akan menjadi positif, tapi jika kita berprasangka negatif maka kita akan mendapatkan negatif. Terbayarnya hutang karena kita berprasangka kepada Allah bahwa menyediakan uang untuk kita bayarkan. Hutang kita tak terbayar karena ada prasangka negatif kepada Allah bahwa rejeki Allah tidak ada, Allah tidak melipatgandakan uang saya, hutang ku terlalu banyak dan seterusnya, pikiran pikiran demikian menunjukkan bahwa Allah itu pembohong, Allah itu tidak dipercaya, dan Allah itu tidak menepati janjinya. Bila kita demikian maka Allah pun akan menjadi yang kita sangkakan kepada Nya, sehingga kita sulit mendapatkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rejeki meski kita telah sedekah, Allah tidak memudahkan usaha kita karena kita berprasangka kalau Allah itu menyulitkan saya. Untuk itu usaha kita dari mulai niat membayar hutang, bersedekah dan meyakini... jangan sampai dirusak oleh pikiran negatif kita. &lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pikiran negatif muncul karena kita kurang bersyukur atau tidak bersyukur kepada Allah. Coba, kalau kita selalu bersyukur maka akan muncul pikiran positif dan pikiran positif ini memunculkan emosi positif dan hal ini akan menyebabkan baik sangka kepada Allah, nah kalau kita sudah baik sangka kepada Allah dengan bersyukur maka Allah akan menurunkan kemudahan dan akan memberikan jalan keluar yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya. Prakteknya : jika kita sudah bersedekah maka otomatis Allah langsung menukarnya 10 kali lipat (minimal) nah kita yakini itu, dan kita syukuri. Kita bersyukur karena Allah telah menyediakannya untuk kita, lalui hidup kita dengan penuh syukur atas nikmat kelipatan sepuluh tadi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Syukur ini harus benar benar kita jaga tidak boleh sedetikpun kita kotori dengan pikiran negatif. HARUS SELALU BERSYUKUR. Contoh lebih praktisnya tentang bersyukur ini adalah : saya sedekah 1 juta, setelah saya sedekahkan 1 juta itu berarti Allah telah menyediakan untuk saya 10 juta, nah karena Allah menyediakan 10 juta berarti saya untuk 9 juta. Keuntungan ini membuat hati saya happy, senang, bahagia, dan saya BERSYUKUR KEPADA ALLAH karena Allah telah menyediakan keuntungan 9 juta untuk saya. Saya tidak boleh terganggu oleh keadaan misalnya ”kapan?, lewat mana?, kok nggak muncul muncul...? ” pikiran ini akan memancing saya untuk tidak bersyukur, maka pikiran pikiran tadi harus saya hindari dan bila terlintas akan saya lempar jauh jauh, sehingga benar benar saya bersyukur karena Allah telah memberikan saya keuntungan 9 juta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kendala paling utama dalam melunasi hutang dengan cara sedekah ini adalah lemahnya rasa syukur kita, saya tidak memvonis, tapi biasanya kita terganggu dengan tidak munculnya balasan dari Allah sebesar 10 kali lipatnya, seharusnyakan selepas sedekah hati kita bahagia tapi kita masih saja kepikiran hutang, masih saja kepikiran hutang yang tak terbayarkan. Nah disinilah kita perlu melatih keyakinan kita kepada Allah dan kemudian kita bersyukur sebagai konsekwensi dari keyakinan kita. Cobalah untuk meyakini setiap sedekah yang kita berikan dilipatkan 10 kalinya, dan terus lah bersyukur .... bayangkan : kita sedekah 1 juta, Allah memberikan 10 juta.... keuntungan 9 juta! Berniaga dengan Allah pasti sangat menguntungkan. Makanya bersyukur, bersyukur dan bersyukur................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keenam cara tersebut harus dilakukan dengan tenang, tidak terburu buru. Cara ini sangat pas jika anda memiliki hutang yang sepertinya tak terbayarkan. Jadi anda memiliki unsur kepepet, unsur terdesak, unsur ini sangat baik karena akan memicu adrenalin, memicu kepasrahan, memicu kenekatan, memicu motivasi, dan memicu kesungguhan anda dalam membayar hutang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk lebih jelasnya akan saya berikan ilustrasi agar anda dapat memahaminya dengan jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya hutang kepada bank 50 juta, setiap bulan saya harus membayar hutang saya sebesar 1 juta. Uang belanja harian pas pasan untuk keperluan sehari hari sehingga saya harus menambahkan uang 1 juta membayar cicilan tersebut. Baiklah cara yang pertama : &lt;b style=""&gt;SAYA BERNIAT MEMBAYAR HUTANG IHLAS KARENA ALLAH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cara yang kedua : &lt;b style=""&gt;SAYA BERNIAT MEMBAYAR SETIAP BULAN 1 JUTA RUPIAH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cara yang ketiga &lt;b style=""&gt;: SAYA BERSEDEKAH RP. 100.000,00 (SERATUS RIBU)&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cara yang keempat: &lt;b style=""&gt;SAYA YAKIN ALLAH MENYEDIAKAN 1.000.000 RUPIAH UNTUK SAYA&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cara yang ke lima : &lt;b style=""&gt;SAYA SIAP MENYAMBUT 1 JUTA DARI ALLAH DENGAN GIAT BEKERJA MENCARI PELUANG BISNIS. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cara yang ke enam :&lt;b style=""&gt;SAYA AKAN BERSYUKUR SETIAP SAAT KARENA ALLAH MEMBERI KELIMPAHAN REJEKI KEPADA SAYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Baiklah mudah mudah cara ini dapat membantu anda yang terlilit hutang agar segera terbebas dari hutang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Selamat mencoba semoga Allah memberikan kemudahan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Setiyo Purwanto&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;081567722299&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-1329619358993843973?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/1329619358993843973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=1329619358993843973&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/1329619358993843973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/1329619358993843973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2010/04/membayar-hutang-itu-ibadah-tips.html' title='Membayar Hutang itu Ibadah Tips Melunasi Hutang'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-6976840626230320430</id><published>2007-09-18T02:03:00.000+07:00</published><updated>2007-09-18T02:04:04.341+07:00</updated><title type='text'>Sejarah Psikologi Islami</title><content type='html'>Dimulai pada tahun 1978 dengan berlangsungnya simposium internasional tentang Psikologi dan Islam. Disusul dengan terbitnya sebuah buku kecil karya Malik. B. Badri yaitu The Dilemma of Muslim Psychologist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase-fase perkembangan Psikologi Islami&lt;br /&gt;1.       Terpesona&lt;br /&gt;Perasaan kagum terhadap teori psikologi modern&lt;br /&gt;2.      Kritik&lt;br /&gt;Kritik besar-besaran terhadap psikologi modern&lt;br /&gt;3.      Perumusan&lt;br /&gt;Membuat konsep psikologi yang berwawasan Islam&lt;br /&gt;4.      Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian dilakukan untuk mengkaji fenomena keberagamaan dalam Islam dengan metode penelitian yang dilakukan oleh psikologi modern&lt;br /&gt;5.      Penerapan&lt;br /&gt;Hasil penelitian yang dilakukan dipergunakan untuk kemajuan umat Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk pengkajian yang dilakukan dalam Psikologi Islami&lt;br /&gt;1.       Psikologi menjelaskan Islam&lt;br /&gt;Ilmu psikologi dilakukan untuk menjelaskan fenomena yang terjadi pada dunia Islam baik sosial, maupun spiritual. Namun menemui kendala karena tidak setiap fenomena yang muncul bisa dikupas dengan ilmu Psikologi.&lt;br /&gt;2.      Perbandingan psikologi dan Islam&lt;br /&gt;Membandngkan antara teori Psikologi dengan konsep Islam tentang manusia&lt;br /&gt;3.      Penilaian Islam terhadap Psikologi&lt;br /&gt;Menggunakan sudut pandang Islam terhadap konsep psikologi modern, hal ini dilakuakn dengan alasan bahwa Islam adalah sumber pedoman dan tata nilai kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya merumuskan Psikologi Berdasarkan pandangan dunia Islam&lt;br /&gt;a.      Memahami psikologi secara&lt;br /&gt;·         Kauniyah        : Melihat kejadian alam&lt;br /&gt;·         Kauliyah         : Melihat Dalil Al-Quran dan Hadits&lt;br /&gt;b.      Melakukan objektifikasi yaitu mengubah pandangan yang normatif menjadi pandangan yang objektif atau bisa diukur&lt;br /&gt;c.       Pola-pola dalam perumusan Psikologi Islam&lt;br /&gt;Bertitik tolak pada Al-Quran dan Hadits, menggunakannya sebagai rujukan. Cara:&lt;br /&gt;a.      Memahami istilah tematik yang ada dalam Al-Quran dan Hadits&lt;br /&gt;b.      Memahami secara keseluruhan tentang manusia menurut pandangan Al-Qur’an dan Hadits&lt;br /&gt;Perumusan dari khasanah Islam tentang manusia&lt;br /&gt;Mengacu konsep-konsep yg terdapat pada ilmu-ilmu Keislaman yang dikembangkan juga dari Al-Quran dan hadits&lt;br /&gt;Mengambil inspirasi dari hazanah Psikologi modern dan membahasnya dengan pandangan Islam&lt;br /&gt;Mengambil teori psikologi modern sebagai inspirasi untuk mengkaji persoalan yang sama dalam konsep Islam&lt;br /&gt;Merumuskan konsep manusia berdasarkan pribadi yang melaksanakan ajaran Islam&lt;br /&gt;Metode yang dipakai adalah dengan menggambarkan dan menggambarkan pribadi yang menjalani kehidupan secara Islami&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-6976840626230320430?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/6976840626230320430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=6976840626230320430&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/6976840626230320430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/6976840626230320430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2007/09/sejarah-psikologi-islami.html' title='Sejarah Psikologi Islami'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-6887463715995950380</id><published>2007-09-18T01:59:00.000+07:00</published><updated>2007-09-18T02:02:45.462+07:00</updated><title type='text'>HAKEKAT PSIKOLOGI ISLAM</title><content type='html'>Sejak pertengahan abad XIX, yang didakwahkan sebagai abad kelahiran psikologi kontemporer di dunia Barat, terdapat banyak pengertian mengenai “psikologi” yang ditawarkan oleh para psikolog. Masing-masing pengertian memiliki keunikan, seiring dengan kecenderungan, asumsi dan aliran yang dianut oleh penciptanya. Meskipun demikian, perumusan pengertian psikologi dapat disederhanakan dalam tiga pengertian. Pertama, Psikologi adalah studi tentang jiwa (psyche), seperti studi yang dilakukan Plato (427-347 SM.) dan Aristoteles (384-322 SM.) tentang kesadaran dan proses mental yang berkaitan dengan jiwa. Kedua, Psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental, seperti pikiran, perhatian, persepsi, intelegensi, kemauan, dan ingatan. Definisi ini dipelopori oleh Wilhelm Wundt. Ketiga, Psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang perilaku organisme, seperti perilaku kucing terhadap tikus, perilaku manusia terhadap sesamanya, dan sebagainya. Definisi yang terakhir ini dipelopori oleh John Watson.&lt;br /&gt;Pengertian pertama lebih bernuansa filosofis, sebab penekanannya pada konsep jiwa. Psikolog di sini berperan untuk merumuskan hakekat jiwa yang proses penggaliannya didasarkan atas pendekatan spekulatif. Kelebihan pengertian pertama ini dapat mencerminkan hakekat psikologi yang sesungguhnya, sebab ia dapat mengungkap hakekat jiwa yang menjadi objek utama kajian psikologi. Kelemahannya adalah bahwa pengertian ini belum mampu membedakan antara disiplin filsafat yang bersifat spekulatif dengan psikologi yang bersifat empiris. Psikologi seakan-akan masih menjadi bagian dari disiplin filsafat, yang salah satu kajiannya membahas hakekat jiwa.&lt;br /&gt;Pengertian kedua mencoba memisahkan antara disiplin filsafat dengan psikologi, sehingga fokus kajiannya pada kehidupan mental, seperti pikiran, perhatian, persepsi, intelegensi, kemauan, dan ingatan. Namun pemisahan ini belum sempurna, sehingga antara disiplin filsafat dengan psikologi masih berbaur. Pengertian psikologi yang lazim dipakai dalam wacana Psikologi Kontemporer adalah pengertian ketiga, karena dalam pengertian ketiga ini mencerminkan psikologi sebagai disiplin ilmu yang mandiri yang terpisah dari disiplin filsafat. Pada pengertian ketiga ini, fokus kajian psikologi tidak lagi hakekat jiwa, melainkaan gejala-gejala jiwa yang diketahui melalui penelaahan perilaku organisme. Manusia merupakan mahluk hidup yang memiliki jiwa, namun secara empirik hakekat jiwa tersebut tidak dapat diketahui, sehingga psikologi hanya membahas mengenai proses, fungsi-fungsi, dan kondisi kejiwaan. Bagi psikolog tertentu, khususnya dari kalangan Psiko-behavioristik, tidak begitu tertarik dengan membicarakan hakekat jiwa. Mereka bahkan tidak memperdulikan perbedaan jiwa manusia dengan jiwa binatang. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana memberi rangsangan atau stimulus pada jiwa tersebut agar ia mampu meresponsnya dalam bentuk perilaku.&lt;br /&gt;Pengertian psikologi yang dimaksud dalam buku ini lebih cenderung pada pengertian pertama. Ada beberapa alasan mengapa pengertian pertama yang dipilih: Pertama, Psikologi Islam sebagai disiplin ilmu yang mandiri baru memasuki proses awal. Pendekatan yang digunakan lebih mengarah pada pendekatan spekulatif, yang membicarakan hakekat mental dan kehidupannya. Sumber data yang digunakan berasal dari proses deduktif, yang digali dari nash (al-Qur`an dan al-Sunnah) dan hasil pemikiran para filosof atau sufi abad klasik, dan belum memasuki wilayah empiris-eksperimental; Kedua, Psikologi Kontemporer Barat dalam perkembangannya mengalami distorsi yang fundamental. Psikologi seharusnya membicarakan tentang konsep jiwa, namun justru ia mengabaikan bahkan tidak tahu-menahu tentang hakekat jiwa, sehingga ia mempelajari “ilmu jiwa tanpa konsep jiwa.” Ketiga, karena alasan ke dua di atas, psikologi kontemporer mempelajari manusia yang tidak berjiwa. Atau, menyamakan gejala kejiwaan manusia dengan gejala kejiwaan hewan, sehingga temuan-temuan dari perilaku hewan digunakan untuk memahami perilaku manusia. Atas dasar ketiga alasan di atas, penulis lebih cenderung menggunakan pengertian pertama. Pemilihan ini tidak berarti menafikan keberadaan pengertian psikologi yang lain, tetapi penulis berharap agar ada perimbangan atau bandingan dalam memilih model pengembangan disiplin psikologi. Untuk beberapa tahun mendatang, barangkali Psikologi Islam dapat mengembangkan pengertian yang ketiga, setelah kerangka konseptualnya telah mapan dan diakui secara objektif dalam perbendaharaan Psikologi Kontemporer.&lt;br /&gt;Psikologi secara etimologi memiliki arti “ilmu tentang jiwa”. Dalam Islam, istilah “jiwa” dapat disamakan istilah al-nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan istilah al-ruh, meskipun istilah al-nafs lebih populer penggunaannya daripada istilah al-nafs. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda.&lt;br /&gt;Istilah ‘Ilm al-Nafs banyak dipakai dalam literatur Psikologi Islam. Bahkan Sukanto Mulyomartono lebih khusus menyebutnya dengan “Nafsiologi.” Penggunaan istilah ini disebabakan objek kajian psikologi Islam adalah al-nafs, yaitu aspek psikopisik pada diri manusia. Term al-nafs tidak dapat disamakan dengan term soul atau psyche dalam psikologi kontemporer Barat, sebab al-nafs merupakan gabungan antara substansi jasmani dan substansi ruhani, sedangkan soul atau psyche hanya berkaitan dengan aspek psikis manusia. Menurut kelompok ini, penggunaan term al-nafs dalam tataran ilmiah tidak bertentangan dengan doktrin ajaran Islam, sebab tidak ada satupun nash yang melarang untuk membahasnya. Tentunya hal itu berbeda dengan penggunaan istilah al-ruh yang secara jelas dilarang mempertanyakannya (perhatikan Q.S. al-Isra` ayat 85).&lt;br /&gt;Penggunaan istilah ‘Ilm al-Ruh ditemukan dalam karya ‘psikolog’ Zuardin Azzaino. Istilah itu kemudian dijadikan dasar untuk membangun ‘Psikologi Ilahiah’, yaitu psikologi yang dibangun dari kerangka konseptual al-ruh yang berasal dari Tuhan. Boleh jadi Azzaino tidak mengikuti perkembangan literatur Psikologi Islam, sebab literatur yang digunakan dalam bukunya tidak satupun yang bersumber dari ’Ilm al-Nafs fi al-Islam (Psikologi Islam). Tetapi yang menarik dari tawaran Azzaino tersebut adalah bahwa ruh yang menjadi objek kajian psikologi Islam memiliki ciri unik, yang tidak akan ditemukan dalam Psikologi Kontemporer Barat. Objek kajian Psikologi Islam adalah ruh yang memiliki dimensi ilahiah (teosentris), sedangkan objek kajian Psikologi Kontemporer Barat berdimensi insaniah (antroposentris). Karena perbedaan yang mendasar inilah maka Azzaino terpaksa menggunakan term khusus untuk menentukan ciri unik Psikologi Islam.&lt;br /&gt;Menanggapi kedua polemik ini, penulis lebih cenderung menggunakan istilah ‘Ilm al-Nafs. Selain istilah itu lebih populer dan masuk dalam perbendaharaan literatur psikologi, secara ideologis pembahasan objek al-nafs tidak bertentangan dengan nash. Hanya saja yang patut dipertimbangkan adalah kritikan Malik B. Badri bahwa Psikologi Islam kini nyaris masuk dalam liang Biawak, yang sulit keluar darinya. Kritikan itu nampaknya dapat ‘ditangkap’ dengan cermat oleh Azzaino, sehingga ia mencoba mencari alternatif peristilahan baru. Dengan demikian, kebolehan menggunakan istilah ‘Ilm al-Nafs dengan catatan tidak menyalahi kerangka filosofis Psikologi Islam.&lt;br /&gt;Hakekat psikologi Islam dapat dirumuskan sebagai berikut: “kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.”&lt;br /&gt;Hakekat definisi tersebut mengandung tiga unsur pokok; Pertama, bahwa psikologi Islam merupakan salah satu dari kajian masalah-masalah keislaman. Ia memiliki kedudukan yang sama dengan disiplin ilmu keislaman yang lain, seperti Ekonomi Islam, Sosiologi Islam, Politik Islam, Kebudayaan Islam, dan sebagaianya. Penempatan kata “Islam” di sini memiliki arti corak, cara pandang, pola pikir, paradigma, atau aliran. Artinya, psikologi yang dibangun bercorak atau memilili pola pikir sebagaimana yang berlaku pada tradisi keilmuan dalam Islam, sehingga dapat membentuk aliran tersendiri yang unik dan berbeda dengan psikologi kontemporer pada umumnya. Tentunya hal itu tidak terlepas dari kerangka ontologi (hakekat jiwa), epistimologi (bagaimana cara mempelajari jiwa), dan aksiologi (tujuan mempelajari jiwa) dalam Islam. Melalui kerangka ini maka akan tercipta beberapa bagian psikologi dalam Islam, seperti Psikopatologi Islam, Psikoterapi Islam, Psikologi Agama Islam, Psikologi Perkembangan Islam, Psikologi Sosial Islam, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kedua, bahwa Psikologi Islam membicarakan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia. Aspek-aspek kejiwaan dalam Islam berupa al-ruh, al-nafs, al-kalb, al-`aql, al-dhamir, al-lubb, al-fu’ad, al-sirr, al-fithrah, dan sebagainya. Masing-masing aspek tersebut memiliki eksistensi, dinamisme, proses, fungsi, dan perilaku yang perlu dikaji melalui al-Qur’an, al-Sunnah, serta dari khazanah pemikiran Islam. Psikologi Islam tidak hanya menekankan perilaku kejiwaan, melainkan juga apa hakekat jiwa sesungguhnya. Sebagai satu organisasi permanen, jiwa manusia bersifat potensial yang aktualisasinya dalam bentuk perilaku sangat tergantung pada daya upaya (ikhtiyar)-nya. Dari sini nampak bahwa psikologi Islam mengakui adanya kesadaran dan kebebasan manusia untuk berkreasi, berpikir, berkehendak, dan bersikap secara sadar, walaupun dalam kebebasan tersebut tetap dalam koredor sunnah-sunnah Allah Swt.&lt;br /&gt;Ketiga, bahwa Psikologi Islam bukan netral etik, melainkan sarat akan nilai etik. Dikatakan demikian sebab Psikologi Islam memiliki tujuan yang hakiki, yaitu merangsang kesadaran diri agar mampu membentuk kualitas diri yang lebih sempurna untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Manusia dilahirkan dalam kondisi tidak mengetahui apa-apa, lalu ia tumbuh dan berkembang untuk mencapai kualitas hidup. Psikologi Islam merupakan salah satu disiplin yang membantu seseorang untuk memahami ekspresi diri, aktualisasi diri, realisasi diri, konsep diri, citra diri, harga diri, kesadaran diri, kontrol diri, dan evaluasi diri, baik untuk diri sendiri atau diri orang lain. Jika dalam pemahaman diri tersebut ditemukan adanya penyimpangan perilaku maka Psikologi Islam berusaha menawarkan berbagai konsep yang bernuasa ilahiyah, agar dapat mengarahkan kualitas hidup yang lebih baik, yang pada gilirannya dapat menikmati kebahagiaan hidup di segala zaman. Walhasil, mempelajari psikologi Islam dapat berimplikasi membahagiakan diri sendiri dan orang lain, bukan menambah masalah baru seperti hidup dalam keterasiangan, kegersangan, dan kegelisahan.&lt;br /&gt;Psikologi Islam sudah sepatutnya menjadi wacana sains yang objektif, bahkan boleh dikatakan telah mencapai derajat supra ilmiah. Anggapan bahwa Psikologi Islam masih bertaraf pseudo-ilmiah adalah tidak benar, sebab Psikologi Islam telah melampaui batas-batas ilmiah. Objektifitas suatu ilmu hanyalah persoalan kesepakatan, yang kreterianya bukan hanya kuantitatif melainkan juga kualitatif. Psikologi Kontemporer telah mendapatkan kesepakatan dari kalangannya sendiri. Demikian juga Psikologi Islam telah mendapatkan kesepakatan dari kalangan kaum muslimin. Jika orang lain berani mengedepankan pemikiran psikologi melalui pola pikirnya sendiri, serta mengklaim keabsahan dan objektifitasnya, lalu mengapa kita tidak berani melakukan hal yang sama, yaitu mengedepankan pemikiran Psikologi Islam berdasarkan pola pikir Islam.&lt;br /&gt;Hall dan Lindzey menyatakan bahwa tokoh besar seperti Freud, Jung dan McDougall tidak hanya berijazah dalam ilmu kedokteran, tetapi juga berpraktek sebagai ahli psikoterapi. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan psikologi bersumber dari profesi dan lingkungan praktek kedokteran dan bukan berasal dari penelitian akademik. Banyak di an¬tara metode dan teknik yang dikembangkan justru menyalahi dan memberontak terhadap masalah-masalah normatif yang sudah mapan di lingkungan akademik. Problem seperti ini bukan menjadikan psikologi kepribadan dilupakan, tetapi malah memiliki implikasi penting dalam pengembangan dis¬kursus-diskursus lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa Psikologi Kontemporer Barat pada mulanya tidak mengikuti aturan-aturan ilmiah yang berlaku di dunia akademik, tetapi setelah teori-teori mereka teruji secara empirik dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia, maka pemikiran mereka diakui sebagai disiplin yang objektif.&lt;br /&gt;Para pemerhati, analis dan peneliti disiplin psikologi akhir-kahir ini telah membukan jendela untuk ‘mengintip’ wacana yang berkembang di dalam khazanah Islam. Mereka sadar bahwa Psikologi Barat Kontemporer baru berusia dua abad, padahal upaya-upaya pengungkapan fenomena kejiwaan dalam Islam telah lama berkembang. Mereka mengetahui kedalaman materinya, lalu mereka masuk ke dalamnya dan mencoba mempopulerkannya. Hall dan Lindzey telah menulis satu bab khusus untuk ‘Psikologi Timur’. Menurutnya, salah satu sumber yang sangat kaya dari psikologi yang dirumuskan dengan baik adalah agama-agama Timur. Dalam dunia Islam, para sufi (pengamal ajaran tasawwuf) telah bertindak sebagai para psikolog terapan. Tasawwuf merupakan dimensi esoteris (batiniah) dalam Islam, yang membicarakan struktur jiwa, dinamika proses dan perkembangannya, penyakit jiwa dan terapinya, proses penempaan diri di dunia spiritual (suluk), proses penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) dan cara-cara menjaga kesehatan mental, dan sebagainya. Aspek-aspek ini dalam sains modern masuk ke dalam wilayah psikologi.&lt;br /&gt;Frank. J. Bruno, Kamus Istilah Kunci Psikologi, terj. Cecilia G. Samekto, judul asli, “Dictionary of Key in Psychology”,(Yogyakarta: Kanisius, 1989), h. 236-237Misalnya yang terjadi pada aliran Behaviorisme John Dol¬lard, Neal E. Miller, B.F. Skinner dari Psiko-operan yang tidak begitu tertarik dengan persoalan struktur kejiwaan manusia yang menetap dan relatif stabil. Mereka lebih berminat mempelajari kebia¬saan-kebiasaan yang dapat mengakibatkan respons-respons ter¬tentu yang pada gilirannya membangkitkan stimulus-stimulus yang memiliki sifat pendorong. Atau berminat pada tingkah laku yang dapat diubah. Lihat!, Calvin Hall dan Gardner Lindzey, Teori-Teori Sifat dan Psikobehavioristik, diterjmahkan oleh Yustinus, judul asli; “Theories of Personality”, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hh. 320-221,326Lihat! “Nafsiologi; Suatu Pendekatan Alternatif atas Psikologi” (1986) karya Sukanto Mulyomartono, kemudian disempurnakan bersama A. Dardiri Hasyim dengan judul “Nafsiologi; Sebuah Kajian Analitik” (1995); (2) “Nahw ‘Ilm al-Nafs al-Islâmiy” (1979) karya Hasan Muhammad al-Syarqawiy; (3) “‘Ilm al-Nafs al-Ma’âshir fi Dhaw’i al-Islâm” (1983) karya Muhammad Mahmud Mahmud; (4) “’Ilm al-Nafs al-Islamiy” (1989) karya Ma’ruf Zarif; dan (5) “al-Qur’an wa ‘Ilm al-Nafs” (1982) karya Muhammad Usman Najati.Asas-asas Psikologi Ilahiah; Sistema Mekanisme Hubungan antara Roh dan Jasad (1990)” karya H.S. Zuardin Azzaino.Maksud keunikan di sini terutama menyangkut masalah-masalah yang mendasar (kerangka filosofis) dan bukan masalah-masalah teknis-operasional. Psikologi Islam tidak akan mentolerir masalah-masalah yang fundamenatal, sebab jika hal itu diabaikan maka mengakibatkan pengkaburan antara hakekat Psikologi Islam dengan Psikologi Kontemporer Barat. Sedangkan masalah-masalah teknik-operasional, Islam tidak banyak menyinggungnya, sehingga tidak ada salahnya jika mengadopsi dari yang lain. Misalnya dalam pembagian struktur manusia, Islam tidak menerima teori Sigmund Freud yang membagi struktur jiwa manusia dengan id, ego, dan super ego. Pembagian ini menafikan alam supra sadar, sehingga kepercayaan akan Tuhan atau agama dinyatakan sebagai delusi atau ilusi. Islam mempercayai adanya struktur al-ruh yang berdimensi ilahiyah dan bersentuhan dengan alam supra sadar, sehingga orang yang beragama merupakan bentuk tertinggi dari aktualisasi diri kepribadian manusia. Demikian juga masalah mimpi. Freud dan para psikolog lainnya menyatakan bahwa mimpi hanyalah produk psikis, sedangkan dalam Islam, mimpi boleh jadi berasal dari produk psikis, dan boleh jadi dari dunia eksternal seperti dari Tuhan dan syetan. Jika seseorang tidak percaya adanya mimpi dari dunia eksternal berarti ia tidak mempercayai sebagian wahyu, sebab sebagian wahyu ada yang diterima oleh Nabi melalui mimpi. Namun jika persoalan mimpi berkaitan dengan teknik analisis untuk keperluan terapi, maka tidak ada salahnya jika hal itu diadopsi dari teori Freud atau psikolog yang lain.Penjelasan masing-masing term tersebut dapat dilihat dalam pembahasan struktur dan dinamikanya.Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Teori-Teori Psikodinamik (Klinis), terj. Yustinus, judul asli, “Theories of Personality”, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hh. 20-21Di antaranya: (1) Shafii, Freedom from the Self: Sufism, Meditation, and Psychotherapy, (1985); (2) Hoesen Nasr (ed.), Islamic Spirituality: Foundation, (1989); dan (3) Ronald Alan Nicholson, Fi al-Tashawwuf al-Islami wa Tarihihi, terj. Abu al-‘ala al-Afifi (1969). alvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis), terj. Yustinus, judul asli, “Theories of Personality”, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), h. 222&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-6887463715995950380?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/6887463715995950380/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=6887463715995950380&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/6887463715995950380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/6887463715995950380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2007/09/hakekat-psikologi-islam.html' title='HAKEKAT PSIKOLOGI ISLAM'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-5958535697473946734</id><published>2007-09-05T09:52:00.000+07:00</published><updated>2007-09-05T10:08:27.136+07:00</updated><title type='text'>KONSEP KONSELING BERDASARKAN AYAT-AYAT AL QUR’AN TENTANG HAKIKAT MANUSIA, PRIBADI SEHAT, DAN PRIBADI TIDAK SEHAT</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Oleh: Abdul Hayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABSTRAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian ini adalah untuk menemukan konsep konseling berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an, yaitu tentang hakikat manusia, pribadi sehat, dan pribadi tidak sehat. Bentuk kajian ini adalah kajian pustaka yang bersifat kualitatif. Hasil kajian ini disimpulkan: manusia pada hakikatnya adalah makhluk biologis, pribadi, sosial, dan makhluk religius. Pribadi sehat adalah pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan Allah. Pribadi tidak sehat adalah pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata kunci: Konsep konseling, hakikat manusia, pribadi sehat, pribadi tidak sehat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Dewasa ini terutama di dunia barat, teori Bimbingan dan Konseling (BK) terus berkembang dengan pesat. Perkembangan itu berawal dari berkembangnya aliran konseling psikodinamika, behaviorisme, humanisme, dan multikultural. Akhir-akhir ini tengah berkembang konseling spiritual sebagai kekuatan kelima selain keempat kekuatan terdahulu (Stanard, Singh, dan Piantar, 2000:204). Salah satu berkembangnya konseling spiritual ini adalah berkembangnya konseling religius.&lt;br /&gt;Perkembangan konseling religius ini dapat dilihat dari beberapa hasil laporan jurnal penelitian berikut. Stanard, Singh, dan Piantar (2000: 204) melaporkan bahwa telah muncul suatu era baru tentang pemahaman yang memprihatinkan tentang bagaimana untuk membuka misteri tentang penyembuhan melalui kepercayaan , keimanan, dan imajinasi selain melalui penjelasan rasional tentang sebab-sebab fisik dan akibatnya sendiri. Seiring dengan keterangan tersebut hasil penelitian Chalfant dan Heller pada tahun 1990, sebagaimana dikutip oleh Gania (1994: 396) menyatakan bahwa sekitar 40 persen orang yang mengalami kegelisahan jiwa lebih suka pergi meminta bantuan kepada agamawan. Lovinger dan Worthington (dalam Keating dan Fretz, 1990: 293) menyatakan bahwa klien yang agamis memandang negatif terhadap konselor yang bersikap sekuler, seringkali mereka menolak dan bahkan menghentikan terapi secara dini.&lt;br /&gt;Nilai-nilai agama yang dianut klien merupakan satu hal yang perlu dipertimbangkan konselor dalam memberikan layanan konseling, sebab terutama klien yang fanatik dengan ajaran agamanya mungkin sangat yakin dengan pemecahan masalah pribadinya melalui nilai-nilai ajaran agamanya. Seperti dikemukakan oleh Bishop (1992:179) bahwa nilai-nilai agama (religius values) penting untuk dipertimbangkan oleh konselor dalam proses konseling, agar proses konseling terlaksana secara efektif.&lt;br /&gt;Berkembangnya kecenderungan sebagian masyarakat dalam mengatasi permasalahan kejiwaan mereka untuk meminta bantuan kepada para agamawan itu telah terjadi di dunia barat yang sekuler, namun hal serupa menurut pengamatan penulis lebih-lebih juga terjadi di negara kita Indonesia yang masyarakatnya agamis. Hal ini antara lain dapat kita amati di masyarakat, banyak sekali orang-orang yang datang ketempat para kiai bukan untuk menanyakan masalah hukum agama, tetapi justru mengadukan permasalahan kehidupan pribadinya untuk meminta bantuan jalan keluar baik berupa nasehat, saran, meminta doa-doa dan didoakan untuk kesembuhan penyakit maupun keselamatan dan ketenangan jiwa. Walaupun data ini belum ada dukungan oleh penelitian yang akurat tentang berapa persen jumlah masyarakat yang melakukan hal ini, namun ini merupakan realitas yang terjadi di masyarakat kita sekarang ini.&lt;br /&gt;Gambaran data di atas menunjukkan pentingnya pengembangan landasan konseling yang berwawasan agama, terutama dalam rangka menghadapi klien yang kuat memegang nilai-nilai ajaran agamanya. Di dunia barat hal ini berkembang dengan apa yang disebut Konseling Pastoral (konseling berdasarkan nilai-nilai Al Kitab) di kalangan umat Kristiani.&lt;br /&gt;Ayat-ayat Al Qur’an banyak sekali yang mengandung nilai konseling, namun hal itu belum terungkap dan tersaji secara konseptual dan sistematis. Oleh karena itu kajian ini berusaha mengungkan ayat-ayat tersebut khususnya tentang hakikat manusia, pribadi sehat, dan pribadi tidak sehat, dan menyajikannya secara konseptual dan sistematis.&lt;br /&gt;Allah mengisyaratkan untuk memberikan kemudahan bagi orang yang mau mempelajari ayat-ayat Al Qur’an. Firman Allah Swt. yang artinya&lt;br /&gt;Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ? (Q.S. Al-Qamar: 40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat Al Qur’an itu mudah dipelajari, memahaminya tidak memerlukan penafsiran yang rumit, serta kandungannya bisa dikaitkan kepada hal-hal yang aktual, karena ayat-ayat Al Qur’an memang memuat fakta-fakta hukum yang bersifat emperik, sekaligus memuat nilai-nilai yang bersifat filosofis, sehingga isinya mudah diungkap dan bisa dikaitkan ke berbagai aspek realitas kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. METODE&lt;br /&gt;1. Bentuk dan Sifat Penelitian&lt;br /&gt;Bentuk penelitian ini adalah berupa kajian pustaka (library research). Kajian pustaka berusaha mengungkapkan konsep-konsep baru dengan cara membaca dan mencatat informasi-informasi yang relevan dengan kebutuhan. Bahan bacaan mencakup buku-buku teks, jurnal atau majalah-majalah ilmiah dan hasil-hasil penelitian (Pidarta, 1999: 3-4).&lt;br /&gt;Penelitian ini bersifat kualitatif karena uraian datanya bersifat deskriptif, menekankan proses, menganalisa data secara induktif, dan rancangan bersifat sementara (Bogdan &amp; Biklen, 1990: 28-29).&lt;br /&gt;2. Pendekatan dan Tahap-Tahap Penelitian&lt;br /&gt;Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi (content analysis) yang bersifat penafsiran (hermeneutik). Analisis isi merupakan metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah buku atau dokumen (Moleong, 2001:163). Adapun hermeneutik berarti penafsiran atau menafsirkan, yaitu proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Disiplin ilmu pertama yang banyak menggunakan hermeneutik adalah ilmu tafsir kitab suci, seperti Al Qur’an, kitab Taurat, kitab-kitab Veda dan Upanishad (Sumaryono, 1999: 24-28). Jadi, analisis dalam penelitian ini adalah menganalisis data ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung relevan dengan konsep konseling, agar dapat diketahui dan dimengerti kandungan konselingnya secara jelas.&lt;br /&gt;Adapun langkah-langkah dalam kajian ini adalahsenagai berikut:&lt;br /&gt;Pertama. Menemukan konsep konseling tentang hakikat manusia, pribadi sehat dan pribadi tidak sehat dari teori-teori pendekatan konseling. Konsep tersebut ditelaah dari teori-teori pendekatan konseling yang paling banyak digunakan dalam dunia pendidikan yaitu; psikoanalitik, terapi Adlerian, terapi eksistensial, terapi terpusat pada pribadi, terapi gestalt, analisis transaksional, terapi perilaku, terapi rasional emotif, dan, terapi realita.&lt;br /&gt;Kedua. Mencari dan mengumpulkan data ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung nilai-nilai konseling. Mencari dan mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung nilai-nilai konseling dengan berpijak pada sifat dan kriteria konsep pokok konseling yang pada langkah pertama.&lt;br /&gt;Ketiga. Menetapkan ayat-ayat Al Qur’an yang relevan dengan konsep pokok konseling, menafsirkan, dan menguraikannya secara konseptual dan sistematis.&lt;br /&gt;Keempat. Melakukan sintesis kandungan ayat-ayat Al Qur’an dengan konsep konseling, yaitu dengan mengungkap, menghubungkan dan menggabungkan secara kandungan ayat-ayat Al Qur’an yang telah ditetapkan dengan konsep pokok konseling sehingga terlihat dengan jelas relevansinya.&lt;br /&gt;Kelima. Membuat ketetapan akhir dengan menyimpulkan bagaimana konsep konseling berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an secara konseptual dan sistematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. HASIL KAJIAN&lt;br /&gt;1. Hakikat Manusia&lt;br /&gt;Menurut konsep konseling, manusia itu pada hakikatnya adalah sebagai makhluk biologis, makhluk pribadi, dan makhluk sosial. Ayat-ayat Al Qur’an menerangkan ketiga komponen tersebut. Di samping itu Al Qur’an juga menerangkan bahwa manusia itu merupakan makhluk religius dan ini meliputi ketiga komponen lainnya, artinya manusia sebagai makhluk biologis, pribadi, dan sosial tidak terlepas dari nilai-nilai manusia sebagai makhluk religius.&lt;br /&gt;Menurut konsep konseling, manusia sebagai makhluk biologis memiliki potensi dasar yang menentukan kepribadian manusia berupa insting. Manusia hidup pada dasarnya memenuhi tuntutan dan kebutuhan insting. Menurut keterangan ayat-ayat Al Qur’an potensi manusia yang relevan dengan insting ini disebut nafsu.&lt;br /&gt;Menurut kandungan ayat-ayat Al Qur’an manusia itu pada hakikatnya adalah makhluk yang utuh dan sempurna, yaitu sebagai makhuk biologis, pribadi, sosial, dan makhluk religius. Manusia sebagai makhluk religius meliputi ketiga komponen lainnya, yaitu manusia sebagai makhluk biologis, pribadi dan sosial selalu terikat dengan nilai-nilai religius.&lt;br /&gt;a. Sebagai Makhluk Biologis&lt;br /&gt;Menurut konsep konseling, manusia sebagai makhluk biologis memiliki potensi dasar yang menentukan kepribadian manusia berupa insting. Manusia hidup pada dasarnya memenuhi tuntutan dan kebutuhan insting. Menurut keterangan ayat-ayat Al Qur’an potensi manusia yang relevan dengan insting ini disebut nafsu.&lt;br /&gt;Potensi nafsu ini berupa al hawa dan as-syahwat. Syahwat adalah dorongan seksual, kepuasan-kepuasan yang bersifat materi duniawi yang menuntut untuk selalu dipenuhi dengan cepat dan memaksakan diri serta cenderung melampau batas (Ali-Imran: 14, Al-A’raf: 80, dan An-Naml:55.). Al Hawa adalah dorongan-dorongan tidak rasional, sangat mengagungkan kemampuan dan kepandaian diri sendiri, cenderung membenarkan segala cara, tidak adil yang terpengaruh oleh kehendak sendiri, rasa marah atau kasihan, hiba atau sedih, dendam atau benci yang berupa emosi atau sentimen. Dengan demikian orang yang selalu mengikuti al-hawa ini menyebabkan dia tersesat dari jalan Allah (An-Nisa:135, Shad: 26 dan An-Nazi’at: 40-41).&lt;br /&gt;Ada tiga jenis nafsu yang paling pokok, yaitu: (1) nafsu amarah , yaitu nafsu yang selalu mendorong untuk melakukan kesesatan dan kejahatan (Yusuf:53), (2) nafsu lawwaamah, yaitu nafsu yang menyesal . Ketika manusia telah mengikuti dorongan nafsu amarah dengan perbuatan nyata, sesudahnya sangat memungkinkan manusia itu menyadari kekeliruannya dan membuat nafsu itu menyesal (Al Qiyamah:1-2), dan (3) nafsu muthmainnah, yaitu nafsu yang terkendali oleh akal dan kalbu sehingga dirahmati oleh Allah swt.. Ia akan mendorong kepada ketakwaan dalam arti mendorong kepada hal-hal yang positif (Al-Fajr: 27-30).&lt;br /&gt;b. Sebagai Makhluk Pribadi&lt;br /&gt;Menurut konsep konseling seperti yang dikemukakan dalam Terapi Terpusat pada Pribadi, Terapi Eksistensial, Terapi Gestalt, Rasional Emotif Terapi, dan Terapi Realita. Manusia sebagai makhluk pribadi memiliki ciri-ciri kepribadian pokok sebagai berikut: (1) memiliki potensi akal untuk berpikir rasional dan mampu menjadi hidup sehat, kreatif, produktif dan efektif, tetapi juga ada kecendrungan dorongan berpikir tidak rasional (2) memiliki kesadaran diri, (3) memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan dan bertanggung jawab, (4) merasakan kecemasan sebagai bagian dari kondisi hidup, (5) memiliki kesadaran akan kematian dan ketiadaan, (6) selalu terlibat dalam proses aktualisasi diri.&lt;br /&gt;Berdasarkan keterangan ayat-ayat Al Qur’an, manusia mempunyai potensi akal untuk berpikir secara rasional dalam mengarahkan hidupnya ke arah maju dan berkembang (Al-Baqarah: 164, Al-Hadid:17, dan Al-Baqarah: 242), memiliki kesadaran diri (as-syu’ru) (Al-Baqarah:9 dan 12 ), memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan (Fushilat: 40, Al-Kahfi: 29, dan Al-Baqarah: 256 ) serta tanggung jawab (Al-Muddatsir: 38, Al-Isra: 36, Al-Takatsur: 8 ). Sekalipun demikian, manusia juga memiliki kondisi kecemasan dalam hidupnya sebagai ujian dari Allah yang disebut al khauf (Al-Baqarah: 155), memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikan fitrahnya kepada pribadi takwa (Ar-Ruum: 30, Al-A’raf: 172-174, Al-An’am:74-79, Ali-Imran: 185, An-Nahl: 61, dan An-Nisa: 78).&lt;br /&gt;c. Sebagai Makhluk Sosial&lt;br /&gt;Menurut konsep konseling, seperti yang diungkapkan dalam Terapi Adler, Terapi Behavioral, dan Terapi Transaksional, manusia sebagai memiliki sifat dan ciri-ciri pokok sebagai berikut: (1) manusia merupakan agen positif yang tergantung pada pengaruh lingkungan, tetapi juga sekaligus sebagai produser terhadap lingkungannya, (2) prilaku sangat dipengaruhi oleh kehidupan masa kanak-kanak, yaitu pengaruh orang tua (orang lain yang signifikan), (3) keputusan awal dapat dirubah atau ditinjau kembali, (4) selalu terlibat menjalin hubungan dengan orang lain dengan cinta kasih dan kekeluargaan.&lt;br /&gt;Sebagai makhluk sosial, Al Qur’an menerangkan bahwa sekalipun manusia memilikipotensi fitrah yang selalu menuntut kepada aktualisasi iman dan takwa, namun manusia tidak terbebas dari pengaruh lingkungan atau merupakan agen positif yang tergantung pada pengaruh lingkungan terutama pada usia anak-anak. Oleh karena kehidupan masa anak-anak ini sangat mudah dipengaruhi, maka tanggung jawab orang tua sangat ditekankan untuk membentuk kepribadian anak secara baik (At-Tahrim: 6) Namun demikian, setelah manusia dewasa (mukallaf), yakni ketika akal dan kalbu sudah mampu berfungsi secara penuh, maka manusia mampu mengubah berbagai pengaruh masa anak yang menjadi kepribadiannya (keputusan awal) yang dipandang tidak lagi cocok (Ar-Ra’du: 85 dan Al-Hasyr:18), bahkan manusia mampu mempengaruhi lingkungannya (produser bagi lingkungannya) (Al-Ankabut: 7, Al-A’raf: 179, Ali-Imran: 104, Al-Ashr:3, dan At-Taubah:122). Sebagai makhluk sosial ini pula manusia merupakan bagian dari masyarakat yang selalu membutuhkan keterlibatan menjalin hubungan dengan sesamanya, hal ini disebut dengan silaturrahmi (Al-Hujurat:13, Ar-Ra’du: 21, dan An Nisa: 1).&lt;br /&gt;d. Sebagai Makhluk Religius&lt;br /&gt;Konsep konseling tidak ada menerangkan manusia sebagai makhluk religius. Sebagai makhluk religius manusia lahir sudah membawa fitrah, yaitu potensi nilai-nilai keimanan dan nilai-nilai kebenaran hakiki. Fitrah ini berkedudukan di kalbu, sehingga dengan fitrah ini manusia secara rohani akan selalu menuntut aktualisasi diri kepada iman dan takwa dimanapun manusia berada (Ar-Ruum: 30 dan Al-A’raf:172-174). Namun tidak ada yang bisa teraktualisasikan dengan baik dan ada pula yang tidak, dalam hal ini faktor lingkungan pada usia anak sangat menentukan. Manusia sebagai makhluk religius berkedudukan sebagai abidullah dan sebagai khalifatullah di muka bumi.&lt;br /&gt;Abidullah merupakan pribadi yang mengabdi dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Allah(Adz-Dzariyat: 56). Hal ini disebut ibadah mahdhah. Khalifatullah merupakan tugas manusia untuk mengolah dan memakmurkan alam ini sesuai dengan kemampuannya untuk kesejahteraan umat manusia, serta menjadi rahmat bagi orang lain atau yang disebut rahmatan lil’alamin (Al-Baqarah: 30).&lt;br /&gt;2. Pribadi Sehat&lt;br /&gt;Berdasarkan konsep konseling bahwa pribadi sehat adalah pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sosial. Al Qur’an di samping menerangkan pribadi yang sehat adalah pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sosial, juga menerangkan pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan Allah Swt.&lt;br /&gt;a. Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Diri Sendiri&lt;br /&gt;Menurut konsep konseling, seperti dikemukakan dalam Psikoanalisis, Eksistensial, Terapi Terpusat pada Pribadi dan Rasional Emotif Terapi.. Pribadi yang mampu megngatur diri dalam hubungannya terhadap diri sendiri memiliki ciri-ciri kepribadian pokok: (1) ego berfungsi penuh, serta serasinya fungsi id, ego dan superego, (2) bebas dari kecemasan, (3) keterbukaan terhadap pengalaman, (4) percaya diri, (5) sumber evaluasi internal, (6) kongruensi, (7) menerima pengalaman dengan bertanggung jawab, (8) kesadaran yang meningkat untuk tumbuh secara berlanjut, (9) tidak terbelenggu oleh ide tidak rasional (tuntutan kemutlakan), dan (10) menerima diri sendiri.&lt;br /&gt;Berdasarkan keterangan ayat-ayat Al Qur’an, pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri yang relevan dengan kriteria pokok di atas adalah pribadi yang akal dan kalbunya berfungsi secara penuh dalam mengendalikan dorongan nafsu (Al-Qashas: 60, Yasin: 62). Mampu membebaskan diri dari khauf (kecemasan) (Al Baqarah: 38, Al Baqarah: 62, 277, Al-An’am: 48 dan Ar-Ra’du: 28). Apabila manusia dapat mengatasi atau terbebas dari kecemasan ini akan melahirkan kepribadian yang sehat seperti pribadinya para aulia Allah (Yunus: 62). Keterbukaan terhadap pengalaman (Az-Zumar:17-18, Ali-Imran:193). Percaya diri, sikap percaya diri ini ada pada orang yang istiqamah (konsisten) dalam keimanan, mereka ini tidak ada rasa cemas, rasa sedih (Fushilat: 30, Al-Ahqaf: 13, Ali-Imran: 139). Mampu menjadikan hati nurani yang dilandasi iman sebagai kontrol diri dalam setiap gerak dan kerja (sumber evaluasi internal), sikap ini tercermin dalam kepribadian ihsan yaitu pola hidup yang disertai kesadaran yang mendalam bahwa Allah itu hadir bersamanya (Ali-Imran: 29, Ar-Ra’du:11, Qaaf:16-18).&lt;br /&gt;Di samping itu, juga merupakan pribadi yang sehat adalah pribadi yang memiliki kepribadian shidiq, yaitu sifat kongruensi serasi antara apa yang ada di dalam hati dengan perbuatan, memegang teguh kepercayaan, serasi antara sikap dan perilaku (Al-Ahzab: 23-24), mau menerima pengalaman dan bertanggung jawab, salah satu bentuk penerimaan terhadap pengalaman dengan bertanggung jawab adalah berusaha memperbaiki dan tidak mengulangi apabila melakukan kesalahan (An-Nisa: 110, Ali-Imran:135), serta adanya kesediaan untuk tumbuh secara berlanjut, yaitu sealalu berusaha mengubah diri sendiri ke arah yang lebih baik dan bersegera melakukannya (Ar-Ra’du: 11, Al-Anfal: 53, Ali-Imran:114, dan Fathir: 32), memiliki sikap tawakkal dan menyandarkan usaha dan harapan kepada Allah dengan kata insya Allah, dengan kata lain tidak terbelenggu oleh ide tidak rasional (tuntutan kemutlakan) (Al-Imran: 140, Al-Insyirah: 5-8, Al-Kahfi:23-24, Ali-Imran:159, dan Al-Anfal: 61,49), serta mampu bersyukur atas apa yang ada dan terjadi pada diri sendiri atau menerima diri sendiri. (An-Nahl: 78, Ibrahim:7, dan An-Naml: 40).&lt;br /&gt;b. Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Orang Lain&lt;br /&gt;Menurut konsep konseling seperti dikemukakan dalam Terapi Adler, Behavioral, Transaksional, dan Terapi Realita, bahwa pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya terhadap orang lain memiliki ciri-ciri kepribadian pokok: (1) mau berkarya dan menyumbang, serta mau memberi dan menerima, (2) memandang baik diri sendiri dan orang lain (I ‘m Ok you are Ok ), (3) signifikan dan berharga bagi orang lain, dan (4) memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus mengganggu atau mengorbankan orang lain.&lt;br /&gt;Berdasarkan keterangan ayat-ayat Al Qur’an, pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan orang lain yang relevan dengan kriteria pkk di atas adalah pribadi yang mau melakukan amal saleh, yaitu perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya dan juga orang lain (An-Nisa: 124, Al-Ashr: 1-3, At-Tin:5-6). Disamping amal saleh, adalah bersikap ta’awwun, yaitu saling memberi dan menerima atau tolong menolong atau sikap mau memberi dan menerima (An-Nisa: 86), sikap ini atas dasar kebajikan dan ketakwaan, bukan dalam hal kejahatan dan kemunkaran (Al-Ma’idah:2), berpikiran positif (husnus zhan) baik terhadap diri sendiri dan orang lain (Al-Hujurat: 11, Al-Baqarah: 237, Ali-Imran:134, dan At-Taghabun:14).&lt;br /&gt;Di samping hal-hal di atas dia juga mau mengerjakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, selalu berbuat adil kepada siapapun dalam arti signifikan dan berharga bagi orang lain (Ali-Imran:104, At-Tahrim:6, dan Al-Midah: 8), dan memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus mengganggu atau mengorbankan orang lain, baik dalam bermuamalah maupun beribadah secara langsung maupun tidak langsung (Al-Baqarah: 275, An-Nisa: 29). Hal ini banyak sekali dicontohkan dalam hadits Nabi, misalnya Nabi melarang orang duduk-duduk dipinggir jalan yang membuat orang yang mau lewat merasa terganggu, begitu juga menghormati lawan bicara dengan memperhatikan dia bicara, juga menghormati hak-hak tetangga dari kemungkinan perbuatan kita yang mengganggunya, dan Nabi memendekkan bacaan ayat Al Qur’an dalam shalat berjemaah ketika mendengan salah satu anggota jemaahnya ada anaknya yang menangis.&lt;br /&gt;c. Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Lingkungan&lt;br /&gt;Menurut konsep konseling seperti yang dikemukakan dalam teorinya Adler dan Behavioral. Pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan lingkungan adalah pribadi yang mampu berinteraksi dengan lingkungannya dan dapat menciptakan atau mengolah lingkungannya secara baik.&lt;br /&gt;Al Qur’an menerangkan, bahwa Allah menciptakan semua yang ada di bumi ini adalah untuk kepentingan manusia (Al-Baqarah: 29). Berbagai kerusakan di alam ini adalah akibat dari perbuatan manusia sendiri (Ar-Rum: 41). Untuk itu pribadi yang sehat adalah pribadi yang peduli terhadap lingkungannya, ia berusaha mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di lingkungannya (Ali-Imran: 137).&lt;br /&gt;d. Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Allah Swt.&lt;br /&gt;Konsep konseling tidak ada menerangkan hal ini. Al Qur’an merangkan bahwa pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan Allah Swt. antara lain adalah pribadi yang selalu meningkatkan keimanannya yang dibuktikan dengan melaksanakan ibadah dengan benar dan ikhlas, menjalankan muamalah dengan benar dan dengan niat yang ikhlas (Az-Zumar: 2 dan 11 hal.151 dan Al-Bayyinah: 5, At-Taubah: 105). Di samping itu juga pribadi yang mampu menjalankan secara seimbang diri sebagai abidullah yang selalu beribadah sesuai tuntunan-Nya, juga menjalankan fungsi dan kedudukannya sebagai khalifatullah dengan baik (hablun minallah dan hablun minannas) sehingga dari segi kehidupan dunianya sejahtera, amal akhiratnya berjalan dengan baik (Al-Qashash: 77, Al-Baqarah: 201).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pribadi Tidak Sehat&lt;br /&gt;Berdasarkan konsep konseling, pribadi tidak sehat adalah pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Ayat-ayat Al Qur’an di samping menerangkan tentang pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan, juga menerangkan pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan Allah Swt.&lt;br /&gt;a. Tidak Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Diri Sendiri&lt;br /&gt;Menurut konsep konseling seperti yang dikemukakan dalam pendekatan Psikoanalisis, Eksistensial, Terapi Terpusat pada Pribadi dan Rasional Emotif Terapi, bahwa pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri memiliki ciri kepribadian pokok: (1) ego tidak berfungsi penuh serta tidak serasinya antara id, ego, dan superego, (2) dikuasai kecemasan, (3) tertutup (tidak terbuka terhadap pengalaman), (4) rendah diri dan putus asa, (5) sumber evaluasi eksternal, (6) inkongruen, (7) tidak mengakui pengalaman dengan tidak bertanggung jawab, (8) kurangnya kesadaran diri, (9) terbelenggu ide tidak rasional, (10) menolak diri sendiri.&lt;br /&gt;Al Qur’an menerangkan pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri adalah pribadi yang akal dan kalbunya tidak berfungsi dengan baik dalam mengendalikan nafsu, sehingga nafsu berbuat sekehendaknya, penuh emosi, tidak terkendali dan tidak bermoral (Yunus: 100, Al-Anfal: 22, Al-Haj:46, Al-A’raf: 179, Maryam: 59, An-Nisa: 27, dan Al-Jatsiah: 23). Di samping itu, pribadi yang tidak mampu membebaskan diri dari kecemasan (al khauf), sedang kecemasan itu sendiri terlahir dari kekufuran, kemusyrikan, atau perbuatan dosa baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia (Ali-Imran:151). Pribadi yang ta’ashub, yaitu tidak terbuka terhadap pengalaman terutama sesuatu yang datang dari orang yang bukan golongan dan alirannya, walaupun pengalaman baru itu merupakan kebenaran (Al-Maidah: 104, Lukman: 21 dan 7, Yunus 78).&lt;br /&gt;Di samping itu, juga pribadi yang tidak mengakui pengalaman dengan tidak bertanggung jawab, yaitu suka melemparkan kesalahannya kepada orang lain, atau tidak mengakuinya (Al-A’raf: 8, dan An-Nisa:112)., dan yang lebih parah lagi adalah berkepribadian munafik (inkongruen), yaitu ketidakserasian antara apa yang di dalam hati dengan yang dilahirkan, antara perkataan dan perbuatan, dan antara perbuatan di satu tempat dengan tempat yang lain dengan maksud mencari keuntungan pribadi dalam konseling disebut dengan inkongruensi (As-Shaf: 2-3, Al-Baqarah:44, 8, An-Nisa: 145). Juga sifat riya yaitu pribadi yang mengevaluiasi dirinya berdasarkan evaluasi eksternal (Al-Baqarah: 264, An-Nisa: 142, Al-Ma’un: 4-6, dan Al-Anfal: 47), kurangnya kesadaran diri dan tidak konstruktif (Al-Baqarah: 9 dan 12, An-Naml:27), juga orang yang tidak pandai bertawakkal (terbelenggu ide tidak rasional atau tuntutan kemutlakan) (Fushilat: 49, Luqman: 34), rendah diri dan putus asa (ya’uus/qunuut) (Al-hujurat: 1, Al-Isra: 83, Huud: 9, dan Al-Hijr: 56). Kemudian, pribadi yang tidak pandai bersyukur terhadap nikmat Allah atau menolak terhadap diri sendiri (Shaad: 27 dan Ali-Imran:191, Ar-Ruum: 44 hal. 177 dan Ibrahim: 7).&lt;br /&gt;b. Tidak Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Orang Lain&lt;br /&gt;Menurut konsep konseling seperti yang dikemukakan dalam Terapi Adler, Terapi Behavioral, Transaksional, dan Terapi realita, bahwa pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan orang lain memiliki ciri-ciri kepribadian pokok: (1) egois dan tidak mau menyumbang dan lebih suka menerima, (2) memandang diri sendiri benar sedang orang lain tidak (jelek), (3) tidak konstruktif, dan (4) memenuhi kebutuhan sendiri dengan tidak peduli (merampas) hak orang lain.&lt;br /&gt;Al Qur’an menerangkan, pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan orang lain adalah pribadi yang bakhil dalam arti egois dan tidak mau menyumbang atau membelanjakan hartanya di jalan kebajikan (Al-Lail: 8-10, Ali-Imran:175, dan Muhammad: 38), tidak mau saling menolong (ta’awun) atau lebih suka menerima daripada memberi (Al-Ma’arij:19-21), memiliki sifat marhun dan takabbur yaitu sifat sombong dan merasa diri lebih besar dan berharga daripada orang lain (Al-Isra: 37, Luqman:18 hal.180-181), orang yang memiliki sifat ini akan mudah melakukan hal-hal yang negatif terhadap orang lain, seperti su’us zhan (berpikir negatif), tajassus yaitu suka mencari-cari kesalahan orang lain, sedang kesalahan sendiri tidak diperhatikan, ghibah yaitu menggunjing sesama dan sebagainya (lihat Q.S. Al-Hujurat:12).&lt;br /&gt;Di samping itu, juga pribadi yang senang melihat orang lain susah, enggan melakukan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menyuruh berbuat baik dan mencegah kejahatan dengan kata lain adalah pribadi yang tidak konstruktif (An-Nur:19, Al-Baqarah: 11, dan As-Syu’ara: 152-152), pribadi yang dalam memenuhi kebutuhannya sendiri dengan tidak menghargai atau mengorbankan hak orang lain, seperti berbisnis dengan riba, memperoleh harta dengan jalan batil, yaitu curang, menipu, mengurangi takaran dan timbangano dalan berjual beli, menunda-nunda pembayaran upah buruh, dan sebagainya (Ali-Imran: 130, Al-Baqarah: 278, An-Nisa:161, Al-Baqarah: 188, dan An-Nisa: 29).&lt;br /&gt;c. Tidak Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Lingkungan&lt;br /&gt;Menurut konsep konseling seperti dikemukakan dalam Terapi Adeler dan Terapi Behavioral, bahwa pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan lingkungan adalah pribadi yang tidak mampu berinteraksi dan mengelola lingkungannya secara baik, sehingga bisa melakukan hal-hal yang membuat lingkungan menjadi rusak.&lt;br /&gt;Senada dengan konsep konseling di atas, Al Qur’an menerangkan bahwa pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan lingkungan adalah pribadi yang tidak mampu berinteraksi denganlingkungannya secara baik, sehingga ia tidak peduli dengan kerusakan lingkungan, atau ikut berbuat sesuatu yang bisa merusak lingkungannya, sekaligus tidak mampu membuat lingkungannya menjadi kondusif bagi kehidupan Al Qur’an mengungkapkan bahwa terjadinya kerusakan di bumi ini adalah karena perbuatan manusia (Ar-Ruum: 41, Al-Baqarah: 204-205 dan Al-Qashash: 77).&lt;br /&gt;d. Tidak Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Allah Swt.&lt;br /&gt;Konsep konseling tidak ada menerangkan hal ini. Menurut Al Qur’an, pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan Allah antara lain adalah pribadi yang kufur dan syirik. Pribadi kufur adalaho pribadi yang tidak beriman dan enggan menjalankan syari’at Allah (hukum-hukum Allah), termasuk juga sebagai kufur orang yang dengan sengaja tidak mau menjalankan ibadah kepada Allah Swt., dan tidak menerima dengan syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah (kufur nikmat). Dalam melakukan muamalah orang yang memiliki kepribadian kufur cenderung berlaku zhalim, mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan hak orang lain(Al Baqarah: 6, Maryam: 59, At-Taubah: 35, An Nisa: 168). Di samping kekufuran, kesalahan yang sangat fatal terhadap Allah Swt. adalah syirik, yaitu “menyekutukan Tuhan”. Orang yang kena penyakit syirik ini meyakini bahwa Allah Swt adalah Tuhannya, namun amal perbuatannya diorientasikan bukan untuk Allah, melainkan untuk sesuatu yang lain, seperti kepada roh halus, atau semata-mata untuk manusia, baik dalam melakukan ibadah maupun dalam bermuamalah (An Nisa: 48, 36, dan Al Kahfi: 110).&lt;br /&gt;Kemudian, pribadi yang tidak mampu memungsikan diri secara seimbang antara diri sebagai abidullah dan sebagai khalifah, baik hanya mengutamakan urusan keduniaan dan ibadah tertinggalkan, atau lebih mengutamakan ibadah dan urusan keduniaan tertinggalkan (Ali-Imran: 112).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;1. Hakikat Manusia&lt;br /&gt;a. Sebagai Makhluk Biologis&lt;br /&gt;Menurut keterangan ayat-ayat Al Qur’an, manusia mempunyai potensi nafsu, yaitu al hawa dan as-syahwat. Syahwat adalah dorongan seksual, kepuasan-kepuasan yang bersifat materi duniawi yang menuntut untuk selalu dipenuhi dengan cepat dan memaksakan diri serta cenderung melampaui batas. Al Hawa adalah dorongan yang tidak rasional, cenderung membenarkan segala cara, tidak adil yang terpengaruh oleh kehendak sendiri, rasa marah atau kasihan, hiba atau sedih, dendam atau benci yang berupa emosi atau sentimen. Ada tiga jenis nafsu yang paling pokok, yaitu: nafsu amarah , yaitu nafsu yang selalu mendorong untuk melakukan kesesatan dan kejahatan, nafsu lawwaamah, yaitu nafsu yang menyesal, dan nafsu muthmainnah, yaitu nafsu yang terkendali ia akan mendorong kepada ketakwaan dalam arti mendorong kepada hal-hal yang positif.&lt;br /&gt;Keterangan ini relevan dengan konsep konseling sebagaimana dikemukakan oleh Freud dalam Psikoanalisisnya bahwa manusia memiliki potensi dasar isnting yang dalam pembentukan kepribadian berkedudukan dalam id, yaitu sumber utama energi psikis berupa dorongan seksual (libido), dorongan hidup (eros) dandorongan agresip merusak diri (thanatos), dorongan ini tidak rasional,tidak bermoral, memaksakan kehendak yang berada di luar kesadaran manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sebagai Makhluk Pribadi&lt;br /&gt;Al Qur’an menerangkan bahwa manusia mempunyai potensi akal untuk berpikir secara rasional dalam mengarahkan hidupnya ke arah maju dan berkembang, memiliki kesadaran diri (as-syu’ru), memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan serta tanggung jawab. Sekalipun demikian, manusia juga memiliki kondisi kecemasan dalam hidupnya sebagai ujian dari Allah yang disebut al khauf, memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikan fitrahnya kepada pribadi takwa, memiliki kesadaran (as syu’ru) begitu juga tentang kematian ia akan datang kapan saja dan dimana saja dan tidak diketahui sebelumnya, sebab kematian adalah merupakan urusan Allah semata.&lt;br /&gt;Keterangan tersebut relevan dengan konsep konseling, yaitu manusia ada bersama orang lain oleh karena itu manusia harus memiliki kepribadian yang eksis. Pribadi yang eksis itu menurut konsep konseling adalah pribadi yang memiliki potensi kemampuan berpikir rasional, memiliki kesadaran diri, memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan, bertanggung jawab atas arah pilihan yang ditentukan sendiri, merasakan kecemasan sebagai bagian dari kondisi hidup, memiliki kesadaran akan kematian dan ketiadaan, dan selalu terlibat dalam proses aktualisasi diri&lt;br /&gt;c. Sebagai Makhluk Sosial&lt;br /&gt;Manusia memiliki fitrah yang selalu menuntut kepada aktualisasi iman dan takwa, namun manusia tidak terbebas dari pengaruh lingkungan terutama pada usia anak-anak. Namun demikian, setelah manusia dewasa (mukallaf), yakni ketika akal dan kalbu sudah mampu berfungsi secara penuh, maka manusia mampu mengubah berbagai pengaruh masa anak yang menjadi kepribadiannya (keputusan awal) yang dipandang tidak lagi cocok, bahkan manusia mampu mempengaruhi lingkungannya (produser bagi lingkungannya). Manusia membutuhkan keterlibatan menjalin hubungan dengan sesamanya, hal ini disebut dengan silaturrahmi, memiliki hati nurani (kalbu), dan mampu melakukan amal shalih.&lt;br /&gt;Keterangan di atas relevan dengan konsep konseling yang mengungkapkan bahwa manusia ada merupakan bagian dari masyarakat dan dunia sosial, sehingga kita tidak berarti tanpa adanya orang lain. Manusia sebagai makhluk sosial, ia merupakan agen positif yang tergantung pada pengaruh lingkungan, tetapi juga sekaligus sebagai produser terhadap lingkungannya, prilaku sangat dipengaruhi oleh kehidupan masa kanak-kanak, yaitu pengaruh orang tua (orang lain yang signifikan), keputusan dapat ditinjau kembali apabila keputusan yang telah diambil terdahulu tidak lagi cocok, ia selalu menjalin hubungan dengan orang lain dengan cinta kasih dan kekeluargaan, membuat dan menyumbang, menerima diri sendiri dengan apa adanya, dan memiliki komponen superego, yaitu kode moral dan nilai ideal yang mampu membedakan baik dan buruk, benar dan salah.&lt;br /&gt;d. Sebagai Makhluk Religius&lt;br /&gt;Manusia lahir sudah membawa fitrah, yaitu potensi nilai-nilai keimanan dan kebenaran hakiki. Fitrah ini berkedudukan di kalbu, sehingga dengan fitrah ini manusia secara rohani akan selalu menuntut aktualisasi diri kepada iman dan takwa dimanapun manusia berada. Namun ada yang bisa teraktualisasikan dengan baik dan ada pula yang tidak, dalam hal ini faktor lingkungan pada usia anak sangat menentukan. Manusia sebagai makhluk religius berkedudukan sebagai abidullah dan sebagai khalifatullah di muka bumi.&lt;br /&gt;Abidullah merupakan pribadi yang mengabdi dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Allah. Khalifatullah merupakan tugas manusia untuk mengolah dan memakmurkan alam ini sesuai dengan kemampuannya untuk kesejahteraan umat manusia, serta menjadi rahmat bagi orang lain atau yang disebut rahmatan lil’alamin.&lt;br /&gt;Konsep ini tidak diterangkan dalam konsep konseling.&lt;br /&gt;2. Pribadi Sehat&lt;br /&gt;Pribadi sehat adalah pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan Allah Swt.&lt;br /&gt;a. Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Diri Sendiri&lt;br /&gt;Menurut keterangan Al Qur’an pribadi sehat dalam hubungannya dengan diri sendiri adalah pribadi yang akal dan kalbunya berfungsi secara penuh dalam mengendalikan dorongan nafsu, mampu membebaskan diri dari khauf (kecemasan), memiliki kebebasan dan bertanggung jawab, berbuat atas pertimbangan sendiri serta siap bertanggung jawab baik terhadap sesama manusia maupun kepada Allah Swt.. Dismping itu juga pribadi yang memiliki kepribadian shidiq dan amanah, mampu menjadikan hati nurani yang dilandasi iman sebagai kontrol diri dalam setiap gerak dan kerja (ihsan), serta sealalu berusaha mengubah diri sendiri ke arah yang lebih baik dan bersegera melakukannya, memiliki sikap tawakkal, serta mampu bersyukur atas apa yang ada dan terjadi pada diri sendiri atau menerima diri sendiri (qana’ah).&lt;br /&gt;Keterangan ini relevan dengan konsep konseling yang menegaskan bahwa pribadi sehat itu memiliki ciri-ciri pokok: ego berfungsi penuh, serta sesuainya antara id, ego dan superego, bebas dari kecemasan, keterbukaan terhadap pengalaman, memiliki kebebasan dan tanggungjawab, kongruensi, sumber evaluasi internal, kesadaran yang meningkat untuk tumbuh secara berlanjut, serta tidak terbelenggu oleh ide tidak rasional (tuntutan kemutlakan), menerima diri sendiri dan percaya diri.&lt;br /&gt;b. Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Orang Lain&lt;br /&gt;Pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan orang lain adalah pribadi yang mau melakukan amal saleh, bersikap ta’awwun, yaitu saling memberi dan menerima atau tolong menolong, menerima pengalaman dan bertanggung jawab sekalipun pengalaman itu buruk dan menyakitkan, berpikiran positif (husnus zhan). Di samping itu dia juga mau mengerjakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, selalu berbuat adil kepada siapapun, dan memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus mengganggu atau mengorbankan orang lain, baik dalam bermuamalah maupun beribadah secara langsung maupun tidak langsung.&lt;br /&gt;Keterangan ini relevan dengan Berdasarkan keempat teori ini, pribadi yang benar terhadap orang lain adalah pribadi yang mau menyumbang, memberi dan menerima, menerima pengalaman dan bertanggungjawab, memandang baik diri sendiri dan orang lain (I ‘m ok your are ok), signifikan dan berharga bagi orang lain, dan memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus mengganggu atau mengorbankan orang lain.&lt;br /&gt;c. Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Lingkungan&lt;br /&gt;Pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan lingkungan adalah pribadi yang peduli, menjaga dan memelihara kelestarian lingkungannya, dan pribadi yang mampu memproduk lingkungan menjadi kondosip bagi kehidupan.&lt;br /&gt;Konsep ini relevan dengan konsep konseling seperti yang dikemukakan dalam teorinya Adler dan Behavioral yang menegaskan bahwa pribadi yang benar terhadap lingkungan adalah pribadi yang mempu berhubungan baik dengan lingkungan, juga berbuat sesuatu guna mengolah lingkungan menjadi baik, minimal tidak membuat sesuatu yang bisa merusak lingkungan, sehingga tercipta lingkungan yang kondusif bagi kehidupan.&lt;br /&gt;d. Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Allah Swt.&lt;br /&gt;Pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan Allah Swt. adalah pribadi yang selalu meningkatkan keimanannya yang dibuktikan dengan melaksanakan ibadah dengan benar dan ikhlas, menjalankan muamalah dengan benar dan dengan niat yang ikhlas. Di samping itu juga pribadi yang mampu menjalankan secara seimbang diri sebagai abidullah yang selalu beribadah sesuai tuntunan-Nya, juga menjalankan fungsi dan kedudukannya sebagai khalifatullah dengan baik (hablun minallah dan hablun minannas) sehingga dari segi kehidupan dunianya sejahtera, amal akhiratnya berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;Keterngan ini tidak dijelaskan dalam konsep konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pribadi Tidak Sehat&lt;br /&gt;Pribadi tidak sehat pada hakikatnya adalah pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungan dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan Allah Swt.&lt;br /&gt;a. Tidak Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Diri Sendiri&lt;br /&gt;Pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri adalah pribadi yang akal dan kalbunya tidak berfungsi dengan baik dalam mengendalikan nafsu, sehingga nafsu berbuat sekehendaknya, penuh emosi, tidak terkendali dan tidak bermoral, tidak mampu membebaskan diri dari kecemasan (al khauf), sedang kecemasan itu sendiri terlahir dari perbuatan dosa baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia, ta’ashub yaitu tidak terbuka terhadap pengalaman, tidak mengakui pengalaman dengan tidak bertanggung jawab, dan yang lebih parah lagi adalah berkepribadian munafik, riya yaitu beramal hanya untuk dilihat orang lain, kurang memiliki kesadaran diri dan tidak konstruktif, tidak pandai bertawakkal, rendah diri (ya’uus ) dan putus asa (qunuut).&lt;br /&gt;Konsep ini relevan dengan konsep konseling yang menegaskan bahwa pribadi yang tidak mampu mengatur hubungan dengan diri sendiri itu memiliki ciri-ciri kepribadian sebagai berikut: ego tidak berfungsi penuh, tidak serasinya antara id, ego, dan superego, dikuasai kecemasan, tidak terbuka terhadap pengalaman, tidak mengakui pengalaman atau tidak bertanggung jawab, inkongruen, sumber evaluasi eksternal, kurangnya kesadaran diri, tidak konstruktif, terbelenggu ide tidak rasional (tuntutan kemutlakan), serta rendah diri putus asa.&lt;br /&gt;b. Tidak Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Orang Lain&lt;br /&gt;Pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan orang lain adalah pribadi yang bakhil dalam arti egois dan tidak mau menyumbang atau membelanjakan hartanya di jalan kebajikan, tidak mau saling menolong (ta’awun), memiliki sifat marhun dan takabbur yaitu sifat sombong dan merasa diri lebih besar dan berharga daripada orang lain, su’us zhan (berfikir negatif), tajassus yaitu suka mencari-cari kesalahan orang lain, ghibah yaitu menggunjing sesama, kufur nikmat, enggan melakukan amar ma’ruf nahi munkar, gemar melakukan riba, memperoleh harta dengan jalan batil, yaitu perbuatan yang cendrung hanya menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Konsep ini relevan dengan konsep konseling yang menerangkan bahwa pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan orang lain adalah pribadi yang egois dan tidak mau menyumbang, memandang diri sendiri baik sedang orang lain jelek (I’m ok your are not ok), berpikiran negatif terhadap orang lain, ketidak mampuan menyesuaikan diri secara psikologis, memenuhi kebutuhan sendiri dengan mengorbankan (merampas) hak orang lain.&lt;br /&gt;c. Tidak Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Lingkungan&lt;br /&gt;Pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan lingkungan adalah pribadi yang tidak mampu berinteraksi dengan lingkungannya secara baik, sehingga ia tidak peduli dengan kerusakan lingkungan, atau ikut berbuat sesuatu yang bisa merusak lingkungannya, sekaligus tidak mampu membuat lingkungannya menjadi kondusif bagi kehidupan.&lt;br /&gt;Konsep ini relevan dengan konsep konseling yang menerangkan bahwa pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan lingkungan adalah pribadi yang tidak bisa membangun hubungan baik dengan alam atau kosmos, dan ikut berperilaku yang bisa merusak lingkungan..&lt;br /&gt;d. Tidak Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Allah Swt.&lt;br /&gt;Pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan Allah adalah pribadi yang kufur dan syirik. Pribadi kufur adalah pribadi yang tidak beriman dan enggan menjalankan syari’at Allah (hukum-hukum Allah), termasuk juga sebagai kufur orang yang dengan sengaja tidak mau menjalankan ibadah kepada Allah Swt. yaitu ibadah-ibadah yang diwajibkan kepadanya untuk dilaksanakan, atau tidak menerima dengan syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah (kufur nikmat). Dalam melakukan muamalah orang yang memiliki kepribadian kufur cenderung berlaku zhalim, mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan hak orang lain. Di samping kekufuran, kesalahan yang sangat fatal terhadap Allah Swt. adalah syirik.&lt;br /&gt;Kemudian, pribadi yang tidak sehat terhadap Allah adalah pribadi yang tidak mampu memungsikan diri secara seimbang antara diri sebagai abidullah dan sebagai khalifah, baik hanya mengutamakan urusan keduniaan dan ibadah tertinggalkan, atau lebih mengutamakan ibadah dan urusan keduniaan tertinggalkan.&lt;br /&gt;Konsep ini tidak diterangkan dalam konsep konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;1. Kesimpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil kajian dan pembahasan yeng telah dikemukakan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut .&lt;br /&gt;a. Konsep konseling tentang hakikat manusia, pribadi sehat, dan pribadi tidak sehat berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an, secara umum relevan dengan konsep konseling, hanya istilah penamaan atau terminologi yang berbeda, namun maksudnya selaras.&lt;br /&gt;b. Al Qur’an menerangkan bahwa manusia pada hakikatnya tidak hanya sebagai makhuk biologis, pribadi, dan sosial, tetapi juga sebagai makhluk religius. Begitu juga dengan pribadi sehat dan tidak sehat, tidak hanya mampu atau tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan, tetapi juga terhadap Alah Swt.&lt;br /&gt;c. Satu hal yang berbeda secara mendasar, yaitu sifat pembawaan dasar manusia. Konsep konseling seperti yang dikemukakan oleh Freud menyatakan bahwa potensi dasar manusia yang merupakan sumber penentu kepribadian adalah insting. Sebaliknya, menurut kandungan ayat-ayat Al Qur’an bahwa potensi manusia yang paling mendasar adalah fitrah, yaitu nilai-nilai keimanan untuk beragama kepada agama Allah yang selalu menuntut untuk diaktualisasikan.&lt;br /&gt;d. Menurut kandungan ayat-ayat Al Qur’an, manusia itu pada hakikatnya adalah makhluk yang utuh dan sempurna, yaitu sebagai makhuk biologis, pribadi, sosial, dan makhluk religius (At Tin: 4). Manusia sebagai makhluk religius meliputi ketiga komponen lainnya, yaitu manusia sebagai makhluk biologis, pribadi dan sosial selalu terikat dengan nilai-nilai religius.&lt;br /&gt;2. Saran&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan, konsep konsling tentang hakikat manusia, pribadi sehat dan pribadi tidak sehat berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an ini bukan merupakan konsep yang sudah lengkap dan final dan dapat mewakili nilai kandungan ayat-ayat Al Qur’an secara utuh, maka untuk melengkapi dan menyempurnakan kajian ini disarankan kepada peneliti lain untuk meneruskan menggali dan meneliti konsep konseling berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an ini, baik memperluas atau memperdalam kajian dalam topik yang sama, atau meneruskan kepada konsep-konsep konseling yang lain, seperti proses terapiotik atau aplikasi prosedur dan teknik konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adz-Dzaky, H.B. Psikoterapi &amp; Konseling Islam (Penerapan Metode Sufistik).Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancok, J. &amp;amp; Suroso, F.N. Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As Shiddiqy, TM. Tafsir Al Qur’an Al Majied: An Nur. Jakarta: Bulan Bintang, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bastaman, H.D. Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bishop, D.R. 1992 Religius Values as Cross-Cultural Issues in Counseling. Counseling and Values, (36): 179-191,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogdan, R.C. &amp; Biklen, S.K. Riset Kualitatif Untuk Pendidikan: Pengantar ke Teori dan Metode. Terjemahan Munandir. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direkturat Jenderal Pendidikan Tinggi, 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brian, J. Zinnbauer and Kenneth I. Pergement. 2000. Working With The Sacred: Four Approaches to Religious and Spiritual Issues in Counseling. Journal of Counseling &amp;amp; Development. (78): 162-170.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corey, G. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Edisi ke-5. Monterey, California: Brooks/Cole Publishing Company, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cottone, R.R. Theories and Paradigms of Counseling and Psychotherapy. Boston: Allyn and Bacom, 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Agama RI. Al Qur’an dan Terjemahnya. Proyek Pengadaan Kitab Suci Al Qur’an Pelita IV / Tahun I, 1984/1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Tafsirnya. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gania, V. 1994. Scular Psychotherapists and Religious Clients: Profesional Consideration and Recommendations. Journal of Counseling and Development. (72): 395-398.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gilliland, B.E., James, K.R., Bowman,J.T. Theories and Strategie in Counseling and Pasychotherapy. Boston: Allyn and Bacom, 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hall, C.H., Lindzey, G. Theories of Personality. New York: John Wiley &amp; Sons, INC., 1970.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail, M. Shahih Al-Bukhari, Juz. 1 – 4. Istambul Turki: Al-Maktabah Al-Islami, 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kivlighan, Jr, D.M. and Shaughnessy, P. 1995.Analysis of the Development of the Working Alliance Using Hierarchical Linear Modeling. Journal of Counseling Psychology 42: 338–349.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moleong, L.J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munawwir, A.W. Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir, 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madjid, N. Beberapa Renungan Kehidupan Keagamaan Untuk Generasi Mendatang. Dalam Effendy, E.A (Ed.). Dekonstruksi Islam Mazhab Ciputat (hlm.9-58). Bandung: Zaman Wacana Mulia, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muzhahiri, H. Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani. Terjemahan Ahmad Subandi: PT. Lentera Basritama, 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujib, A. &amp;amp; Mudzakir, J.. Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nelson-Jones. Counseling and Personality: Theory and Practice. Australia: Allen &amp;amp; Unwin Pty Ltd., 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidarta,M. 1999. Studi tentang Landasan Kependidikan. Jurnal Filsafat, Teori, dan Praktik Kependidikan. (26): 3-15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rachman, B.M. Dari Tahapan Moral Ke Periode Sejarah (Pemikiran Neo-Modernisme Islam Di Indonesia. Dalam Effendy, E.A (Ed.). Dekonstruksi Islam Mazhab Ciputat (hlm.99-141). Bandung: Zaman Wacana Mulia, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya, Fatchurrahman, Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islam. Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1993.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-5958535697473946734?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/5958535697473946734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=5958535697473946734&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/5958535697473946734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/5958535697473946734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2007/09/konsep-konseling-berdasarkan-ayat-ayat.html' title='KONSEP KONSELING BERDASARKAN AYAT-AYAT AL QUR’AN TENTANG HAKIKAT MANUSIA, PRIBADI SEHAT, DAN PRIBADI TIDAK SEHAT'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-3293013423010438226</id><published>2007-09-05T09:49:00.000+07:00</published><updated>2007-09-05T09:51:43.559+07:00</updated><title type='text'>HAKIKAT MASALAH DAN PENDEKATANNYA (PERSPEKTIF AL-QURAN)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;HAKIKAT MASALAH DAN PENDEKATANNYA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;(PERSPEKTIF PSIKOLOGI KONSELING DAN AL-QUR’AN)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Oleh: Abdul Hayat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a name="_ftnref1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn1" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol; color: blue;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;ABSTRAK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Masalah biasanya dartikan sebagai suatu kesenjangan, ketidaksesuaian, atau ketidak cocokkan antara ide dan kenyataan, antara yang seharusnya dengan fakta yang ada, atau antara keinginan dan harapan dengan realitas yang terjadi.Dalam paparan ini ini mencoba mengenal hakikat masalah tersebut dan bagaimana pendekatannya atau menghadapinya menurut pandangan psikologi konseling dan keterangan Al-Qur’an sehingga masalah itu tidak mengganggu kesetabilan kepribadian kita. Perspektif psikologi konseling (&lt;i&gt;Rational Emotive Therapy&lt;/i&gt;), masalah pada hakikatnya bukan terletak pada suatu peristiwa yang terjadi, tetapi justru pada keyakinan yang tidak rasional. Perspektif Al-Qur’an, bahwa masalah itu merupakan cubaan atau ujian dari Allah kepada setiap manusia, baik berupa kesusahan dan keburukan, maupun kebaikan atau kenikmatan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 85.05pt; text-align: justify; text-indent: -85.05pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kata-kata kunci: Hakikat Masalah, Perspektif Psikologi Konseling, Perspektif Al-Qur’an&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;A. PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Semua manusia yang hidup di dunia pasti bermasalah, sebab hidup sendiri adalah bagian dari masalah, oleh karena itu seyogyanya kita hidup jangan takut dengan masalah tetapi kita mencoba memahami masalah yang ada dan menghadapinya secara rasional dan realistis. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Masalah biasanya dartikan sebagai suatu kesenjangan, ketidaksesuaian, atau ketidak cocokkan antara ide dan kenyataan, antara yang seharusnya dengan fakta yang ada, atau antara keinginan dan harapan dengan realitas yang terjadi, dengan kata lain terjadinya sesuatu yang tidak dinginkan, seperti dikemukakan oleh Arikunto, yaitu sesuatu yang tidak beres, dalam arti tidak atau belum sesuai dengan kondisi yang seharusnya&lt;a name="_ftnref2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn2" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;. Dalam&lt;i&gt; Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/i&gt; diterangkan bahwa masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan), soal, atau persoalan&lt;/span&gt;&lt;a name="_ftnref3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn3" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol; color: blue;" lang="IN"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;. Apapun namanya, umumnya masalah itu terjadi tidak dikehendaki dan bahkan menyakitkan, sehingga bagi sebagian kita yang yang tidak mampu mengenali hakikat masalah dan tidak tahu cara menghadapinya dengan baik maka ia akan mengganggu kesetabilan pribadi, dan terjadilah pribadi bermasalah, malasuai, maladaptif, dan sejenisnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dalam paparan saya kali ini mencoba mengenal hakikat masalah tersebut dan bagaimana pendekatannya atau menghadapinya menurut pandangan psikologi konseling dan keterangan Al-Qur’an sehingga masalah itu tidak mengganggu kesetabilan kepribadian kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Judul yang saya kemukakan di atas memang terlalu muluk, saya maksudkan dengan perspektif psikologi konseling disini hanya satu bagian kecil teori pendekatan konseling yang berkembang, begitu juga dengan Al-Qur’an, hanya bagian kecil dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mampu dikemukakan dengan pemahaman yang sangat minim. Semoga bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;B. HAKIKAT MASALAH DAN PENDEKATANNYA (PERSPEKTIF&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;PSIKOLOGI KONSELING)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ada banyak teori dan pendekatan psikologi yang diterapkan dalam konseling, paling tidak ada sembilan teori yang sekarang ini sangat populer yaitu &lt;i&gt;Psychoanalytic Therapy (Sigmund Freud), Adlerian Therapy, Existential Therapy, Person Centered Therapy (Rogers), Gestalt Therapy, Transactional Analysis, Behavior Therapy, Rational Emotive Therapy&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Reality.Therapy&lt;/i&gt;. Masing-masing teori ini memandang hakikat masalah dalam sisi yang berbeda-beda begitu juga dengan pendekatan yang ditawarkan, namun maksudnya sama yaitu bagaimana agar masalah itu tidak mengganggu keseimbangan peribadi secara berlebihan.Pada sajian kali ini, saya akan mengemukakan secara singkat pandangan teori &lt;i&gt;Rational Emotive Therapy&lt;/i&gt; dengan tokoh utamanya Albert Ellis.&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;1. Hakikat Masalah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Menurut pendekatan ini, manusia itu memiliki tiga potensi pokok, yaitu; (a) potensi berpikir, baik yang rasional atau lurus maupun yang tidak rasional atau bengkok, (b) kecendrungan untuk menjaga kelangsungan keadaan dirinya, keberadaannya, kebahagiaan, kesempatan memikirkan dan mengungkapkannya dengan kata-kata, mencintai, berkomunikasi dengan orang lain, serta terjadinya pertumbuhan dan aktualisasi diri, (c) memiliki dorongan dari dalam dirinya untuk merusak diri sendiri, menghindar dari memikirkan sesuatu, menunda-nunda, berulang-ulang melakukan kekeliruan, percaya pada takhayul, tidak memiliki tenggang rasa, menjadi perfeksionis, menyalahkan diri sendiri, dan menghindari adanya aktualisasi potensi pertumbuhan yang dimilikinya&lt;/span&gt;&lt;a name="_ftnref4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn4" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol; color: blue;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pada hakikatnya bahwa manusia itu tidak sempurna, yaitu memiliki potensi positif dan negatif, maka teori ini berusaha untuk menolong mereka untuk mau menerima dirinya sebagai makhluk yang akan selalu membuat kesalahan namun pada saat yang bersamaan juga bisa belajar hidup damai dengan dirinya sendiri. Dengan kata lain orang dapat belajar mengubah pikiran mereka sehingga pikiran mereka menjadi positif dan tidak tertekan&lt;/span&gt;&lt;a name="_ftnref5"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn5" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol; color: blue;" lang="IN"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;asalah atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;gangguan emosional berasal dari: (a) kita mempelajari keyakinan yang tidak rasional adalah dari orang lain yang signifikan pada masa kanak-kanak, (b) kita sendirilah yang menciptakan dogma dan takhayul (&lt;i&gt;superstitions&lt;/i&gt;) yang tidak rasional itu, kemudian (c) secara aktif kita menamkan kembali keyakinan keliru itu dengan jalan memproses sugesti pada diri sendiri (&lt;i&gt;autosuggestion&lt;/i&gt;) dan pengulangan sendiri (&lt;i&gt;self-repetition&lt;/i&gt;)&lt;a name="_ftnref6"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn6" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jadi yang menjadikan sikap disfungsional tetap hidup dan beroperasi dalam diri kita adalah karena sebagian besar pengulangan yang kita buat sendiri terhadap pikiran tidak rasional yang diindoktrinasikan kepada kita dulu, bukan pengulangan dari orang tua.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Masalah yang mengganggu kepribadian seperti duka, menyesal, dan frustasi hakikatnya adalah merupakan hasil pemikiran &lt;i&gt;irasional&lt;/i&gt;. Kualitas irasionalnya berasal dari tuntutan agar dunia ini &lt;i&gt;seharusnya, seyogyanya&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;harus berbeda&lt;/i&gt;.yang bersifat mutlak Jadi masalah itu bukan peristiwa yang terjadi, tetapi pada pemikiran kita tentang hal yang terjadi itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Berikut ini adalah beberapa ide tidak rasional yang kita internalisasi dan yang pasti membawa ke penggagalan diri &lt;a name="_ftnref7"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn7" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;a. Saya harus dicintai atau diterima oleh semua orang penting dalam hidup saya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;b. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Saya harus melakukan tugas penting secara kompeten dan sempurna.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;c. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Oleh karena saya sangat menginginkan agar orang memperlakukan saya dengan penuh pengertian dan jujur, maka mereka mutlak harus berbuat seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;d. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Apabila saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan maka itu merupakan hal yang sangat tidak menyenangkan dan saya tidak tahan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;e. Lebih mudah menghindari kesulitan hidup dan pertanggungan jawab dari pada melakukan suatu bentuk disiplin diri yang menjanjikan keuntungan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ellis menggambarkan hakikat masalah ini dengan konsep berikut: &lt;i&gt;Activating event &lt;/i&gt;(A), &lt;i&gt;Belief&lt;/i&gt; (B) dan &lt;i&gt;Emotional Consequence&lt;/i&gt; (C), yang dikenal dengan teori A-B-C.&lt;a name="_ftnref8"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn8" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Diagram berikut ini akan menjelaskan interaksi dari ketiga komponen tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:24.6pt;"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/max-3/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" shapes="_x0000_i1025" border="0" height="12" width="33" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:24.6pt;height:9pt'/"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/max-3/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" shapes="_x0000_i1026" border="0" height="12" width="33" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;A &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;(&lt;i&gt;Activating event&lt;/i&gt;) &lt;b&gt;B&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;belief&lt;/i&gt;) &lt;b&gt;C &lt;/b&gt;(&lt;i&gt;emotional and behavioral consequence&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;A, adalah keberadaannya fakta, suatu peristiwa, atau perilaku atau sikap seorang individu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;B, yaitu keyakinan si pribadi pada (A), pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;C adalah konsekuensi emosi dan perilaku ataupun reaksi si individu; reaksi itu bisa cocok, bisa juga tidak.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Peristiwa yang sedang berjalan pada (A) tidak menjadi penyebab pada (C/konsekuensi emosi), melainkan (B/keyakinan si pribadi pada A) yang banyak menjadi penyebabnya. Misalnya, apabila seseorang mengalami depresi setelah bercerai dengan suami/isterinya, mungkin bukan perceraian (A) itu sendiri yang menjadi penyebab reaksi dalam bentuk depresi, tetapi keyakinan si individu (B) bahwa ia gagal, merasa ditolak, atau kehilangan sangan yang menjadi enyebabnya&lt;a name="_ftnref9"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn9" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;2. Pendekatan yang Dilakukan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pendekatan yang dilakukan setelah mengetahui hakikat masalah ini adalah melakukan &lt;i&gt;disputing intervention (&lt;/i&gt;meragukan /membantah) (D) terhadap keyakinan dan pemikiran yang tidak rasional pada (B) agar berubah kepada keyakinan, pemikiran dan falsafah rasional yang baru (E), sehingga lahir (F) yaitu perangkat perasaan yang baru. Kita tidak lagi merasakan cemas yang sungguh-sungguh atau merasa tertekan, melainkan kita merasakan segala sesuatu sesuai dengan situasi yang ada.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Teori ABC dan pendekatannya DEF dari Ellis ini kalau digambarkan dalam bentuk bagan kurang lebih demikian:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 24pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:96.6pt;height:9pt'/"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/max-3/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_i1027" border="0" height="12" width="129" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1028" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:46.2pt;height:9pt'/"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/max-3/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image003.gif" shapes="_x0000_i1028" border="0" height="12" width="61" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 24pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;A B C&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 24pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1029" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:9pt;height:38.4pt'/"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/max-3/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image004.gif" shapes="_x0000_i1029" border="0" height="51" width="12" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;(&lt;i&gt;activating event&lt;/i&gt;) (&lt;i&gt;belief&lt;/i&gt;) (&lt;i&gt;emotional and behavioral consequence&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1030" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:45pt;height:9pt'/"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/max-3/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image005.gif" shapes="_x0000_i1030" border="0" height="12" width="60" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1031" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:60pt;height:9pt'/"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/max-3/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image006.gif" shapes="_x0000_i1031" border="0" height="12" width="80" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;D E&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; ) &lt;b&gt;F &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;(&lt;i&gt;disputing intervention&lt;/i&gt;) (&lt;i&gt;effect&lt;/i&gt;) (&lt;i&gt;new feeling&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Setelah A, B, dan C maka munculah D,E, dan F.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;D, adalah yang meragukan /membantah (disputing intervention). Pada isensinya merupakan aplikasi dari metode ilmiah untuk menolong klien menantang keyakinan irasional mereka. Ellis dan Bernard (1986) melukiskan tiga komponen dari proses meragukan/membantah ini: (1) mendeteksi, (2) memperdebatkan, (3) dan mendiskriminasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;, klien belajar caranya mendeteksi keyakinan irasional mereka, terutama kemutlakan &lt;i&gt;seharusnya&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;harus&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;sifat berlebihan&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;pelecehan&lt;/i&gt; &lt;i&gt;pada diri-sendiori&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;, klien memperdebatkan keyakinan yang disfungsional itu dengan belajar cara mempertanyakan semuanya itu secara logis dan empiris dan dengan sekuat tenaga mempertanyakannya pada diri sendiri serta berbuat untuk tidak mempercayainya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; klien belajar untuk mendiskriminasi keyakinan yang irasional dan yang rasionil.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;E, adalah falsafah efektif, yang memiliki segi praktis. Falsafah rasional yang baru dan efektif terdiri dari menggantikan pikiran yang tidak pada tempatnya dengan yang cocok. Apabila kita berhasil dalam melakukan ini, kita juga menciptakan F.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;F, adalah perangkat perasaan yang baru. Kita tidak lagi merasakan cemas yang sungguh-sungguh atau merasa tertekan, melainkan kita merasakan segala sesuatu sesuai dengan situasi yang ada. Sebab cara yang paling baik untuk memulai merasa labih baik adalah mengembangkan falsafah yang efektif dan rasionil. Jadi, orang tidak lalu menyalahkan diri sendiri serta menghukum diri sendiri berupa depresi karena terjadinya perceraian, melainkan orang akan mencari kongklusi yang rasionil dan berdasarkan empiri: “Baiklah, saya benar-benar menyayangkan karena perkawinan kita tidak berjalan mulus dan harus bercerai. Meskipun saya ingin kita bisa menyelesaikan berbagai masalah, ternyata kita tidak menyelesaikannya, tetapi dunia tidak akan kiamat karenanya. Oleh karena perkawinan kita gagal tidak lalu berarti bahwa saya orang yang gagal dalam hidup ini, dan amatlah bodoh kalau saya terus-menerus menyalahkan diri saya sendiri dan mengatakan saya yang bertanggung jawab atas perceraian itu”. Menurut teori ini, akibat akhir adalah meminimalkan perasaan depresi dan mengutuk diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Menurut Ellis (1988) secara singkat restrukturisasi filosofis untuk bisa mengubah kepribadian kita yang disfungsional mencakup langkah-langkah berikut: (1) mengakui sepenuhnya bahwa kitalah yang bertanggung jawab atas terciptanya masalah yang kita alami; (2) mau menerima pendapat bahwa kita memiliki kemampuan untuk secara signifikan mengubah gangguan-gangguan ini; (3) mengakui bahwa masalah emosional kita banyak berasal dari keyakinan yang irasional; (4) dengan jelas mengamati keyakinan ini; (5) melihat nilai dari sikap meragukan keyakinan yang bodoh itu, dengan menggunakan metode yang tegas; (6) menerima kenyataan bahwa apabila kita mengharapkan adanya perbaikan kita sebaiknya kerja keras dengan cara emotif behavioral untuk mengadakan kontra aksi terhadap keyakinan kita itu dan perasaan serta perbuatan yang disfungsional yang mengikutinya; dan (7) mempraktekkan metode terapi rasional emotif untuk mencabut atau mengubah konsekuensi yang mengganggu itu di sisa kehidupan kita. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pribadi yang sehat adalah pribadi yang memiliki dua kapasitas berikut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;a. Pribadi yang mampu berpikir secara rasional,.sebab apabila kita mampu berpikir secara rasional dalam menghadapi segala pristiwa maka kita tidak akan mengalami tekanan, memusuhi, mengasihani diri &lt;a name="_ftnref10"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn10" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;. Dengan kata lain, dengan penolakan keyakinan-keyakinan irasional yang dilakukan dengan cara berpikir logis-empirik dapat meminimalkan atau bahkan memperbaiki emosi yang malasuai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Adz-Dzaky, H.B. 2001. &lt;i&gt;Psikoterapi &amp; Konseling Islam (Penerapan Metode Sufistik).&lt;/i&gt;Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -35.45pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Al-Gazali, 1989. &lt;i&gt;Ihya ‘Ulumuddin&lt;/i&gt;. Beirut: Darul fikri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Al-Maraghi M., 1993. &lt;i&gt;Tafsir Al-Maraghi, Juz 4&lt;/i&gt;. Darul Fikri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Arikunto.S. 1995 &lt;i&gt;Manajemen Penelitian&lt;/i&gt;, Jakarta: PT.Renika Cipta,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Corey, G. 1996. &lt;i&gt;Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy&lt;/i&gt;. Edisi ke-5. Monterey, California: Brooks/Cole Publishing Company.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Cottone, R.R. 1992. &lt;i&gt;Theories and Paradigms of Counseling and Psychotherapy. &lt;/i&gt;Boston: Allyn and Bacom.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Departemen Agama RI. 1984/1985. &lt;i&gt;Al Qur’an dan Terjemahnya.&lt;/i&gt; Proyek Pengadaan Kitab Suci Al Qur’an Pelita IV / Tahun I.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Depdikbud, 1990. &lt;i&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/i&gt;, Jakarta: Balai Pustaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Latipun, 2001. &lt;i&gt;Psikologi Konseling.&lt;/i&gt; Malang: Universitas Muhammdiyah Malang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Munawwir, A.W. 1994. &lt;i&gt;Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Madjid, N. 1997. &lt;i&gt;Kaki Langit Peradaban Islam.&lt;/i&gt; Jakarta: Penerbit Paramadina. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Shihab, M.Q. 1996.&lt;i&gt; Wawasan Al Qur’an.&lt;/i&gt; Penerbit Mizan. Khazanah Ilmu-Ilmu Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref1" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Adalah Dosen Fakultas tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: left; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="right"&gt;&lt;a name="_ftn2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref2" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Arikunto.S. &lt;i&gt;Manajemen Penelitian&lt;/i&gt;, (Jakarta: PT.Renika Cipta, 1995) h.28.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref3" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; Depdikbud, &lt;i&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/i&gt;, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990) h. 562.&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref4" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Corey, G., &lt;i&gt;Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy&lt;/i&gt;. Edisi ke-5. (Monterey, California: Brooks/Cole Publishing Company, 1996) h.320.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;4&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; Cottone, R.R., &lt;i&gt;Theories and Paradigms of Counseling and Psychotherapy. (&lt;/i&gt;Boston: Allyn and Bacom, 1992) h. 114&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: left; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="right"&gt;&lt;a name="_ftn6"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="_ftn5"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref6" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Corey, Op cit, hal 321&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn7"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref7" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;" lang="IN"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; Corey, G., &lt;i&gt;Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy&lt;/i&gt;. Edisi ke-5. (Monterey, California: Brooks/Cole Publishing Company, 1996) h.323.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn8"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref8" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Cottone, R.R., &lt;i&gt;Theories and Paradigms of Counseling and Psychotherapy. (&lt;/i&gt;Boston: Allyn and Bacom, 1992) h. 114&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn9"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref9" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;" lang="IN"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Corey, G., &lt;i&gt;Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy&lt;/i&gt;. Edisi ke-5. (Monterey, California: Brooks/Cole Publishing Company, 1996) h.323.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn10"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref10" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;" lang="IN"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; Corey, G., &lt;i&gt;Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy&lt;/i&gt;. Edisi ke-5. (Monterey, California: Brooks/Cole Publishing Company, 1996) h.464.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn11"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref11" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;"&gt;10 Madjid, N., &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kaki Langit Peradaban Islam.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; (Jakarta: Penerbit Paramadina1997) h.51 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn12"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref12" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;"&gt;11&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Al-Maraghi M., &lt;i&gt;Tafsir Al-Maraghi, Juz 4&lt;/i&gt;. Darul Fikri, 1993) h.62.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn13"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref13" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;"&gt;12 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Al-Gazali, &lt;i&gt;Ihya ‘Ulumuddin&lt;/i&gt;. Beirut: Darul fikri, 1989) h.122.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;13 Shihab, M.Q.,&lt;i&gt; Wawasan Al Qur’an.&lt;/i&gt; (Penerbit Mizan. Khazanah Ilmu-Ilmu Islam, 1966). H.562.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;14 Munawwir, A.W., &lt;i&gt;Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia&lt;/i&gt;. (Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir, 1994) h.1532.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn16"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="_ftn14"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="_ftn15"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref16" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;"&gt;15 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Munawwir, A.W., &lt;i&gt;Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia&lt;/i&gt;. (Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir, 1994) h.415&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn17"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref17" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;"&gt;16 Ibid, h. 1148.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn18"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref18" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;"&gt;17 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Munawwir, A.W., &lt;i&gt;Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia&lt;/i&gt;. (Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir, 1994) h.1147.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;18 Ibid, h. 482&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="_ftn20"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="_ftn19"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftnref20" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: blue;"&gt;19 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Al-Maraghi M., &lt;i&gt;Tafsir Al-Maraghi, Juz 4&lt;/i&gt;. (Darul Fikri, 1993) h.199.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;b. Mau menerima diri kita sendiri meskipun ada ketidak sempurnaan pada diri kita. Jadi apapun adanya yang terjadi pada diri kita, kemampuan kita, kita terima dengan perasaan, sikap dan tindakan yang wajar. Misalnya, menurut teori ini bahwa orang tidak perlu harus diterima dan dicintai, meskipun hal itu merupakan yang sangat diinginkan. Jadi tuntutan harus yang bersifat mutlak itu tidak perlu selalu dikuti dan dipenuhi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.3pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sedang pribadi yang tidak sehat adalah pribadi yang terbelenggu oleh ide tidak rasional dan suka menyalahkan diri sendiri maupun orang lain. Menurut teori ini bahwa menyalahkan merupakan inti dari sebagian besar gangguan emosional&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;C. HAKIKAT MASALAH DAN PENDEKATANNYA (PERSPEKTIF&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;AL-QUR’AN).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;1. Hakikat Masalah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Menurut beberapa keterangan ayat Al-Qur’an bahwa masalah itu tidak lain adalah sebuah cobaan atau ujian dari Allah Swt. Kepada manusia sebagai hamba-Nya. Semua manusia pasti menghadapi masalah, sebab Allah telah memberikan beberapa ujian atau cobaan kepada hamba-hamba-Nya dengan beberapa hal. Antara lain seperti diterangkan dalam firman Allah berikut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Firman Allah Swt.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0in -0.1pt 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in -0.1pt 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan (kecemasan), kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (Q.S.Al-Baqarah;155).&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Masalah yang pada hakikatnya adalah cobaan atau ujian dari Allah kepada para manusia (hamba-Nya) yang harus diterima dan diatasi dengan baik dan benar, tidak hanya hal-hal yang menyakitkan atau yang pada umumnya tidak disenangi, tetapi juga bisa berupa cobaan yang baik, sesuatu yang menyenangkan dan dikehendaki umumnya manusia, seperti kekayaan, kedudukan yang tinggi, jabatan yang empuk, dan sebagainya, dan hal seperti inipun hakikatnya juga masalah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Firman Allah Swt.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0in 0.25in 0.0001pt 0in; text-align: justify; text-indent: -18.1pt; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;ولَنبلونكم بالشر والخير فتنة والينا ترجعون (الانبياء:35)&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan (QS. Al-Anbiya:35).&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;2. Pendekatan yang Dilakukan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dalam beberapa isyarat ayat Al-Qur’an bahwa dalam menghadapi masalah yang dihadapi baik masalah itu berupa cobaan yang menyakitkan atau buruk maupun cobaan yang baik, juga dengan berpikir rasional, yaitu dengan memfungsikan akal secara maksimal. Potensi akal yang dimiliki manusia memang mampu mengatasi masalah yang dihadapi apabila ia digunakan atau difungsikan secara baik, bahkan dengan akal pula manusia mampu berkarya dan mengelola alam semesta ini. Keterangan Al Qur’an tentang potensi akal yang dimiliki manusia dalam Al-Qur’an banyak sekali disebutkan, dengan akal inilah manusia mampu hidup berkembang, mengelola diri dan dunianya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Menurut Taymiyah, kata &lt;i&gt;‘aql&lt;/i&gt; adalah &lt;i&gt;mashdar&lt;/i&gt; (kata benda-kerja, &lt;i&gt;verbal noun&lt;/i&gt;) dari kata kerja &lt;i&gt;aqala-ya’qulu&lt;/i&gt;, yang berarti “menggunakan &lt;i&gt;akal&lt;/i&gt;” atau “berpikir”, dan yang dimaksudkan dengan &lt;i&gt;akal &lt;/i&gt;ialah pembawaan naluri atau gharizah yang diciptakan Allah dalam diri manusia, yang dengan naluri itu ia berpikir.&lt;a name="_ftnref11"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn11" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Diantara ayat-ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang &lt;i&gt;akal&lt;/i&gt; antara lain sebagai berikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan (Q.S. Al-Baqarah: 164).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Melihat keterangan ayat di atas dapat dikatakan bahwa &lt;i&gt;akal&lt;/i&gt; adalah daya pikir yang ada pada manusia yang mampu digunakan untuk mengelola isi alam dengan segala pristiwanya. Al-Maraghi dalam tafsirnya juz 2, menerangkan ayat di atas bahwa pada semua gejala itu terdapat petunjuk bagi orang-orang yang berpikir untuk mengetahui watak dan rahasia-rahasianya. Dengan demikian dapat dibedakan antara yang bermanfaat dan membahayakan, disamping dapat diketahui betapa teliti dan halusnya kekuasaan Maha Pencipta. Akhirnya akan sampai pada kesimpulan bahwa yang menciptakan semua ini berhak untuk disembah dan ditaati. Dalam hal ini tentunya termasuk segala cobaan dan ujian yang dihadapinya.&lt;a name="_ftnref12"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn12" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;11&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kesempurnaan alam semesta dengan segala &lt;i&gt;sunnatullah&lt;/i&gt; (hukum alam) yang berlaku dan diciptakan Allah untuk kepentingan hidup manusia merupakan lahan yang harus dipikirkan dan diolah oleh manusia dengan kemampuan akalnya untuk kemakmuran manusia sendiri. Firman Allah Swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 24pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 24pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkan (Q.S. Al Hadid: 17).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu memahaminya (Q.S.Al-Baqarah: 242).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Potensi akal sangat besar artinya bagi kehidupan manusia, sebab dengan akal maka manusia mampu memahami ayat-ayat Allah Swt., baik ayat-ayat Allah yang diciptakan-Nya berupa alam semesta ini (&lt;i&gt;ayat kauniah&lt;/i&gt;), maupun ayat-ayat Allah yang difirmankan-Nya berupa kitab-kitab suci yang memuat firman-Nya (&lt;i&gt;ayat qauliah&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Al-Gazali menerangkan, fungsi akal kepada dua hal yaitu: (1) mengetahui hakikat segala sesuatu. Dalam hal ini akal mengibaratkan sifat ilmu yang terletak di hati, (2) yang menangkap dan mendapat segala ilmu. Kekuatan akal yang dimiliki oleh manusia inilah yang bisa membuat manusia mampu menmgatasi masalah atau mengelola dirinya dan alam sebagai lingkungannya&lt;a name="_ftnref13"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn13" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;12&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;, sebagaimana dikemukakan oleh Syihab, bahwa daya akal memungkinkan manusia memiliki kemampuan mengembangkan ilmu dan teknologi, serta memahami dan memanfaatkan &lt;i&gt;sunnatullah.&lt;/i&gt; Karena memiliki akal inilah manusia merupakan makhluk yang berkembang dan berbudaya&lt;a name="_ftnref14"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn14" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;13&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Aktivitas &lt;i&gt;akal&lt;/i&gt; dalam proses berpikir rasional dalam Al Qur’an juga disebut dengan beberapa istilah, yaitu: &lt;i&gt;nazhara, tadabbur, tafakkur, tafaqquh&lt;/i&gt;,dan &lt;i&gt;tadzakkur&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Nazhara&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;, secara bahasa berarti melihat, memandang, merenungkan, memikirkan dan mempertimbangkan&lt;a name="_ftnref15"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn15" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;14&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;, yang dimaksud adalah melihat sambil memikirkan berbagai obyek ciptaan Allah yang nampak terlihat, seperti manusia sendiri, binatang, tumbuh-tumbuhan, gunung, bumi dan langit dan sebagainya. Firman Allah Swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan (Q.S. At-Thariq:5).&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-left: 35.45pt; text-align: right; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ , وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ, وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ, وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan?, dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?, dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (Q.S. Al-Ghasyiah:17-20).&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Tadabbur,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; menurut bahasa berarti memikirkan, mempertimbangkan&lt;a name="_ftnref16"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn16" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;15&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;, maksudnya adalah memikirkan tentang ayat-ayat Allah yang difirmankannya yaitu isi kandungan Al Qur’an. Firman Allah Swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا ءَايَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran (Q.S.Shaad:29).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0in -0.05pt 0.0001pt 0in; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci? (Q.S. Muhammad:24).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tafakkur,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; menurut bahasa artinya memikirkan&lt;a name="_ftnref17"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn17" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;16&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;, maksudnya adalah memikirkan berbagai pristiwa dan berbagai keunikan ciptaan Allah, sehingga timbul kesadaran akan kebesaran dan keagungan Allah Swt. Firman Allah Swt.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0in -0.05pt 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ. ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan (Q.S. An-Nahl:68-69).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tafaqquh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;, artinya mengerti, memahami&lt;a name="_ftnref18"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn18" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;17&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;, maksudnya memahami perintah dan larangan Allah (Agama) untuk diamalkan dalam kehidupan. Firman Allah Swt.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0in -0.05pt 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan juang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (Q.S. At-Taubah: 122).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tadzakkur&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;, artinya mengingat&lt;a name="_ftnref19"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn19" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;18&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;, maksudnya mengingat kebesaran Allah dalam kaitan dengan berbagai kesempurnaan ciptaan-Nya sambil memikirkan dan mengambil pelajaran. Firman Allah Swt.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak menciptakan (apa-apa)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. An-Nahl:17).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah (Q.S. Adz-Dzariyat:49).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Di samping manusia memiliki akal dan mampu berpikir rasional, tetapi ada juga manusia yang tidak mau menggunakan akalnya secara maksimal, mereka cenderung berpikir tidak rasional, sehingga Allah mengumpamakan orang yang tidak memfungsikan akalnya dengan benar sebagai binatang yang sangat buruk. Firman Allah Swt.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; page-break-after: avoid;" align="right"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُون&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun (Q.S. Al-Anfaal: 22).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pada sisi yang lain ada pula manusia dengan akal dan kepandaian yang dimiliki sehingga merasa besar diri terlalu mengagungkan akal dan kemampuannya menjadikannya sesat dan tidak mau menerima kebenaran dari Allah atau menyimpang dari &lt;i&gt;fitrahnya. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Firman Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Q.S. Al-Baqarah: 75). &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jadi pribadi yang sehat itu adalah pribadi yang mau menggunakan akal untuk berpikir rasional secara maksimal dalam menghadapi masalah yang terjadi. Al Qur’an juga melarang menuruti ide-ide yang tidak rasional seperti kata pasti, tahayul, dan keyakinan yang bersifat muthlak, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Beberapa petunjuk Al Qur’an yang cukup rasional dalam mendekati permasalahan, antara lain sebagai berikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;1. Menyadari bahwa tidak semua usaha dan ikhtiyar kita selalu sukses dan berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan, sebab manusia banyak memiliki keterbatasan, sehingga sebaiknya kita gunakan prinsif &lt;i&gt;Insya’ Allah&lt;/i&gt; (jika Allah berkenan) dalam setiap usaha dan tindakan, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Firman Allah Swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا, إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi. Kecuali (dengan menyebut): “Insya-Allah” Ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kepada kebenarannya ini (Q.S. Al Kahfi: 23-24).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;2. Meyakini bahwa disamping kesusahan pasti ada kemudahan. Firman Allah Swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ, وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan ) yang lain (Q.S. Al-Insyirah: 5-8).&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;3. Disamping kegagalan pasti akan ada keberuntungan, asal berusaha dengan sungguh sungguh. Firman Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hari-hari (keberhasilan dan kegagalan) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) (Q.S. Ali-Imran: 140).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;4. Meyakini bahwa apapun yang menimpa pada diri atau yang terjadi di alam ini dibalik semuanya ada hikmahnya. Firman Allah Swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0in -0.05pt 0.0001pt 0in; text-align: right; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;ربَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (Q.S. Ali-Imran: 191).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;5. Bersikap sabar dalam menghadapi masalah. Firman Allah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0in -0.05pt 0.0001pt 0in; text-align: right; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (Q.S.Al-Baqarah;155).&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;6. Mengembalikan segala sesuatu kepada kekuasaan Allah dengan selalu tawakkal kepada Allah dalam setiap melakukan usaha dan tindakan. Firman Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: right; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang bertawakal kepada-Nya (Q.S. Ali-Imran: 159).&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0in -0.05pt 0.0001pt 0in; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. Al-Anfal: 49).&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;َ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sikap tawakal bukanlah sikap pasrah, menyerah, dan hanya menunggu kemurahan Allah, tetapi yang dimaksud adalah setelah melalui usaha manusia yang sungguh-sungguh, berencana dan memiliki perhitungan yang mantap, setelah itu baru menyerahkan urusannya kepada yang Maha Menentukan yaitu Allah Swt. Imam A-Razi dalam Al Maraghi juz 4, menerangkan bahwa pengertian &lt;i&gt;tawakkal&lt;/i&gt; bukan berarti manusia melupakan andil dirinya, tetapi hendaklah seseorang dalam berusaha selalu memperhatikan sebab-sebab lahiriyah yang bisa mengantarkannya ke arah keberhasilan. Hanya saja janganlah percaya penuh terhadap sebab-sebab lahiriyah tersebut, bahkan ia harus berkeyakinan bahwa yang dilakukannya hanyalah untuk memelihara hikmah Ilahi semata &lt;a name="_ftnref20"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7880515451667880397#_ftn20" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;19&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Orang yang &lt;i&gt;tawakal &lt;/i&gt;dalam hidupnya apabila ternyata kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan akan bisa tabah dan sabar menerimanya, sebaliknya apabila tercapai kesuksesan atau sesuai harapan dan kenyataan maka ia tidak mabuk dalam kegembiraan, sebab mereka yakin bahwa semua yang dilakukan itu tidak terlepas dari &lt;i&gt;sunanatullah&lt;/i&gt; yang berlaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;D. PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Berdasarkan beberapa uraian yang telah dipaparkan, maka penulis tutup dengan beberapa kesimpulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;1. Perspektif psikologi konseling (&lt;i&gt;Rational Emotive Therapy-Albert Ellis&lt;/i&gt;), masalah pada hakikatnya bukan terletak pada suatu peristiwa yang terjadi, tetapi justru pada keyakinan yang tidak rasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;2. Keyakinan yang tidak rasional itu bisa berupa tuntutan-tuntutan kemutlakan dan tahayul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;3. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan berpikir secara rasional untuk membantah dan memperdebatkan berbagai keyakinan yang irasional, sehingga timbul falsafah baru yang rasional dan realistis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;4. Perspektif Al-Qur’an, bahwa masalah itu merupakan cubaan atau ujian dari Allah kepada setiap manusia, baik berupa kesusahan dan keburukan, maupun kebaikan atau kenikmatan, dimana manusia akan mendapatkan keberuntungan apabila mampu menerima dan mengatasi cobaan tersebut secara baik dan benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;5. Disamping berpikir rasional dengan memfungsikan akal secara maksimal dalam mendekati masalah, ada beberapa ide yang ditawarkan Al-Qur’an, yaitu: prinsip insya Allah bahwa segala usaha dan ikhtiyah tidak mesti akan selalu sesuai dengan harapan, meyakini bahwa disamping kesusahan pasti akan ada kemudahan, kesusahan dan keberuntungan akan selalu bergulir dalam kehidupan, segala yang terjadi pasti ada hikmahnya, bersikap sabar, dan sikap tawakkal kepada Allah Swt. Atas segala usaha yang telah dilakukan dengan sungguh-sungguh, terencana, dan penuh perhitungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-3293013423010438226?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/3293013423010438226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=3293013423010438226&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/3293013423010438226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/3293013423010438226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2007/09/hakikat-masalah-dan-pendekatannya.html' title='HAKIKAT MASALAH DAN PENDEKATANNYA (PERSPEKTIF AL-QURAN)'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-2844013794643463058</id><published>2007-06-01T23:30:00.000+07:00</published><updated>2007-06-01T23:34:19.164+07:00</updated><title type='text'>PERAN HIPNOTERAPI DALAM BIDANG KESEHATAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Sejarah Hipnoterapi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Hipnoterapi sampai saat ini masih terus berkembang yang dimulai sejak abad ke-18, mulai dari konsep hypnosis konvensional yang dikembangkan oleh Dr. James Braid sampai dengan hipnoterapi klinis modern yang dikembangkan oleh &lt;i&gt;Dr. Milton H. Erickson&lt;/i&gt; sampai terakhir-terakhir yang dikembangkan oleh &lt;i&gt;Dr. Dave Elman, Gill Boyne &lt;/i&gt;maupun &lt;i&gt;DR. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Calvin Banyan&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;Dr. Milton H. Erickson&lt;/i&gt; pertama kali memperkenalkan bahwa jiwa manusia sangat unik. Tidaklah mudah meminta orang untuk secara langsung menghilangkan kebiasaan buruk yang ingin dia tinggalkan. Seperti kita menyampaikan nasihat kepada seseorang yang mengeluh karena dia mempunyai masalah, “Sekarang kamu dapat menyelesaikannya”,  atau seseorang yang mempunyai masalah perilaku lalu kita berikan nasihat, “Sekarang perilaku anda sudah berubah menjadi baik”. Belum tentu dia akan merubah perilakunya dengan segera. Mungkin ya, untuk sementara, tetapi biasanya kebiasaan itu akan kembali lagi. Apalagi jika kita tidak mengetahui akar permasalahannya mengapa dia berperilaku demikian, tidak mengetahui nilai dasar dan keinginan sebenarnya yang dimiliki orang tersebut. Ingat, jiwa manusia sangat kompleks, setiap orang mempunyai jiwa dan nilai yang unik. Perilaku atau respons seseorang tidak sama dalam menghadapi peristiwa yang berbeda. Bahkan sangat mungkin sekali untuk peristiwa yang sama, perilaku atau respons seseorang yang sama dapat berbeda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Hal inilah yang dikembangkan Erickson menuju metode hipnoterapi yang lebih efektif. Berkat jasanya dalam mengembangkan metode-metode dalam melakukan terapi klinis dengan metode hipnoterapi, maka pada tahun 1950-an hipnoterapi diakui oleh Asosiasi Medis Amerika sebagai metode terapi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Paska &lt;i&gt; Milton H. Erickson&lt;/i&gt;, metode ini berkembang terus sampai dengan metode yang berorientasi kepada pasien. Saat ini, metode ini lebih efektif digunakan apalagi digabungkan dengan pola komunikasi yang telah dikembangkan Erickson. Metode ini telah banyak dipergunakan oleh para terapist terkenal seperti &lt;i&gt;Gill &lt;/i&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i&gt;Boyne&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i&gt;,  Mary Lee LaBay, maupun Calvin Banyan&lt;/i&gt; dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Dasar Dasar hipnotis &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Pikiran bawah sadar manusia menyimpan misteri yang luar biasa. Banyak hal yang menyangkut manusia bersumber dari berbagai data dan nilai yang tersimpan di pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar tidak saja terkait dengan perilaku dan mental, tetapi lebih jauh lagi pikiran bawah sadar dapat merubah metabolisme, mempercepat penyembuhan, atau bahkan memperburuk suatu kondisi penyakit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Hypnotherapy adalah suatu metode dimana pasien dibimbing untuk melakukan relaksasi, dimana setelah kondisi relaksasi dalam ini tercapai maka secara alamiah gerbang pikiran bawah sadar sesesorang akan terbuka lebar, sehingga yang bersangkutan cenderung lebih mudah untuk menerima sugesti penyembuhan yang diberikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Secara konvensional, Hypnotherapy dapat diterapkan kepada mereka yang memenuhi persyaratan dasar, yaitu : (1). Bersedia dengan sukarela (2). Memiliki kemampuan untuk fokus (3). Memahami komunikasi verbal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Untuk memahami Hypnosis atau Hypnotherapy secara mudah dan benar, sebelumnya kita harus memahami bahwa aktivitas pikiran manusia secara sederhana dikelompokkan dalam 4 wilayah yang dikenal dengan istilah Brainwave, yaitu : Beta, Alpha, Theta, dan Delta&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Beta&lt;/b&gt; adalah kondisi pikiran pada saat sesorang sangat aktif dan waspada. Kondisi ini adalah kondisi umum ketika seseorang tengah beraktivitas normal. Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 14 – 24 Cps (diukur dengan perangkat EEG)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Alpha&lt;/b&gt; adalah kondisi ketika seseorang tengah fokus pada suatu hal (belajar, mengerjakan suatu kegiatan teknis, menonton televisi), atau pada saat seseorang dalam kondisi relaksasi. Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 7 – 14 Cps. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Theta&lt;/b&gt; adalah kondisi relaksasi yang sangat ekstrim, sehingga seakan-akan yang bersangkutan merasa “tertidur”, kondisi ini seperti halnya pada saat seseorang melakukan meditasi yang sangat dalam. Theta juga gelombang pikiran ketika seseorang tertidur dengan bermimpi, atau kondisi REM (Rapid Eye Movement). Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 3.5 – 7 Cps&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Delta&lt;/b&gt; adalah kondisi tidur normal (tanpa mimpi). Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 0.5 – 3.5 Cps&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Kondisi Hypnosis sangat mirip dengan kondisi gelombang pikiran Alpha dan Theta. Yang sangat menarik, bahwa kondisi Beta, Alpha, dan Theta, merupakan kondisi umum yang berlangsung secara bergantian dalam diri kita. Suatu saat kita di kondisi Beta, kemudian sekian detik kita berpindah ke Alpha, sekian detik berpindah ke Theta, dan kembali lagi ke Beta, dan seterusnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Pada saat setiap orang menuju proses tidur alami, maka yang terjadi adalah gelombang pikiran ini secara perlahan-lahan akan menurun mulai dari Beta, Alpha, Theta, kemudian Delta dimana kita benar-benar mulai tertidur. Perpindahan wilayah ini tidak berlangsung dengan cepat, sehingga sebetulnya walaupun seakan-akan seseorang sudah tampak tertidur, mungkin saja ia masih berada di wilayah Theta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Pada wilayah Theta seseorang akan merasa tertidur, suara-suara luar tidak dapat didengarkan dengan baik, tetapi justru suara-suara ini didengar dengan sngat baik oleh pikiran bawah sadarnya, dan cenderung menjadi nilai yang permanen, karena tidak disadari oleh “pikiran sadar” yang bersangkutan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Penggunaan Hipnotis dalam Bidang Kedokteran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Seorang yang sakit secara medis, mau sembuh atau tidak mau mengikuti saran dokternya atau tidak, tergantung pada pasien sendiri. Sehebat apapun dokternya, apabila pasien tidak menuruti apa kata dokternya, tentunya sulit untuk sembuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam kasus-kasus tertentu yang bersifat medis, hipnoterapi &lt;b&gt;BUKAN &lt;/b&gt;suatu bentuk &lt;b&gt;ALTERNATIF&lt;/b&gt; dari pengobatan,  tetapi menjadi suplemen terhadap proses penyembuhannya.  Sehingga jika secara medis masalah tersebut masih memerlukan pengobatan secara medis maka masih tetap dibutuhkan seorang dokter untuk memberikan obatnya. Seorang hypnotherapist membantu dalam masalah mentalnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt; Metode hipnoterapi modern dengan orientasi kepada pasien lebih banyak berperan untuk ‘&lt;i&gt;membuka&lt;/i&gt;’ kesadaran pasien untuk mengetahui masalah utamanya dan membantu pasien untuk menyembuhkan atau menyelesaikan masalahnya oleh dia sendiri. Pasien menjadi lebih merasa nyaman dengan kondisinya dan dapat menerima kondisinya, sehingga tidak mengganggu aktivitasnya atau kegiatannya sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Hipnotis kedokteran telah mengalami banyak perkembangan sejak pertama kali diterapkan oleh dr Franz Anton Mesmer (1734-1815) dan dr James Braid (1795-1860). Pada 1955, &lt;i style=""&gt;The British Medical Association&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; mengakui hipnotis sebagai salah satu terapi medis yang sahih. Sementara &lt;i&gt;The American Medical Association&lt;/i&gt; mengakuinya sejak 1958.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Hipnotis kedokteran kini terbagi atas &lt;b style=""&gt;hipnopromosi&lt;/b&gt; (meningkatkan kesehatan dengan hipnotis bagi orang sehat), &lt;b style=""&gt;hipnoprevensi&lt;/b&gt; (mencegah gangguan kesehatan dengan hipnotis bagi orang sehat), &lt;b style=""&gt;hipnoterapi&lt;/b&gt; (penyehatan dengan hinotis bagi orang sakit), serta masih ada hipnotis untuk rehabilitasi bagi orang cacat. Hipnotis juga digunakan di bidang kebidanan (&lt;b style=""&gt;hypnobirthin&lt;/b&gt;g) dan kedokteran gigi (&lt;b style=""&gt;hypnodontics&lt;/b&gt;).&lt;br /&gt;Hipnoterapi merupakan salah satu bentuk psikoterapi dalam dunia psikiatri. Namun demikian, hipnoterapi juga bisa digunakan pada pasien nonpsikiatrik. Pengobatan model ini bisa digabungkan dengan jenis pengobatan lainnya. Banyak dokter terutama ahli bedah dan anestesi yang terlatih dalam masalah hipnoterapi. Demikian pula dokter gigi serta para perawat. Sayangnya, hingga kini masih banyak orang yang enggan menjalani hipnoterapi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pasien sebagai subjek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Orang yang dihipnotis sebenarnya tidak dalam keadaan tidur sesungguhnya. Walaupun menggunakan perintah berupa kata 'tidur', kata itu tidak membuat pasien tidur sesungguhnya. Pasien tetap dalam keadaan awake, serta mampu mengobservasi perilakunya selama dalam keadaan hipnotis. Ia menyadari segala sesuatu yang diperintahkan serta dapat menolak sesuatu yang bertentangan dengan keinginan atau norma-norma umum. Selain itu, sebelum proses ini dilakukan, telah ada kesepakatan antara pasien dengan penghipnotis untuk melakukan hipnoterapi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Melakukan hipnoterapi terhadap pasien sama halnya dengan melakukan terapi lainnya. Pasien harus tahu persis mengapa diperlukan bantuan hipnotis dalam terapinya, serta keunggulan apa yang didapatkan dibandingkan model terapi lainnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Proses hipnoterapi juga harus dilakukan dengan jelas, terbuka, dan tanpa paksaan. Sebelum melakukan hipnotis, pasien harus terlebih dahulu menjalani pemeriksaan fisik, dan bila perlu disusul dengan menjalani pemeriksaan laboratorium (darah, urine, dll).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Terapis sebagai fasilitator dan pasien sebagai subjek perlu menjalani kerjasama yang baik sebelum proses hipnotis dimulai. Pemahaman pasien akan masksud dan tujuan hipnoterapi merupakan kunci efektifitas terapi. Karena itu diperlukan informasi yang jelas dan pemahaman yang sama. Hal ini bertujuan agar persepsi yang terbentuk dalam tingkat sadar sejalan dengan persepsi bawah sadar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut dr Erwin Kusuma SpKJ, pasien hipnotis berperan sebagai subjek. Ini berarti pasienlah yang menentukan apa yang akan dilakukan. Sementara penghipnotis hanya berperan sebagai fasilitator. Bila sudah terampil, lanjut dosen hipnotis kedokteran FKUI ini, pasien tidak perlu lagi peran fasilitator sehingga hipnotis bisa dilakukan sendiri (autohipnotis).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada tingkat bawah sadar, pasien tetap sepenuhnya memiliki kendali terhadap kemauannya sendiri sehingga ia tidak mungkin dipengaruhi di luar kesadarannya. ''Ini yang sering disalah mengerti oleh orang awam,'' ungkap lulusan Psikiatri Anak dan Remaja FKUI tahun 1982 itu. Berbeda dengan magnetisme dimana pasien berfungsi sebagai obyek (sasaran) yang dikendalikan, baik untuk tujuan terapi maupun untuk hal-hal negatif seperti untuk merampok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Relaksasi Mendalam sebagai Teknik Hipnosis Modern&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hipnotis di masa lalu indentik dengan kondisi tidur, terbaring, atau tidak bergerak. Pada masa kini, hipnotis lebih ditekankan pada kondisi relaksasi yang dalam, baik secara fisik maupun mental. Saat ini dikenal beberapa keadaan hipnotis seperti moving meditation, hypnoidal state, serta automatic writing, dimana pasien melakukan aktivitas bawah sadar dalam bentuk gerakan atau tindakan yang dikendalikan oleh niat.&lt;br /&gt;Psikolog pada Pusat Hipnotis Kedokteran RSPAD Gatot Subroto (pusat hipnotis kedokteran pertama di Indoneisa) Dra Psi Adjeng Lasmini mengatakan, pada hipnotis, pasien diajak untuk relaks secara fisik dan mental dengan memusatkan perhatian melalui sarana fiksasi berupa suara, tatapan, dan sentuhan secara berulang dan monoton. Ini membuat pasien merasa semakin santai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam kondisi hipnotis, lanjutnya, sugesti positif yang ditanamkan disusun dalam kalimat yang sederhana. Karena pada kondisi ini kemampuan seseorang untuk merangkum kalimat demi kalimat mengalami penurunan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seperti terapi lainnya, hipnotis juga dapat menimbulkan efek samping.&lt;br /&gt;Seperti dikatakan dr Erwin Kusuma SpKJ, program yang ditanamkan dalam hipnoterapi harus positif. Ini mengingat pasien tidak memiliki kemampuan merangkum (sintesis) karena kecerdasan jasmaninya menurun. Bila hal ini tidak diperhatikan, bukan tidak mungkin akan muncul hasil yang tidak diinginkan, seperti timbul abreaksi (keluarnya rekaman bawah sadar secara serentak, seperti kekesalan dan kesedihan, sehingga ungkapan dan tindakan pasien tidak terkendali).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kasus yang Dapat Ditangani dengan Hipnoterapi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kasus seperti apa saja yang bisa mendapatkan hipnoterapi? &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Erwin mengungkapkan, pasien dengan kasus kecemasan dan fobia adalah yang paling sering mendapatkan hipnoterapi. Bagi pasien yang mengalami gangguan kecemasan sehingga cemas pula untuk menelan obat, hipnoterapi adalah tindakan yang utama.&lt;br /&gt;Gangguan kesehatan bioplasmik (aura dan chakra), ungkap Erwin, sudah tentu harus diatasi dengan hipnoterapi. Ini karena obat-obatan kimia tidak mampu mencapai bioplasmik tersebut. Gangguan kesehatan bioplasmik dapat dilihat dari menurunnya ketahanan mental maupun fisik, serta berbagai bentuk alergi. Hipnoterapi juga dilakukan untuk pasien dengan gangguan psikosomatik. Sedangkan untuk gangguan fisik murni (somatik), hipnoterapi berperan sebagai penunjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kasus kebutaan histerik, yakni kebutaan yang timbul setelah mengalami trauma psikis, juga dapat diobati dengan hipnoterapi. Seperti halnya jenis terapi lainnya, harus ada indikasi (alasan) untuk menggunakan hipnoterapi. Selain itu, terapi jenis ini digunakan bila manfaatnya lebih besar dari pada kerugian yang mungkin timbul.&lt;br /&gt;Lebih lanjut, hipnoterapi mempunyai manfaat sebagai berikut: Pada anak-anak, hipnoterapi dapat menghilangkan kebiasaan buruk seperti gigit kuku, menghisap jari, gagap, ngompol, alergi/kulit merah-merah. Hipnoterapi juga diterapkan pada pasien autisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada pasien dewasa, hipnoterapi dapat menghilangkan kebiasaan buruk seperti masturbasi, merokok, judi, insomnia, penyakit kulit, kleptomania, phobia, trauma pskologis (kekerasan, perkosaan), serta dapat mempercepat penyembuhan ketergantungan narkoba. Di samping itu juga dapat membantu mengatasi luka bakar, melenyapkan timbulnya kutil, serta mampu menyembuhkan penyakit seperti asma, sinusitis, arthritis, mabuk laut, gangguan menstruasi, tekanan dfarah yinggi, stroke, impotensi, mengatasi rasa sakit (kasus kanker, persalinan, dan cabut gigi).&lt;br /&gt;Hipnotis juga digunakan untuk mengatasi kecemasan bawah sadar sehingga pasien mampu untuk menghadapi realitas, seperti pada kasus phobia, cemas, gangguan psikomatik, ataupun kebiasaan buruk (bad habits)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di bidang psikologi belajar, hipnotis dapat diarahkan untuk mengingkatkan konsentrasi, daya ingat, kreatifitas, ataupun kesiapan menghadapi ujian. Sementara di bidang industri, hipnotis bermanfaat untuk meningkatkan mutu SDM sehingga diharapkan mampu menghadapi situasi kompetitif dan efektif dalam menjalani tugas. arp&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kasus : Penurunan Rasa Nyeri dengan Hipnosis &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Otak dan pikiran manusia masih menyimpan jutaan misteri dengan sedemikian banyak fenomena yang luar biasa. Selama ini banyak orang telah mengetahui bahwa hypnosis dapat dimanfaatkan untuk menurunkan nyeri. Namun demikian belum diketahui secara jelas bagaimana mekanisme kerja hypnosis dalam tubuh manusia terutama otak. Tampaknya, apabila kita dapat menjelaskan lebih dalam secara ilmiah maka hal itu akan makin mendorong peneriman masyarakat dan aplikasinya di banyak area praktek klinik.&lt;br /&gt;Hal itu pula yang mendorong Sebastian Schulz-Stubner, M.D.,Ph.D dan rekan-rekannya, para peneliti dari University of Iowa dan The Technical University of Aachen, Jerman, untuk melakukan penelitian lebih dalam tentang pengaruh hypnosis pada otak manusia. Mereka mencoba menggunakan Magnetic Resonance Imaging untuk mendapatkan gambaran bagaimana hypnosis merubah aktivitas otak sebagai cara untuk menurunkan nyeri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Mereka mendapatkan bahwa para relawan yang diberikan tehnik hypnosis mengalami penurunan nyeri yang signifikan terhadap rangsang nyeri panas. Mereka juga mendapati secara jelas perbedaan pola aktivitas otak dibandingkan saat relawan tidak dihipnosis selama mendapatkan rangsang nyeri. Perubahan aktivitas otak tersebut menggambarkan bahwa hypnosis memutuskan signal nyeri dari aliran saraf yang menuju bagian otak yang mempersepsikan nyeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Menurut Schulz-Stubner yang utama dari penemuan mereka, dimana MRI pertama kali digunakan untuk meneliti aktivitas otak saat hypnosis untuk menekan nyeri, adalah mereka melihat adanya penurunan aktivitas di daerah jaringan nyeri (pusat persepsi nyeri) dan peningkatan aktivitas pada area otak lainnya saat hypnosis. Peningkatan tersebut bisa spesifik bisa juga tidak tetapi jelas melakukan sesuatu hal yang menurunkan atau menghambat signal nyeri masuk ke struktur kortikal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Jaringan nyeri berfungsi seperti system relay. Input signal nyeri berasal dari saraf perifer di daerah dimana rangsang nyeri diberikan, kemudian masuk ke dalam spinal cord dimana informasi diproses dan disalurkan ke dalam batang otak. Dari sini signal menuju area otak tengah dan akhirnya masuk ke dalam korteks otak yang berkaitan dengan persepsi sadar terhadap stimulus eksternal seperti nyeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Proses yang terjadi pada jaringan nyeri bagian bawah gambarannya terlihat sama antara saat kondisi hypnosis ataupun tidak, namun pada kondisi hypnosis aktivitasnya menurun pada daerah atas (korteks) yang berperan terhadap persepsi nyeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Awalnya, 12 relawan dibagi menjadi 2 grup dimana tiap relawan akan diberikan stimulus menggunakan benda panas pada kulit mereka sampai mereka merasakan nyeri skala 8 (pada rentang skala nyeri 0-10). Pada grup pertama dilakukan hypnosis lebih dahulu, kemudian relawan ditempatkan dalam MRI dan dilakukan scaning aktivitas otak pada saat stimulus nyeri diberikan. Kemudian kondisi hypnosis dihentikan, MRI melakukan scaning lagi saat relawan diberikan stimulus nyeri tanpa hypnosis. Pada grup kedua dilakukan proses yang sebaliknya. Relawan dilakukan scaning saat menerima stimulus tanpa hypnosis lebih dahulu, baru kemudian discaning saat kondisi hypnosis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Hypnosis berhasil menurunkan nyeri pada semua relawan. Mereka semua melaporkan tidak merasakan nyeri atau nyeri berkurang secara signifikan (dibawah nilai skala 3). Saat kondisi hypnosis MRI menunjukkan aktivitas otak menurun pada area persepsi nyeri yang meliputi daerah korteks ( primary sensory cortex). Pada dua struktur otak yang lain : korteks cingulated anterior kiri dan basal ganglia terlihat gambaran yang berbeda dengan adanya peningkatan aktivitas otak. Para peneliti memperkirakan peningkatan aktivitas pada dua area otak tersebut merupakan bagian dari jalur penghambat yang memutus signal agar tidak ditangkap oleh struktur kortikal yang lebih tinggi yang bertugas mempersepsikan nyeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Schulz-Stubner mencatat bahwa detail MRI yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi secara pasti area yag terlibat saat hypnosis menurunkan nyeri dan berharap adanya MRI generasi yang lebih baru yang bisa memberikan jawaban lebih banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bagaimanapun penelitian ini patut menjadi perhatian dan mendapatkan apresiasi karena setidaknya telah menjadi bagian kecil dari penjelasan dan gambaran ilmiah tentang proses hypnosis dalam menurunkan rasa nyeri. (Story Source : University of Iowa Health Science Relations&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Adiyanto. 2007, H&lt;b&gt;ipnosis penurunan rasa nyeri&lt;/b&gt; Pengamatan Efek Hypnosis Pada Otak Melalui Brain Imaging. &lt;a href="http://www.ibh.com/"&gt;www.ibh.com&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt; line-height: 150%;"&gt;Chamber, &lt;st1:place&gt;Bradford&lt;/st1:place&gt;. 2005. &lt;i style=""&gt;How to hypnotize&lt;/i&gt;. Stravon Publisher : &lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;New   York&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt; line-height: 150%;"&gt;Murphy, Joseph. 1997. The power of Your Subconscious Mind (&lt;i style=""&gt;terjemahan&lt;/i&gt;) spektrum : &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt; line-height: 150%;"&gt;McDonald F.,&lt;span style="font-size: 28pt; line-height: 150%; color: white;"&gt; &lt;/span&gt;2006, &lt;i style=""&gt;Hypnotherapy Applications in Pain Management&lt;/i&gt;. &lt;a href="http://www.fmcdonald.com/"&gt;www.fmcdonald.com&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt; line-height: 150%;"&gt;McDonald F.&lt;span style="font-size: 28pt; line-height: 150%; color: white;"&gt; &lt;/span&gt;2006 Hypnotherapy in Substance Use Treatment. &lt;a href="http://www.fmcdonald.com/"&gt;www.fmcdonald.com&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt; line-height: 150%;"&gt;Purwanto, S. 2007&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hipnoterapi (&lt;i style=""&gt;Suplemen Kuliah.&lt;/i&gt; Tidak diterbitkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;berikan comment anda&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8288181941230044256-2844013794643463058?l=setiyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setiyo.blogspot.com/feeds/2844013794643463058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8288181941230044256&amp;postID=2844013794643463058&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/2844013794643463058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8288181941230044256/posts/default/2844013794643463058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setiyo.blogspot.com/2007/06/peran-hipnoterapi-dalam-bidang.html' title='PERAN HIPNOTERAPI DALAM BIDANG KESEHATAN'/><author><name>Setiyo Purwanto. S. Psi, Psi, MSi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15154972823150947469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_IZbcaJriM8k/S6umibwoYDI/AAAAAAAAAKU/_IRPM6_Ia-g/S220/IMG_7211.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8288181941230044256.post-711618881749192016</id><published>2007-05-22T19:47:00.000+07:00</published><updated>2007-05-22T19:55:16.556+07:00</updated><title type='text'>membangun komunikasi efektif</title><content type='html'>&lt;p style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;5 Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication) yang kami kembangkan dan rangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH, yang berarti merengkuh atau meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1. Respect&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;Hukum pertama dalam &lt;u&gt;mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan&lt;/u&gt;.&lt;br /&gt;Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bahkan menurut mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan &lt;u&gt;penghargaan yang jujur dan tulus&lt;/u&gt;. Seorang ahli psikologi yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa "Prinsip paling dalam pada &lt;u&gt;sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai&lt;/u&gt;." Dia mengatakan ini sebagai suatu kebutuhan (bukan harapan ataupun keinginan yang bisa ditunda atau tidak harus dipenuhi), yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu rasa lapar manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan. Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati ini akan menggenggam orang dalam telapak tangannya.&lt;br /&gt;Charles Schwabb, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar yang dia miliki adalah kemampuannya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain. Dan cara untuk membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal terbaik adalah dengan memberi penghargaan yang tulus. Hal ini pula yang menjadi satu dari tiga rahasia manajer satu menit dalam buku Ken Blanchard dan Spencer Johnson, The One Minute Manager.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;3: Humble&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Hukum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah &lt;u&gt;sikap rendah hati&lt;/u&gt;. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah&lt;br /&gt;hati yang kita miliki. Dalam edisi Mandiri 32 Sikap Rendah Hati pernah kita bahas, yang pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani (dalam bahasa pemasaran Customer First Attitude), sikap menghargai, mau mendengar&lt;br /&gt;dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan pada lima hukum pokok komunikasi yang efektif ini, maka kita dapat menjadi seorang komunikator yang handal dan pada gilirannya dapat membangun jaringan hubungan dengan orang lain yang penuh dengan penghargaan (respect), karena inilah yang dapat membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dan saling menguatkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;3: Empathy&lt;br /&gt;Empati adalah kemampuan kita &lt;u&gt;untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain.&lt;/u&gt; &lt;u&gt;Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain.&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus Covey menaruh kemampuan untuk mendengarkan sebagai salah satu dari 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti (Seek First to Understand -&lt;br /&gt;understand then be understood to build the skills of empathetic listening that inspires openness and trust). Inilah yang disebutnya dengan &lt;u&gt;Komunikasi Empatik&lt;/u&gt;. Dengan memahami dan mendengar orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu dalam ilmu pemasaran (marketing) memahami perilaku konsumen (consumer's behavior) merupakan keharusan. Dengan memahami perilaku konsumen, maka kita dapat empati dengan apa yang menjadi kebutuhan, keinginan, minat, harapan dan kesenangan dari konsumen. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi lainnya, misalnya komunikasi dalam membangun kerjasama tim. Kita perlu saling memahami dan mengerti keberadaan orang lain dalam tim kita. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun teamwork.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan ataupun umpan balik apapun dengan sikap yang positif. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Oleh&lt;br /&gt;karena itu dalam kegiatan komunikasi pemasaran above the lines (mass media advertisi
